NOURA VAN KEMMERS

NOURA VAN KEMMERS
Kedatangan tamu


__ADS_3

Sudarman berjalan cepat. Sengaja kali ini dia tidak melewati rumah keluarga Van Kemmers. Dari Jalan Kamboja, dia memilih untuk berbelok arah melewati jalan setapak menuju perkampungan yang merupakan tempat tinggalnya.


Tujuannya hanya satu. Dia harus singgah kembali ke rumahnya sebentar untuk mengambil beberapa helai selimut untuk Noura. Darman ingat, kalau dia masih menyimpan beberapa potong selimut yang diberikan Nyonya Helena padanya. Sudarman tidak tega melihat Noni Belanda itu menggigil kedinginan setiap malam.


Kain sarung yang diberikannya rasa tidak cukup untuk menghangatkan tubuh gadis Belanda itu.


Sampai kapan dia akan menyembunyikan Noura di gubuk itu? dan kapan situasinya mulai aman? semoga polisi segera bertindak dan menangkap Johans Alois dan Centeng-centengnya, dan Tuan Adrianus sekeluarga segera ditemukan.


Sudarman memasuki halaman rumahnya. Dua hari berlalu, rumah ini ditinggalkan semenjak Sadeli memanggilnya saat peristiwa penculikan keluarga Van Kemmers, dan dia harus menyelamatkan Nona Noura. Nona Noura sebagai satu-satunya orang yang selamat dalam insiden itu karena berhasil disembunyikan oleh Nimah dan Sadeli.


Sudarman membuka pintu dan bersiap masuk saat sebuah suara memanggilnya. Sudarman menengok. Nampak sosok pria paruh baya dengan penampilan lusuh berjalan dengan tongkat berdiri di depan pagar rumahnya.


"Assalammualaikum. Betul ini rumah Sudarman?" tanya pria itu.


Sudarman sedikit terkejut. Diamatinya pria itu dengan seksama. Siapa pria itu ya? kenapa pria bisa tahu namanya? apa dirinya mengenal pria itu?


"Walaikum salam. Maaf, cari siapa Beh?"


"Aye cari rumahnya Sudarman. Aye, Mahmud, Babanya Sarmili," jawab pria itu.

__ADS_1


"Aye dateng dari Bojong. Anak aye, Sarmili dah seminggu kagak masuk kerja. Sakit. Aye ke sini, mau minta tolong. Upah anak aye belom dibayarin ama Tuan Kemmers. Kemaren, aye datengin tempat kerja anak aye di perkebunan. Tapi di sono sepi. Tuan Kemmersnye kagak ade. Aye lagi butuh banget duit buat berobatin anak aye, si Sarmili," tutur pria itu.


Sudarman terkejut. Jadi pria paruh baya ini adalah Bapak dari salah seorang pekerja di perkebunan? tapi yang mana yang namanya Sarmili, ya? Sudarman berpikir keras. Mencoba mengingat-ingat. Tapi ada puluhan pekerja di perkebunan itu dan dia tidak begitu mengenalnya satu per satu. Lalu darimana pria paruh baya ini tahu tempat tinggalnya?


"Bentar ya Beh. Aye, inget-inget dulu yang namanya Sarmili. Orangnye kayak gimane? yang kerja di perkebunan karet itu pan banyak. Aye kagak inget satu-satu." tanya Sudarman.


"Orangnye kecil, kurus, kulitnya item. Orangnya rada diem, kagak banyak omong. Dia tinggal di Mess petak deket perkebunan. Paling saban, seminggu sekali dia balik ke Bojong. Ini udah dua minggu dia kagak balik kerja. Ngendon di rumah aje," jawab pria itu.


Sudarman berpikir lagi. Di dekat perkebunan itu, memang ada bilik kecil terbuat dari bambu yang dijadikan sebagai tempat tinggal bagi para pekerja yang ingin menginap. Sudarman menarik nafas panjang. Selama ini urusan perkebunan memang ditangani sendiri oleh Tuan Adrianus. Dan Nyonya Helena sesekali membantu mengurus bagian keuangan.


