NOURA VAN KEMMERS

NOURA VAN KEMMERS
Memulai hari


__ADS_3

Aku sudah rapih dan bersiap-siap saat teriakan Mama begitu keras memanggilku. Mama tidak tahu saja, kalau aku sudah bangun dari subuh. Dan sekarang tinggal berjalan keluar untuk sarapan.


Sengaja aku tidak menyahut saat Mama membangunkanku dengan panggilan pertama. Hahahaha. Mama pasti sudah sangat kesal berteriak di luar.


"Baaa.....Mama kira Bayu belum bangun ya? udahlah Mah, gak usah narik-narik urat leher tar keriputnya nambah loh!" Bayu sengaja membuka pintu untuk mengejutkan Mama.


"Dasar kamu. Bilang dari tadi kek kalau sudah bangun. Bikin orangtua senewen aja. Dikira gak capek apa teriak-teriak!" Mama mengepalkan tangannya ke arahku.


"Bayu udah rapih dari tadi Mah. Ini kan hari pertama Bayu wawancara. Masa sih Bayu datang telat."


"Sarapan dulu sana. Kamu tahu alamat sekolahnya kan?"


"Tahu Mah. Gampang itu. Tinggal dicari pakai Google Map. Bayu sarapan di kamar aja Mah."


Meja makan sudah terisi lengkap dengan berbagai menu sarapan. Mama memang luar biasa kalau dalam urusan perut. Selalu saja terampil dan cekatan dalam mengolah menu makanan.


Kuambil dua potong roti dengan selai coklat, dua telur mata sapi, dua potong sosis dan segelas susu coklat. Aku pun kembali ke kamar. Semalam yang kuingat adalah mengobrol dengan Noura. Dia duduk di sebelahku dan menggenggam erat tanganku.


Sentuhan tangannya yang dingin membuatku merasa tenang dan lalu pulas tertidur. Begitu bangun, aku tidak melihat sosok Noura. Pasti dia sudah pergi. Aku juga tidak bermimpi tentang dia semalam. Tidurku begitu nyenyak dan damai.


Akankah dia muncul pagi ini? kutuliskan pesan di selembar kertas.


Kamu dimana Noni Cantik?aku pamit ya. Doakan aku semoga urusanku lancar hari ini.


Kuletakkan kertas itu di atas laci. Berharap aroma golden rose aneka rupa akan muncul dan dia akan menampakkan diri di hadapanku. Kunikmati sarapan sambil memandang ke arah luar jendela.


"Kau mau kemana?" tiba-tiba dia muncul di sampingku. Seperti biasa dengan aroma golden rose yang sangat menyegarkan.

__ADS_1


"Ke sekolah tempat aku akan melakukan wawancara pagi ini," jawabku.


"Kau akan menjadi guru musik?" tanyanya sambil sesekali melirik isi piring sarapanku.


"Ya. Setidaknya itu pekerjaan yang sesuai dengan minatku saat ini. Doakan aku biar wawancaraku lancar," jawabku.


Dia mengangguk. "Kau tampan sekali," Noura menatapku dari bawah ke atas. Membuatku gugup seketika.


"Pastilah. Di matamu aku selalu terlihat tampan, kan? buktinya kamu betah kan berada di dekatku terus?" aku mencoba merayunya.


Lagi-lagi Noura tesipu malu. "Habiskan sarapanmu!" perintahnya.


"Kamu sendiri sudah makan?atau mau mencicipi sarapanku?" aku mulai menyodorkan piringku ke hadapannya. Dia menggeleng.


"Ada-ada saja kau. Kalau aku makan sarapanmu, rasanya pasti akan berubah. Akan hambar dan tidak lagi terasa apa-apa," tukas Noura sambil mengedarkan pandangannya ke arah jendela.


"Masa sih. Coba sedikit saja!" aku menyuapkan potongan roti ke mulutnya. Ditepiskannya tanganku, pandangan Noura nampak serius ke balik jendela.


"Bayu mau berangkat jam berapa? jangan-jangan kamu ketiduran ya abis sarapan. Jangan sampai Mama gebrak ya pintu kamarmu!" teriakan khas Mama mulai terdengar.


Sekarang sudah jam setengah tujuh. Aku harus bergegas.


"Aku pergi dulu! nanti kita ketemuan lagi ya!" Noura menatapku sambil tersenyum.


"Aku ingin ikut. Ingin menemani kau.. Tapi, sudahlah, cepatlah kau berangkat!"


"Bayu, sepertinya kau harus mengawasi wanita yang bekerja di rumahmu," bisik Noura.

__ADS_1


"Wanita yang mana?" aku balik bertanya.


Aku bangkit berdiri dan bersiap-siap keluar dari kamar. Ekor mata Noura masih saja memandang keluar. Entah apa yang dia lihat?


"Aku berangkat dulu, ya! bye-bye!"


Aku berjalan menuju ruang makan untuk berpamitan dengan Ayah dan Mama. Mereka sedang berkumpul untuk sarapan bersama lengkap dengan Galih dan Ratna.


"Wangi banget, Mas. Wanginya enak...Kok seperti bau yang pernah Ratna cium waktu pertama kali kita pindah ke sini, ya?"


"Bau apa memangnya, Dek?" tanya Ayah sambil menyeruput kopinya.


"Bau parfum gitu, Yah. Tapi sumpah, aromanya enak banget," jawab Ratna.


"Iya, aromanya semerbak. Klasik dan menyegarkan," tukas Ayah.


"Ayah juga pernah mencium bau wangi seperti ini waktu pertama kali kita pindah ke sini. Kamu beli di mana parfumnya, Bay?"


Duh, apa sih ini. Pada heboh dengan aroma golden rose aneka rupa. Aku menengok belakang, nampak Noura sedang duduk di meja makan. Dia tersenyum dan melambaikan tangan ke arahku.Rupanya dia mengikutiku saat ke luar dari kamar tadi.


Kupanaskan motor dan bersiap-siap. Semoga saja tidak macet. Rute yang akan kulalui nanti cukup rawan dengan macet. Apalagi jam-jam seperti ini.


Saat keluar pagar, aku berpasasan dengan Mbak Siti. Sambil menenteng belanjaan, dia berjalan menuju pintu belakang. Sesekali pandangannya tertuju ke arahku dengan tatapan yang menurutku cukup aneh.


"Apa dia yang dimaksud Noura tadi ya? tadi Noura mengatakan padaku kalau aku harus mengawasi pembantu wanita yang bekerja di sini.


Sejak pertama kali melihat Mbak Siti, jujur saja aku sudah merasa aneh. Sorot matanya terkesan kaku dan menyeramkan. Seperti sedang mengamati sesuatu. Entah hanya karena perasaanku saja, karena sepertinya memang cuma aku yang berpikir seperti itu. Mama dan yang lainnya tidak. Mereka tidak menangkap ada sesuatu yang aneh pada diri Mbak Siti.

__ADS_1


Bersambung.


Mohon like, komen dan votenya ya Guys...matur suwun.


__ADS_2