NOURA VAN KEMMERS

NOURA VAN KEMMERS
Dalam semalam


__ADS_3

Dalam waktu semalam itu, delapan nyawa anggota keluarga Van Kemmers telah lenyap. Tepian Kali Pesanggrahan menjadi saksi kekejian dari Johans malam itu. Dalam sekejap, kebahagiaan keluarga yang sedang berkumpul bersama itu harus terenggut paksa dengan nyawa yang menjadi taruhannya. Meski masih diliputi rasa tidak percaya, bagaimana bisa dia menghabisi delapan orang itu dalam satu malam saja? namun akhirnya dia tersenyum puas. Setelah ini aman. Tidak akan ada lagi penghalang. Tanah perkebunan itu kelak akan menjadi miliknya lagi. Dalam benaknya, sudah tersusun rencana apa yang akan dia lakukan. Dia akan mencari surat tanah itu dan memalsukannya lalu membuat surat jual beli tanah palsu yang seolah-olah menyiratkan kalau Adrian Van Kemmers telah menjual tanah perkebunan itu kepada dirinya.


Lalu bagaimana dengan ke lima jasad ini? harus diapakan dan harus dibuang kemana? menghanyutkan ke delapan jasad keluarga ke Kali Pesanggrahan bukanlah hal yang sulit. Arus Kali yang deras sangat mudah untuk menghanyutkan mereka. Tapi itu terlalu beresiko.


Bagaimana nanti jika jasad itu tersangkut di ranting pohon lalu mengambang di tepian Kali. Pasti akan memunculkan kehebohan. Inspektur polisi akan bergerak cepat mengungkap kasus ini. Terlebih bukan cuma satu orang yang dihabisi tapi delapan nyawa. Johans Alois kembali cemas. Terbayang dalam benaknya, bagaimana jika polisi berhasil mengungkap kalau dia adalah pelaku utama pembunuhan keluarga Van Kemmers. Aku tidak mau masuk penjara lagi, Johans Alois menggigit bibirnya kuat-kuat.


Jika dia tertangkap dan diadili, vonis hukuman mati akan siap menantinya. Dia telah menghabisi delapan nyawa warga kulit putih. Sudah pasti, vonis hukumannya akan sangat berat. Tidak hanya hukuman mati. Bisa jadi di dalam penjara, dia akan melewati berbagai siksaan.


Johans Alois bergidik ketakutan. Lagi-lagi dia meratap...kenapa aku bisa seceroboh ini? tapi kalau aku tidak menghabisi mereka, aku tidak akan bisa merebut tanah perkebunan itu. Dan kalau aku hanya menghabisi nyawa Adrianus Van Kemmers saja, pihak keluarganya pasti akan bertindak dan pasti akan melaporkanku ke polisi dan aku akan masuk penjara lagi. Tidak, tidak...Aku tidak mau masuk penjara....Oleh karena itu, semua harus dilenyapkan tanpa harus ketahuan....

__ADS_1


"Akan kita buang kemana mayat-mayat ini, Tuan?" tanya salah seorang Centeng.


"Aku sedang memikirkannya. Kita harus membuang mereka ke tempat yang sulit ditemukan. Sampai akhirnya jasad mereka hancur menjadi tulang belulang dan tidak ada yang bisa mengenali siapa mereka...." jawab Johans Alois.


Menurutnya hanya itu satu-satunya cara yang tepat. Yaitu membuang mereka ke tempat tersembunyi yang tidak akan diketahui oleh siapa pun. Dan untuk itu, dia harus bergerak cepat dan rapih. Tidak boleh ada sedikit pun jejak tersisa.


"Tuan, cepat ke sini!" teriak salah seorang Centeng yang bertubuh gempal.


Johans Alois menengok ke belakang. Meski jengkel karena merasa dikejutkan oleh teriakan Centeng yang memanggilnya, dia pun berbalik ke belakang dan berjalan menuju arah yang ditunjukkan.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita buang mereka di sini, Tuan?" Si Centeng bertubuh gempal itu menunjukkan lubang kecil pada tanah yang menurun di dekat rawa. Letaknya sekitar 200 meter dari tepian Kali Pesanggrahan. Di sekitaran turunan tanah terdapat lubang yang tidak terlalu lebar namun cukup panjang.


"Kita tidak perlu repot-repot menggali lagi, Tuan. Saya dan yang lainnya tinggal menambah tingkat kedalamannya saja. Saya akan selesaikan sebelum subuh."


Johans Alois menganggukkan kepalanya. Lagi-lagi dia tidak mampu berpikir. Lubang kecil di tanah turunan itu sepertinya cukup strategis. ke delapan jasad itu akan ditumpuk jadi satu. Johans Alois menghela nafas. Tiba-tiba dia merasa limbung. Rasa takut kembali menghantui, pikirannya berkecamuk. Dan lagi-lagi bayangan akan sel penjara kembali berkeliaran di kepalanya.


"Selesaikan semua malam ini. Pastikan kerja kalian rapih. Jangan sampai ada jejak yang tersisa!" perintahnya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2