
"Yang kudengar hanyalah tangisan Nimah yang begitu mengkhawatirkanku. Aku merasakan tubuhku mulai ringan. Beberapa pria terus bertanya-tanya pada Nimah. Nimah yang masih ketakutan hanya mampu menjawab seadanya. Rupanya mereka benar-benar polisi yang sedang mencari tahu detail kejadian yang sebenarnya kepada Nimah. Aku menyesalkan kenapa mereka baru datang Sekarang?"
"Tidak lama kemudian, kudengar suara langkah kaki datang mendekatiku. Rupanya mereka adalah Sadeli dan dokter Hans."
"Dokter itu mulai memeriksaku. Kurasakan sentuhan tangannya di dahi dan detak jantungku. Tuhan, apa yang terjadi denganku. Mengapa kurasakan tubuhku semakin terasa dingin dan ringan? apakah aku akan mati?"
Flashback on
"Apa yang terjadi sebenarnya? luka di kepalanya cukup parah," tanya dokter Hans.
"Jatuh dari loteng, Tuan. Tadi Nona mau bersembunyi," jawab Nimah sambil terus menangis.
"Segera kita harus membawanya ke rumah sakit, tapi...." Ekspresi dokter Hans makin terlihat serius. Tangannya terus meraba pergelangan tanganku.
"Ya Tuhan, seperti tidak ada harapan. Dia kehilangan banyak darah. Ditambah lagi nadinya semakin lemah, " ujar dokter Hans.
"Ya Allah....," pekik Nimah histeris.
"Bang, gimana ini Bang? kita masih memikirkan nasib Tuan Besar sekelurga yang diculik orang jahat. Sekarang Nona Noura keadaanya begini. Ya Allah, berikan kesembuhan untuk Nona Noura. Kasihani dia, Ya Allah..." Nimah makin terisak.
__ADS_1
Dokter Hans menggelengkan kepala. Pertanda pesimis. Digenggamnya tangan Noura sambil melafalkan doa-doa.
"Hanya keajaiban Tuhan yang bisa menyembuhkannya," ucap dokter Hans dengan lirih.
Flashback off
"Sebagai dokter yang berpengalaman, dokter Hans seolah tahu kalau keadaanku semakin memburuk. Sangat sulit untuk dilakukan penyelamatan. Rumah sakit sangat jauh. Dan saat itu sudah tengah malam."
"Jadi kau betul-betul meninggal pada saat itu?" tanyaku.
"Yang kurasakan seperti ada sesuatu yang keluar dari dalam tubuhku. Aku merasa sesak. Pandanganku semakin lemah. Hanya gelap dan gelap. Ingin rasanya kuhempaskan sesak ini karena aku sudah benar-benar tidak kuat lagi. Lalu tubuhku mulai terasa ringan dan semakin ringan."
"Lalu di depan para polisi dan juga dokter Hans, Sadeli menceritakan semuanya, tentang apa yang terjadi pada keluargaku. Tentang peristiwa penculikan yang menimpa keluargaku, dan tentang para penjahat yang setiap hari mengintai rumah ini hingga membuat aku ketakutan dan harus bersembunyi."
"Aku lihat di halaman depan dan juga samping, penjahat-penjahat itu sudah tidak ada. Polisi sudah meringkus mereka. Menurut pembicaraan yang kudengar dari Sadeli, kemungkinan besar Sudarman telah berhasil melaporkan semua tindak kejahatan dari Johan Alois pada pihak kepolisian."
"Tapi kemana Sudarman? kenapa dia tidak juga muncul. Apa yang terjadi dengannya?"
Sadeli juga keheranan. Karena tidak biasanya Sudarman bersikap seperti ini. Apakah nyawa Sudarman benar-benar terancam hingga dia harus menyembunyikan dirinya juga? atau apa jangan-jangan sesuatu yang buruk terjadi pada dia?"
__ADS_1
"Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan Sudarman? mengapa dia tidak kembali padaku?"
Aku hanya bisa melihat kesedihan mereka. Tubuhku yang terbujur mulai terbujur kaku. Mati? jadi benar aku sudah mati? segampang itu dan secepat itukah? Tuhan, aku tidak mau mati. Aku belum menemukan keluargaku? aku tidak tahu di mana keberadaan mereka? mengapa hidupku harus berakhir seperti ini." Noura mulai terisak.
"Jadi kau meninggal karena terjatuh dari loteng? ditempat ini?" tanyaku.
" Di paviliun. Kau mau melihatnya?" tanya Noura.
Aku mengangguk. Digandengnya tanganku menuju paviliun yang ada di sebelah. Paviliun itu tidak terlalu luas namun cukup panjang sampai ke belakang. Nampak beberapa bekas perabotan dapur dan juga alat-alat pertukangan yang terletak di pojok ruangan.
"Di sini," Noura menunjuk ke atas.
"Di sinilah lotengnya. Lemari besi itu dulu terletak di sini. Di sinilah pula aku terjatuh.
"Di mana lemari besi itu?" tanyaku. Aku menatap ke atas. Sudah tidak nampak lubang di atas yang menunjukkan sebuah loteng.
"Dipindahkan ke gudang. Sadeli yang memindahkannya. Tepatnya, ada di belakang gudang. Dan loteng ini sudah lama sekali ditutup. Sudahlah, aku tidak sanggup melihatnya lagi," Noura menundukkan wajahnya dan mulai terisak lagi.
" Ayo kita pergi dari sini. Aku tidak sanggup melihat semua ini. Bekas lubang loteng dan juga lemari besi. Dua benda yang telah membuatku kehilangan nyawa. Setiap kali aku melihat keduanya, aku merasa sangat pilu. Seandainya saat itu, aku tidak terjatuh...."
__ADS_1
Bersambung.