
Noura merasakan tubuhnya lemas. Pandangannya makin kabur dan berkunang-kunang. Sudah sesore ini, tapi Sudarman belum juga kembali. Perutnya semakin melilit menahan lapar. Dari kemarin dia hanya makan singkong rebus. Ulu hatinya mulai terasa sesak dan perih.
Ya Tuhan, kemana Sudarman? kenapa dia belum kembali. Tak biasanya, Sudarman seperti ini. Biasanya dia selalu pulang cepat. Sore berganti malam, Noura mencoba untuk terus. bertahan. Tubuhnya makin terasa menggigil. Apa jangan-jangan terjadi sesuatu pada Sudarman? apa jangan-jangan dia tertangkap oleh anak buah Johans Alois ketika dia sedang mengamati kondisi rumah? dan para Centeng Johans Alois menyiksanya? Noura bergidik ketakutan. Jika dia tertangkap, bagaimana dengan aku? siapa yang akan menolong dan menjagaku di sini? aku lapar sekali dan kedinginan, ucap Noura dalam hati.
Hanya ditemani suara jangkrik dan katak yabg bersahutan, Noura terus berdoa dalam hati. Apa yang harus kulakukan, Tuhan? haruskah aku kembali ke rumah? mungkin, tidak ke rumah, tapi ke rumah tetangga. Siapa tahu ada yang bisa menolongku. Sambil meringkuk Di balik sehelai sarung, Noura berusaha memejamkan matanya.
Cuaca masih mendung. Gerimis rintik-rintik menyapa Noura pagi itu. Dan Sudarman belum juga nampak. Noura semakin tidak kuat lagi. Dipaksakannya tubuhnya untuk bangun. Dengan terhuyung-huyung menahan lapar dan demam, dia berjalan pelan-pelan keluar dari gubuk. Menerobos gerimis sambil menyilangkan tangannya di dada.
Jarak dari gubuk menuju rumahnya kurang lebih 700 meter. Sebentar lagi sampai, tapi amankah kondisi di rumahku sekarang? bagaimana jika Johans Alois masih berada di rumahku? tidakkah sangat berbahaya jika aku kembali ke rumah? Noura semakin bimbang.
Diliriknya rumah besar yang berada di seberang kiri rumahnya. Itu rumah Tuan Frans Winhern. Aku akan ke rumahnya dan meminta pertolongan. Tapi sepertinya, Tuan Frans sekeluarga sedang tidak ada di Depok. Rumah mereka tertutup rapat. Begitu juga dengan rumah-rumah yang lain.
Noura teringat, Tuan Frans sekeluarga sedang pergi ke luar kota. Terakhir ketika berbincang-bincang dengan Papa, Noura sempat mendengar kalau Tuan Frans akan menghabiskan liburan akhir tahun di Bandung, di rumah anak sulungnya.
__ADS_1
Tak ada jalan lain. Seolah sudah pasrah dengan hidupnya, Noura memutuskan untuk kembali ke rumah. Dirinya sudah betul-betul tidak kuat lagi. Jika aku harus mati, lebih baik aku mati di rumah saja, ucap Noura dalam hati.
Dengan langkah gontai, Noura memasuki halaman rumah dan langsung menuju pintu samping. Sepertinya para Centengnya Johans Alois sudah tidak ada di rumahnya. Semoga aman. Noura bergegas masuk dan menemui Nimah dan Sadeli.
...****************...
Tak ada yang bisa menebak takdir dan jalan hidup seseorang. Begitu pula dengan Noura Van Kemmers. Takdir menghendaki hidupnya harus berakhir di paviliun belakang rumahnya sendiri. Bukan oleh Johans Alois dan komplotannya. Tapi akibat jatuh dari loteng. Rasa takut akan kejaran dan intaian dari Johans Alois dan kaki tangannya, membuatnya harus secepatnya mencari tempat persembunyian dan akhirnya meregang nyawa dalam kondisi panik dan ketakutan. Noura tidak tahu, kalau anggota polisi sudah mengawasi dari luar sejak sore tadi. Mereka menyamar dan mengintai pergerakan dari para Centeng yang masih berjaga-jaga di depan rumah keluarga Van Kemmers.
