
"Kamu ada di samping, Bay?" teriak Mama lagi.
"Iya Mah," suara langkah kaki mulai terdengar dari arah dapur. Benar saja Mama sedang berjalan menuju teras samping sambil berbicara dengan seseorang.
"Bay, ini ada Bu Anggi. Ayo kasih salam! kamu belum sempat bertemu langsung, kan?" tanya Mama.
Bergegas aku berdiri dan menghampiri wanita itu. Usianya sekitar empat puluhan dengan tubuh langsing dan kulit kuning langsat. Aku memang belum pernah bertemu langsung dengan Bu Anggi. Hanya sempat mengobrol via whatsapp sewaktu menanyakan lokasi sekolah.
"Apa kabar Bu? terima kasih ya Bu atas rekomendasinya. Alhamdulillah saya diterima," ucapku sambil menyalaminya.
"Alhamdulilah. Saya turut senang. Semoga Mas Bayu betah dan sukses mengajar di SMA 17. Ayo, Rizky kasih salam sama Om Bayu!" perintah Bu Anggi pada bocah lelaki berusia tujuh tahun yang berdiri di sampingnya. Bocah itu mendekat dan mengulurkan tangannya padaku. Nice Boy , gumamku.
Sambil tersenyum manis memamerkan lesung pipinya, bocah itu juga berjalan menuju ke arah Noura yang masih terduduk di teras. Haaaa? apa jangan-jangan bocah ini bisa melihat Noura?
"Kamu ngapain ke sana, mau kasih salam sama siapa?" tanya Bu Anggi pada bocah kecil itu.
"Mau salim sama Tante Bule yang lagi duduk di situ, Bun. Tadi adek lihat, Tante Bule itu ngobrol sama Om," jawab Rizky.
Ya ampun! aku tersedak tiba-tiba. Benar saja dugaanku. Bocah kecil ini bisa melihat Noura. Dan anehnya, Noura tidak bergeming. Dia masih saja duduk di situ.
"Hush. Jangan ngaco ah, gak ada siapa-siapa kok," ekspresi wajah Bu Anggi mulai pucat.
__ADS_1
"Bener Bun. Adek liat Tante Bule itu. Cantik Bun! iya kan Om?" Rizky bertanya padaku.
Aku tidak menjawab. Bu Anggi nampak salah tingkah. Wajahnya makin pucat. Ditariknya lengan bocah itu agar tidak kemana-mana. Aku juga melihat raut wajah Mama nampak keheranan.
"Anak ganteng liat apa?" tanya Mama.
Belum sempat Rizky menjawab, Bu Anggi memberinya isyarat untuk diam. Seolah mengerti dengan isyarat yang diberikan ibunya, bocah itu menunduk dan kembali menatapku.
"Anak saya ini suka berhalusinasi Bu. Suka membayangkan melihat sesuatu yang ada dalam imajinasinya, padahal sama sekali tidak ada apa-apa," Bu Anggi menjelaskan.
"Oh ya Bu, ini DP untuk Mpek-Mpeknya. Maaf saya tidak bisa lama-lama ya Bu. Mas Bayu saya pamit ya," Bu Anggi nampak terburu-buru dan menyalami Mama dan aku.
"Baik Bu Anggi. Terima kasih ya sudah order. Insya Allah nanti saya kerjakan secepatnya. Semoga berkah ya Bu!" ucap Mama.
"Kamu sudah bikin heboh ya!kukira kamu sudah pergi saat anak itu melihatmu."
"Aku suka anak itu. Anak itu terlihat baik dan periang. Dia mengingatkan pada George, sepupuku."
"Anak itu bisa melihatmu, Noura!"
"Aku tahu. Anak yang lucu. Aku ingin berinteraksi dengannya dan mengajaknya bermain. Aku suka anak-anak dan anak itu terlihat ramah dan menyenangkan, persis seperti George," jawab Noura dengan santai.
__ADS_1
Suara Mama memanggilku. Aku bergegas meninggalkan Noura. Jujur saja, perasaanku tidak enak. Kata-kata bocah kecil itu tadi yang dengan spontan mengatakan kalau aku sedang bicara dengan Noura membuatku cemas.
...****************...
"Bay, Mama kok merasa aneh ya? tadi Rizky bilang dia melihat Tante Bule. Apa jangan-jangan itu penunggu rumah ini ya?"
"Entahlah Mah. Bayu tidak merasakan apa-apa tadi. Bayu duduk sendirian. Tidak ada siapa-siapa, Mah."
"Tapi anaknya Bu Anggi itu sepertinya tidak bohong, Bay. Siapa tahu, anak itu sensitif dan memang bisa melihat penampakan tak kasat mata di rumah ini. Duh, kok Mama jadi merinding ya?"
Benar saja, Mama terlihat mulai ketakutan. Pandangan matanya menatap sekeliling rumah ini, dari langit-langit sampai ke tiap sudut dapur.
"Rumah ini kan rumah tua, pastilah ada penunggunya. Hanya saja kita tidak bisa lihat. Hanya orang-orang tertentu yang bisa melihatnya," ucap Mama.
Hmm...Tenang saja Mah, penunggu di rumah ini cantik dan baik kok. Dan dia sama sekali tidak akan menganggu. Paling hatiku saja yang sudah dibuat terganggu dengan kehadirannya.
"Mbak Siti kemana Mah?" tanyaku.
"Di kamarnya. Sedang tidak enak badan katanya. Mudah-mudahan besok sudah membaik, bisa-bisa kerepotan Mama kalau gak ada yang bantu. Pesanan Mpek-Mpek nambah lagi nih," jawab Mama sambil menatap layar ponselnya.
"Kamu jangan di kamar terus ya, nanti temenin Mama di dapur. Mama iseng sendirian. Ayah ada lembur di kantor dan pulangnya pasti tengah malam. Galih tadi sudah izin tidak pulang karena mau mengerjakan tugas kelompok di rumah temannya. Ratna juga sedang mengerjakan PR," pinta Mama.
__ADS_1
Mbak Siti tidak enak badan dan sedang tiduran? siapa tahu itu hanya alasan dia saja agar tengah malam nanti dia bisa bangun dan mengamati sekeliling halaman rumah ini.
Bersambung.