
"Mainlah ke rumah Bang! nanti akan saya tunjukkan foto-foto tentang keluarga leluhur saya dulu ketika masih tinggal di sini. Papa masih menyimpan segala bukti dan dokumentasi yang berkaitan dengan jejak keluarganya dulu dengan rapih. Papa adalah generasi ketiga yang menyimpan semua bukti kenangan dan jejak kehidupan leluhur kami di masa lalu," ujarnya dengan ramah.
"Abang sudah lama tinggal di sini?" tanyanya.
"Belum. Aku pendatang baru di sini. Dan kebetulan aku tinggal di daerah Depok lama yang masih kental dengan jejak peninggalan tempo dulu. Aku tinggal di lingkungan Belanda Depok. Bahkan rumah yang aku dan keluargaku tempati adalah peninggalan keluarga Belanda yang sudah diambil alih sejak puluhan tahun lalu. Bentuk dan gaya arsitektur rumahnya masih sangat kental mengikuti bentuk rumah Belanda tempo dulu."
Mendadak aku ingin sekali menceritakan tentang sosok Noura. Tapi urung kulakukan. Lagipula tidak semua orang tertarik untuk membahas tentang dunia perhantuan. Dan aku tidak yakin Jordan Winhern akan tertarik dengan cerita-ceritaku tentang Noura. Pemuda ini sepertinya tidak mudah percaya pada hal-hal yang tidak logis.
"Oh ya, pasti sangat keren ya Bang."
"Pasti. Ayahku yang sangat antusias menempati rumah itu. Memang sih kesan pertama agak angker karena rumah itu sudah lumayan lama kosong. Tapi lama-lama kami sekeluarga merasa nyaman-nyaman saja. Sayangnya Si Pemilik rumah tidak berminat untuk menjualnya."
Lalu aku menceritakan tentang awal kedatanganku di Kota Depok, tentang tempat tinggalku sebelumnya di Palembang, tentang kuliahku juga keluargaku. Jordan Winhern nampak antusias mendengarkan.
__ADS_1
"Oh ya, salah satu sepupuku sedang menggarap skripsi. Rencana dia mau meneliti tentang kehidupan keluarga Belanda tempo dulu. Barangkali dokumentasi dan jejak sejarah keluarga Winhern yang masih tersimpan bisa membantunya untuk dijadikan referensi," tiba-tiba spontan saja ucapan itu terlontar dari mulutku. Tentu saja aku hanya berpura-pura alias mengada-ngada. Kalimat yang kuucapkan tadi hanyalah sekedar basa-basi. Tidak ada sepupuku yang sedang mengerjakan skripsi.
"Wah, tentu saja boleh Bang. Cewek atau cowok nih sepupunya?" tanyanya.
"Cowok. Namanya Bima. Kebetulan dia tinggal di Palembang dan belum sempat ke sini. Jadi mungkin nanti aku yang akan membantunya mencarikan referensi. Gak keberatan kan kalau aku ke main ke rumah untuk mencari referensi?" pintaku sekali lagi.
"Tadi kan sudah saya bilang. Silahkan saja main ke rumah Bang. Papa saya orangnya welcome koq. Pasti Papa tidak keberatan," jawab Jordan dengan mantap.
"Oh ya kapan-kapan aku mau mengundangmu untuk manggung di acara sekolahku. Permainan biolamu sangat keren. Pasti banyak yang tertarik. Bagaimana?" tanyaku.
"Dengan senang hati, Bang. Kalau waktu dan kesempatan mengizinkan, saya tidak akan keberatan," jawabnya ramah.
Lagi-lagi aku mengagumi sosok pemuda blasteran yang duduk dihadapanku ini. Keramahannya benar-benar luar biasa. Cara dia bicara dan bersikap benar-benar mencerminkan adat ketimuran. Nilai-nilai kesopanan dan etika seperti sudah tertanam di dalam dirinya. Obrolan kami terus berlanjut hingga tak sadar hujan sudah reda dan malam semakin larut. Sekarang pukul delapan malam lewat. Kami pun mengakhiri obrolan dan bergegas pulang.
__ADS_1
...****************...
"Ada kabar baik," ucapku pada Noura. Malam ini aku baru bersiap untuk tidur, ketika Si Cantik ini muncul dengan aroma golden rosenya. Dia tersenyum hangat ketika mata kami bertemu.
"Kabar apa? kau ingin memberiku kejutan?" tanyanya sambil merapikan ujung selimutku.
"Besok saja kuceritakan. Sekarang aku mengantuk sekali."
"Huh! kau ini. Kukira kau akan menemaniku dengan bercerita malam ini," Noura mulai cemberut.
"Maafkan aku. Tapi aku benar-benar capek dan mengantuk sekarang. Aku janji besok kita akan mengobrol banyak. Kamu jangan kemana-mana... Tetap di sini saja. Aku tahu kamu sedang kangen sama aku kan?"
Bersambung.
__ADS_1