
Jadi Johans Alois juga menjadi korban dalam peristiwa Gedoran? aku mulai penasaran. Ingin kubahas dengan Jordan, tapi sepertinya dia sedang asyik dengan ponselnya. Ini menarik. Aku semakin tak sabar ingin menggali lebih dalam.
" Kalau hari minggu begini, biasanya ngapain aja, Bang?"
"Tidak ada. Stay di rumah saja sambil mengerjakan pekerjaan di sekolah yang belum selesai. Selebihnya ya tidur, hehehehe. Jadwalku sudah padat setiap harinya. Mengajar di sekolah senin sampai Jumat. Lalu Jumat sore dan Sabtu aku mengajar di La Vita. Kamu sendiri kalau hari minggu begini biasanya ngapain?" aku balik bertanya.
"Biasanya saya ke menghabiskan waktu bersama komunitas musisi jalanan, Bang. Saya mengajari mereka bermain musik atau membaca dan menulis bagi yang belum bisa baca tulis atau apa ketrampilan apa saja yang bermanfaat buat mereka."
"Wow...Sangat mulia! Next time, ajak aku ya ke komunitas itu! pasti seru!"
"Boleh. Tentu saja. Oh ya, Abang suka lontong sayur? saya mau pesan lontong sayur buat sarapan," Jordan mulai sigap memainkan aplikasi pada ponselnya untuk memesan makanan.
"Suka. Aku suka semua makanan. Apalagi lontong sayur. Mau lontong sayur Betawi atau lontong sayur Padang, pokoknya sikat!!!!"
"Hahahahaha. Setuju Bang. Makanan Indonesia memang gak ada lawan deh kalau dibandingkan sama makanan luar negeri. Dan faktor makanan juga yang membuat saya betah tinggal di sini. Semua makanan dan jajanan nusantara yang saya suka sejak kecil tersedia semua."
***
" By the way, dari peristiwa tragis yang menimpa keluarga leluhurmu saat terjadi peristiwa Gedoran dan juga tragedi yang menimpa keluarga Van Kemmers, terdapat kesamaan ya?" aku mencoba memecah keheningan melihat Jordan yang nampak begitu fokus melahap lontong sayur di hadapannya.
"Apa itu, Bang?"
__ADS_1
"Kedua peristiwa itu sama-sama terjadi saat mereka sedang menikmati santap malam. Keluarga leluhurmu yaitu Opa Frans Winhern dan anak istrinya diculik paksa ketika sedang makan malam. Lalu keluarga Van Kemmers juga. Mereka diculik oleh penjahatnya saat makan malam. Benar-benar tragis. Aku tidak bisa membayangkan, momen makan malam adalah momen di mana anggota keluarga berkumpul untuk menikmati makanan sambil bercengkrama dan berbagi cerita. Tapi kemudian, semuanya mendadak berubah menjadi ketakutan yang luar biasa. Menjadi momen makan malam terakhir dengan keluarga dan setelah itu semuanya berganti dengan perpisahan dan kesedihan."
"Ya...Benar sekali, Bang!"
"Sudah, Bang. Jangan melow begitu. Semua sudah suratan takdir. Kita sendiri tidak akan pernah tahu, akhir hidup kita akan seperti apa. Makanya saya selalu ingat pesan Opa dan Oma untuk jangan pernah berhenti untuk berbuat baik. Di mana pun dan kapanpun. Karena kebaikan yang kita lakukan, apapun itu, yang nantinya akan menolong kita di sana."
Aku hanya mengangguk dan kembali melahap suapan terakhir. Fix. Ini lontong sayur Betawi yang paling enak yang pernah kucicipi. Anak muda blasteran ini selain pandai bermain musik juga memiliki selera yang tinggi terhadap makanan.
"Oh ya, kalau tidak keberatan, boleh aku kembali ke ruang arsip? aku masih penasaran dengan berita tempo dulu tentang keluarga Van Kemmers.
"Tentu saja boleh. Silahkan!" jawab Jordan mantap.
Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Mulai dari ruang makan hingga ruang tengah. Noura tidak terlihat dari tadi aku bangun tidur. Kemana dia ya?
Hmmmm. Benar saja kan! ternyata dia ada di ruang arsip ini. Baru saja aku membuka pintu ruangan, aku dibuat terkejut melihat sosoknya yang sedang duduk di atas meja sambil memandangi deretan album-album foto tempo dulu milik keluarga Winhern.
"Kamu di sini rupanya. Dari tadi aku mencarimu!"
"Ya. Aku senang berada di sini. Seakan aku bisa menghidupkan lagi kerinduanku," jawab Noura dengan tatapan kosong. Wajahnya terlihat makin sendu.
"Kemana Jordan Winhern?" tanyanya.
__ADS_1
"Dia sedang ke toilet. Nanti dia akan ke sini koq."
"Aku masih tidak menyangka. Perjalanan waktu membuatku bisa bertemu dengan keturunan dari Tuan Frans Winhern. Meskipun dalam dimensi yang berbeda. Terima kasih, Bayu!"
"Semua terjadi bukan karena kebetulan. Aku hanya sebagai perantara yang membantu mengungkapkan kembali tragedi yang menimpa keluargamu. Ya, anggaplah ini sebagai jalan Tuhan untukmu bisa mengetahui semuanya tentang keluargamu."
Noura mulai tersenyum. Pagi ini kulihat senyumnya merekah dengan indahnya. Kedua tangannya terus membuka lembaran-lembaran album tempo dulu milik keluarga Winhern. Sesekali semilir angin dari jendela menerbangkan anak-anak rambutnya. Dia masih berdiri dengan posisi tegak menyamping. Sangat anggun.
"Kamu sedang lihat apa? apa yang membuatmu tersenyum? katakan padaku?" aku bertanya padanya.
"Banyak. Melihat foto-foto ini membuatku seakan kembali ke masa lalu."
"Syukurlah, kamu tidak menangis lagi. Aku senang melihatmu seperti ini. Kamu tidak lagi menangis seperti sebelumnya saat melihat foto-foto ini."
"Mungkin aku sudah lelah menangis dan aku lebih memilih untuk tersenyum. Air mata dan tangisan tidak akan membuat keadaan berubah. Hanya sedikit melegakan dan menghilangkan sesak. Itu saja," jawabnya santai.
"Semoga kamu semakin kuat dan pasrah menerima takdir. Aku akan selalu ada di sisimu," ucapku sambil berjalan mendekatinya.
Sepertinya suasana hati Noura sudah membaik. Dia tidak lagi emosional seperti kemarin. Aku suka menatap senyumnya pagi ini.
Kulirik foto-foto hitam putih yang menggambarkan kehidupan tempo dulu. Tentang kehidupan keluarga Winhern dan beberapa foto lainnya yang menggambarkan suasana tempo dulu.
__ADS_1
Bersambung.