
"Aku harap kau tidak melupakanku," refleks Johans Alois mendekat ke arah Heintje. Tangannya merangkul bahu pria itu dan mengajaknya duduk di kursi. Heintje sangat terkejut dan gelagapan. Tapi dengan sikap santai dia menuruti si pemilik tangan yang telah merangkul bahunya itu.
"Johans Alois, sudah bebaskah kau dari penjara? apa kabarmu?" Heintje berusaha memeluk Johans untuk mengurangi rasa terkejutnya.
"Kabarku sangat baik. Delapan tahun dalam penjara tidak terasa lama bagiku. Dan saat dalam penjara, aku sudah memikirkan apa yang harus aku lakukan untuk merebut kembali semua kebahagianku. Termasuk dengan mendatangimu ke tempat ini juga merupakan bagian dari rencanaku untuk meraih kembali kebahagian, hahaha..." Johans Alois tertawa sambil tersenyum sinis. Sorot matanya nyalang menatap Heintje dari atas hingga ke bawah.
"Maksudmu?" Heintje menjawab dengan gugup.
"Heintje, sahabatku. Bersediakah kau membantuku untuk mengambil kembali sumber kebahagianku? kau tahu kan, uang, harta dan tahta adalah sumber kebahagiaanku. Dan aku sangat yakin, apa yang telah menjadi sumber kebahagiaanku, pasti akan kembali lagi padaku. Dan sekali lagi kukatakan padamu, aku membutuhkan bantuanmu."
"Tentunya kau sangat tahu kan apa yang kubutuhkan untuk meraih kembali sumber-sumber kebahagianku?"
"Aku telah kehilangan semuanya. Satu-satunya yang tersisa hanyalah rumahku, dan sedikit uang simpanan. Sebagian yang lain telah diambil semua. Bahkan Si Bodoh Dekker telah membagikan aset aset yang kumiliki pada Si Tua Bangka William dan juga lainnya. Aku memang tidak sepertimu yang pandai bersembunyi, pandai menutupi, Hahahahaha......" Tawa Johans Alois terdengar makin keras.
"Apa maksudmu?"
"Hahahahahaha....Jangan kau kira aku tidak tahu. Semua orang yang memegang jabatan penting di Herverman tidak lepas dari kemunafikan. Jejak korupsi di perusahaan peninggalan VOC masih terus bergentayangan, sebagaimana halnya kebobrokan di VOC dulu.....Hahahahahahaha....
"Memperkaya diri bukan tindakan yang buruk, bukan? Hahahahahaha....Apalagi kalau diselubungi dengan aksi berbagi dan peduli terhadap sesama.....Hahahahahaha...." Tawa Johans Alois makin menggelegar.
Heintje Van der Boon terperangah mendengar ucapan Johans Alois. Laki-laki itu makin bengis menatapnya.
"Seandainya banyak yang tahu kebusukan dan kelicikanmu di Herverman, tentu kau akan segera merasakan dinginnya tembok penjara, sama sepertiku. Si Dungu Dekker Berrend pasti akan sangat terkejut dan tidak menyangka. Bagaimana bisa seorang Heintje yang sangat baik dan welas asih terhadap kaum papa melakukan penggelapan dana. Hahahahaha...."
__ADS_1
"Cukup....Johans, cukup. Kau hanya mengada-ngada. Kau pasti minum terlalu banyak malam ini. Katakan apa maumu sekarang?" tanya Heintje.
"Aku membutuhkan 10 ribu gulden... Kau tahu, aku tidak punya apa-apa sekarang. Sepuluh ribu gulden sangat kecil bagimu kan? jumlah sepuluh ribu gulden tidak akan sebanding dengan dinginnya tembok penjara, hahahahahaha...."
"Aku tidak punya uang sebanyak itu. Maaf aku tidak bisa membantumu," ujar Heintje dengan wajah gusar. Dia sangat tahu, Johans Alois bukan orang yang senang bermain-main. Ancamannya terlihat serius.
"Kalau begitu aku akan meminta bantuan pada Si Bodoh Dekker Berrend. Aku akan berusaha untuk membuatnya bersimpati padaku, meskipun aku tidak punya yayasan sosial, Hahahahaha.. Akan kubuat Si Tua Bangka yang bodoh itu untuk percaya pada ceritaku. Hanya padaku. Tidak pada yang lainnya. Kau harus ingat, Heintje...Semua ada masanya. Semua ada batasnya. Termasuk kelicikan dan keserakahanmu!" tatapan Johans Alois makin nyalang ke arahnya. Bulu kuduknya seketika menciut. Dirinya benar-benar berada dalam bahaya.