Sampai akhirnya terjadi baku hantam. Anggota polisi melemparkan tembakan ke salah satu Centeng. Dan akhirnya mereka pun berhasil dilumpuhkan. Ke empat Centeng pun berhasil ditangkap. Hanya sayangnya saat itu, Johans Alois berhasil kabur dan melarikan diri. Saat menyadari kalau beberapa petugas polisi mengintai dari depan pagar, dia bergegas melompati tembok samping dengan bantuan tangga lalu berjalan menyusuri jalan setapak yang menuju ke perkampungan kecil di belakang rumah. Setelah itu dia berjalan hingga menemukan sebuah gereja dan bersembunyi di sana.
Dalam kepanikan, Dia berhasil kabur dan melarikan diri dan kini sedang bersiap menunggu kereta yang akan membawanya ke Semarang. Dia tersenyum puas, semoga nasib baik masih berpihak padanya.
Ke empat Centeng segera di bawa ke kantor polisi untuk menjalani proses pemeriksaan. Pencarian terhadap Johans Alois terus dilakukan di mana-mana. Berbagai pamflet dan poster ditempel di sudut jalan berisikan pencarian akan status dirinya sebagai buronan.
__ADS_1
Waktu pun bergulir dengan cepat, kematian Noura Van Kemmers yang terjadi secara tiba-tiba saat insiden penggerebekan, juga kasus penculikan keluarganya yang masih menjadi misteri benar-benar menyedot perhatian warga Belanda di lingkungan sekitar. Mereka sangat sedih dan tidak menyangka kehidupan keluarga itu harus berakhir tragis.
Inspektor polisi terus menekan para Centeng agar segera menunjukkan lokasi di mana keluarga Van Kemmers diculik. Mereka memberikan pengakuan dan keterangan yang berbelit-belit yang menyulitkan proses pencarian. Hingga akhirnya dua bulan kemudian, seorang petani yang sedang mencangkul di tepian Kali Pesanggrahan menemukan lubang bekas gundukan tanah berisikan jasad manusia dalam kondisi yang sudah mengenaskan yang ditumpuk menjadi satu. Hasil temuan pun dilanjutkan dengan melaporkannya ke kantor polisi. Polisi segera bertindak. Kegiatan penyisiran pun dilakukan, setelah dilakukan pemeriksaan dan uji forensik, diketahui sisa-sisa jasad manusia itu adalah milik keluarga Van Kemmers.
Adalah dokter Hans yang melakukan pemeriksaan secara detail lewat uji forensik. Dia meminta tolong pada rekannya sesama dokter di Stovia untuk melakukan pemeriksaan. Kecurigaan dokter Hans muncul ketika melihat pakaian yang masih melekat pada sisa jasad itu. Kemeja warna biru terang yang pernah dipakai oleh Adrianus Van Kemmers saat bertemu dokter Hans untuk terakhir kalinya ketika mereka bertemu di klinik pengobatan. Saat itu, Adrianus sedang mengantar istrinya yang akan berobat.
kecurigaannya pun tidak meleset. Dari sampel yang diambil pada sisa jasad tersebut diketahui ternyata benar itu adalah jasad Adrianus Van Kemmers. Lalu pemeriksaan terus dilakukan pada ketujuh sisa jasad lainnya.
Uji pencocokan sampel pun dilakukan tidak sembarangan. Karena tidak ada kerabat dan sisa anggota keluarga yang tersisa, pengujian sampel DNA dilakukan dengan cara mencocokkannya dengan anggota keluarga Van Kemmers yang berada di Harlingen.
Tuan Frans Winhern beserta warga Belanda lainnya bersedia berangkat ke Harlingen untuk menemui Opa Willy. Selain untuk melakukan uji pencocokan DNA, kedatangan mereka juga untuk mengabarkan tentang kematian Noura juga kasus penculikan dan pembunuhan keluarga Van Kemmers yang cukup tragis.
Sementara itu, koran-koran lokal ramai memberitakan penemuan jasad keluarga Van Kemmers yang sudah dalam kondisi sangat mengerikan pada Headline berita mereka.
__ADS_1
Bersambung.