"Babeh, tau rumah aye darimane?" tanya Sudarman lagi.


Sudarman beranjak mendekati laki-laki itu dan mempersilahkannya masuk ke dalam rumahanya. Bagaimana bisa dia membiarkan laki-laki tua ini berdiri terlalu lama di depan rumahnya? Sudarman merasa menyesal. Laki-laki ini pasti sangat lelah dan kehausan.


"Maafin Aye, Beh. Ampe lupa ngajak Babeh masuk. Mari Beh! "


Pria itu masuk dan duduk di bale kayu. Sudarman bergegas ke belakang dan mengambil ceret berisikan air putih. Tak lupa, dia sisihkan sepotong roti yang tadi dibelinya untuk dihidangkan pada pria paruh baya itu. Pasti orangtua itu kelaparan juga..Batin Sudarman.


Pria itu minum dan makan roti dengan lahapnya. Sambil mengobrol dia terus bercerita tentang anaknya Sarmili yang sedang sakit, tentang kondisi perkebunan yang sepi, tentang keluarga Van Kemmers dan tentang upah yang diterima anaknya selama bekerja di perkebunan. Nampaknya orangtua itu sangat senang berbicara. Sudarman berusaha menanggapi obrolan pria itu dengan ramah.

__ADS_1


"Beh, aye ke belakang dulu ye. Aye mau mandi. Gerah," ujar Sudarman.


Sudarman bergegas ke sumur belakang untuk membersihkan dirinya. Dari kemarin dia memang belum sempat membersihkan dirinya. Badannya terasa segar, saat air sumur membasahi tubuhnya. Pikirannya kembali tertuju pada Noura. Sudah pukul berapa sekarang ya? Dia harus segera ke gubuk kecil di tepi sungai untuk menemui Noura.


Sudarman melipat beberapa helai selimut yang sudah disiapkannya ke dalam tas jinjing dari rotan, tak lupa dia juga obat demam dan roti yang tadi dibelinya.


"Beh, aye masih ada keperluan nih. Aye harus pergi sekarang juga. Kalau Babeh mau istirahat di sini, silahkan aje. Tapi begini keadaan rumah aye. Daripada Babe harus balik ke Bojong. Apalagi dah sore hari begini, Beh," ujar Sudarman.


Sudarman benar-benar iba melihat keadaan pria paruh baya itu. Membiarkan pria itu beristirahat di rumahnya bukan hal yang buruk. Dia sama sekali tidak curiga. Pria itu kelihatan orang baik. Wajah dan cara bicaranya begitu memelas. Dan di dalam rumahnya juga tidak terdapat barang-barang berharga yang khawatir bisa dicuri. Jadi pasti aman-aman saja, begitu pikir Sudarman.


Pria paruh baya itu mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Sudarman memberikan dua keping uang logam kepada pria itu untuk membeli makanan untuk malam nanti. Sudarman berpamitan dan bersiap pergi.


Pria paruh baya itu menahannya dan mengajaknya bicara sebentar. Sudarman mengiyakan. Pria itu terus berbicara membahas kesulitan hidup yang dialaminya, tentang penyakit yang menimpa anaknya.


Dia terus berbicara hingga membuat Sudarman yang sudah bersiap-siap untuk pergi merasa tidak enak dan akhirnya memutuskan untuk meluangkan waktu sebentar untuk mendengarkan.


Begitu asyik mendengarkan celotehan pria paruh baya itu hingga akhirnya dirasakannya kepalanya terasa sakit dan berat. Pandangannya berkunang-kunang, dadanya terasa panas dan sesak. Tubuhnya kian limbung hingga akhirnya dia jatuh dan ambruk tak sadarkan diri.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2