"Aku hanya punya delapan ribu gulden," ujar Hentje dengan gugup.
"Hmmmm.....Baiklah. Delapan ribu gulden, boleh juga," jawab Johans Alois sambil menganggukkan kepalanya.
"Malam ini izinkan aku bermalam di rumahmu. Kau tidak boleh merasa keberatan!" ujar Johans Alois dengan memaksa.
Maka tanpa bersuara, Heintje menuruti keinginan Johans. Dia berjalan perlahan menuju pintu keluar gedung diikuti oleh langkah kaki Johans Alois. Dia terus berjalan hingga menuju halaman samping yang sangat luas, tempat dia memarkir mobilnya.
Johans Alois terperangah. Di dalam mobil milik Heintje, duduk seorang wanita pribumi berwajah elok rupawan. Wanita itu duduk dengan tenangnya di kursi jok bagian tengah. Penampilannya sangat anggun dan luwes. Tubuhnya berbalut kebaya brokat berwarna putih dengan kain jarik bermotif parang. Wajahnya manis khas wanita Sunda dengan rambut hitam yang disanggul rapih ke belakang berhiaskan tusuk konde berwarna emas. Wanita itu tersenyum menyambut kedatangan Heintje.
Johans Alois tidak bisa memalingkan tatapannya. Wanita ini sangat menarik. Tanpa harus bertanya pada Heintje, Johans sudah paham sepenuhnya tentang siapa wanita ini. Bukan suatu hal yang aneh bagi seorang laki-laki Belanda pada saat itu memelihara seorang Nyai di kediamannya.
"Cantik sekali," gumam Johans.
"Dia adalah Sumiyati. Dia yang selalu menemani dan mengurusku di rumah," jawab Heintje.
__ADS_1
Wanita ini sedari tadi hanya menunggu di dalam mobil, hanya di temani seorang sopir. Peraturan di Club Sociteit de Harmonie memang melarang kaum pribumi untuk masuk ke dalam gedung. Hanya orang-orang kulit putih saja yang boleh memasukinya. Maka Heintje sedari tadi membiarkan wanita itu menunggu di luar.
"Saya kira Tuan hanya sebentar, " ujar wanita itu.
"Maafkan aku. Aku memang hanya berniat singgah sebentar saja. Tapi tadi di dalam, ada teman yang mengajakku berbincang," jawab Heintje sambil mencium wanita itu.
"Ini Johans temanku. Dia akan menginap di rumah kita, malam ini,"
Wanita bernama Sumiyati itu menoleh dan tersenyum pada Johans. Senyuman yang indah dan menghanyutkan. Sudah lama rasanya, Johans tidak menikmati senyuman manis seorang wanita.
Sekilas muncul wajah Marianne di dalam benaknya, wanita yang telah menghancurkan hatinya ketika dia di penjara. Masih teringat dengan jelas kata-kata wanita itu di dalam suratnya yang mengatakan kalau dia sudah tidak sanggup lagi untuk menunggu. Wanita itu memutuskan untuk pergi meninggalkannya. Menurut kabar dari salah seorang kerabat, Marianne kini berada di Semarang dan hidup bersama seorang pengusaha tembakau.
Amarah dan kesal seketika memenuhi hatinya. Marianne, wanita yang dicintainya setengah mati tega meninggalkannya ketika dia sedang terpuruk dan jatuh. Wanita laknat itu harus membayar semua rasa sakit hati ini, ucap Johans Alois di dalam hati.
Kendaraan terus melaju. Dalam hening perjalanan menuju kediaman Heintje, Johans tidak lepas memandangi wajah Sumiyati dari arah samping. Wanita itu memiliki bola mata yang indah dengan alis yang tebal beriring. Kecantikan alami yang sederhana, tanpa polesan rias wajah. Wanita itu begitu memikat. Sangat memikat. Kecantikannya seperti candu, membuat kaum lelaki betah berlama-lama memandanginya.
Keterangan :
Kata 'Nyai' adalah sebutan bagi seorang perempuan pengatur rumah tangga serta juga milik dari seorang pria Eropa. Selain mengatur rumah tangga, 'Nyai' juga memenuhi kebutuhan **** laki-laki Eropa dan menjadi ibu dari hasil hubungan tersebut.
'Nyai' sama halnya dengan sebutan pergundikan.
Kalau diartikan, pergundikan atau gundik adalah istri orang terhormat yang tidak resmi, perempuan peliharaan, atau selir. Karena banyaknya gundik yang berasal dari Bali, Jawa, Sunda, dan Betawi maka istilah 'Nyai' berkembang menjadi sebutan bagi gundik-gundik laki-laki Eropa.
__ADS_1
Sumber : Kumparan.com