
"Mama hebat banget deh. Tiap hari ada aja pesanan Mpek-Mpek. Padahal kita baru pindah ke sini ya! tapi bisnis Mpek-Mpek Mama udah mulai berjalan. Mpek-Mpek buatan Mama memang tiada duanya," ucapku sambil menyesap kopi.
"Alhamdulillah Bay. Mama juga enggak nyangka, jualan Mpek-Mpek di sini juga laris. Hari ini ada pesanan 70 box. Kemarin 50 box, dan untuk besok 65 box. Belum lagi Mpek-Mpek frozen yang Mama titipkan di warung- warung, sehari bisa laku 25 sampai 40 buah di satu warung. Selalu habis semuanya."
"Makanya Mama butuh tenaga tambahan. Kalau Mama dan Bu Rahmi saja yang mengerjakan kayakna gak sanggup deh. Belum lagi Mama kan juga harus masak buat makan kita sekeluarga. Bu Rahmi juga kan harus bantu-bantu mencuci, menyetrika juga beres-beres rumah."
"Alhamdulillah, Bu Indah tetangga kita yang di ujung itu memberi tahu Mama, kalau saudara dari ART nya sedang membutuhkan pekerjaan. Ya sudah, Mama rekrutlah Mbak Siti ini. Rencana dia mau menginap di sini. Kebetulan rumahnya jauh di daerah Bogor. Dia bisa pulang seminggu sekali." Mama menjelaskan.
"Kasihan dia. Dia butuh sekali pekerjaan, katanya. Suaminya sudah pergi entah kemana. Anaknya satu, masih sekolah dan sekarang tinggal sama neneknya."
"Kelihatannya orangnya rajin dan cekatan, Mah. Tapi tatapan matanya rada aneh ya Mah?"
"Rada aneh gimana? ah, bisa aja kamu! udahlah, gak usah mikir yang aneh-aneh. Bukannya seneng, Mamanya ada yang bantuin! kamu sendiri kan gak mau bantuin Mama di dapur. Malah sibuk sama kuas dan kanvas aja tiap hari. Malamnya sibuk sama gitar!" seru Mama sambil melotot.
"Lha, Bayu kan laki-laki Mah. Masak Bayu bantuin Mama meracik bumbu sama adonan sih? Bayu juga bantuin Mama kan untuk mengantar pesanan juga kalau Mama butuh untuk diantar ke pasar," jawabku.
"Oh iya Bay, Bu Anggi tadi bilang sama Mama di WA kalau sekolah tempatnya mengajar sedang membutuhkan guru kesenian."
__ADS_1
"Bu Anggi yang mana Mah?"
"Itu loh yang rumahnya berhadapan dengan Bu Indah. Yang tempo hari ke sini, pesan Mpek-Mpek untuk acara di sekolahnya.
"Mama iseng bertanya sama beliau kemarin lewat WA, apa di sekolahnya ada lowongan untuk guru? dan baru tadi subuh dibalas. Dia bilang, SMA Negeri tempatnya mengajar memang sedang butuh guru kesenian," bola mata Mama makin berbinar saat ponselnya berbunyi. Dengan sigap Mama membuka pesan masuk dan membacanya.
"Pucuk dicinta ulam pun tiba. Baru aja dibicarakan, Bu Anggi sudah kirim pesan. Kata beliau, lusa kamu disuruh datang ke SMA Negeri 17 untuk interview. Bawa CV dan surat lamaran juga."
"Apa? lusa Mah? Mepet kali waktunya. Kenapa gak minggu depan aja sih? atau minggu depannya lagi? Biar Bayu ada persiapan gitu. Persiapan mental maksudnya."
"Apa-apaan kamu!" Mama menatapku tajam.
"Pokoknya Mama minta. Kamu buat surat lamaran sekarang. Sekarang kamu gak boleh melukis lagi diluar. Persiapkan diri kamu untuk interview lusa besok."
"Kamu jangan bikin Mama emosi ya! awas aja kalau kamu sampai melewatkan kesempatan ini. Apa kamu gak bosan, tiap hari begini terus? hanya berkutat dengan peralatan lukis dan gitar hampir setiap hari. Kalau kamu mengajar, setidaknya ilmu yang kamu peroleh bisa disalurkan dengan baik. Kamu juga bisa dapat pengalaman baru."
"Bertemu dengan orang-orang baru, teman-teman baru. Terus terang, Mama suntuk lihat keseharian kamu seperti ini. Pokoknya gak ada kompromi lagi! kamu harus mau mengajar di sekolah itu!" cetus Mama sambil menepuk bahuku.
__ADS_1
Sebetulnya jujur saja, aku masih betah seperti ini. Aku masih sangat menikmati hari-hariku dengan melukis, bermain gitar dan juga mengobrol dengan Noura. Tapi demi Mama, baiklah akan kucoba menerima tawaran itu. Tidak ada salahnya mencoba. Lagipula semenjak lulus dari jurusan pendidikan seni musik, aku belum pernah mengajar sama sekali.
Maka siang ini aku tidak kemana-mana. Hanya menghabiskan waktuku dengan membuat surat lamaran dan mempersiapkan diri untuk interview.
Sebenarnya aku ingin menemui Noura. Ingin sekali berbincang dengannya dan melanjutkan lagi obrolan kami tentang kisah hidupnya kemarin. Aku masih sangat penasaran. Tadi beberapa detik di kamarku, sempat tercium lagi aroma golden rose aneka rupa dari balik jendela. Aroma yang menandakan keberadaan Noura. Apa dia kangen padaku ya?
Nanti aku akan menulis pesan untuknya. Aku akan minta dia untuk menemuiku di kamar saja. Entah mengapa sekarang, aku seperti ketagihan untuk bertemu dengannya. Rasanya ada yang kurang, jika sehari saja aku tidak berinteraksi dengannya.
...****************...
"Bay, kalau sudah selesai membuat surat lamaran, Mama minta tolong, bantuin Mbak Siti dan Bu Rahmi untuk packing ya! biar cepat selesai!" perintah Mama.
"Siap, Bos!" kuamati Mbak Siti nampak serius dengan pekerjaannya. Ekspresi wajahnya nampak tegang tapi matanya dengan nanar seperti sedang mengamati sesuatu.
Seperti yang kukatakan pada Mama tadi. Aku seperti menangkap keanehan pada ART baru ini. Sorot matanya seolah tajam seperti sedang memandang sesuatu. Raut wajahnya juga terlihat sangat serius. Hmmm, apa maksudnya ya? seperti ada yang aneh.
Bersambung.
__ADS_1
Mohon like, komen dan votenya ga guys! Matursuwun.