NOURA VAN KEMMERS

NOURA VAN KEMMERS
Terkejut


__ADS_3

Rumah itu masih terlihat sepi. Begitu juga rumah yang berada di kanan dan kirinya. Posisi rumah keluarga Van Kemmes yang nampak terpencil dari rumah-rumah sekitarnya nampak makin sunyi pasca tragedi penculikan yang terjadi beberapa hari yang lalu.


Suasana yang sepi dan hening itu memudahkan Johans Alois dan para Centeng untuk memasuki rumah itu. Dan alangkah terkejutnya ketika saat memasuki rumah itu, mereka melihat masih ada penghuni lain di rumah itu. Dua orang penduduk pribumi nampak ketakutan saat melihat mereka.


Kepada para Centeng dan Johans Alois, kedua penduduk pribumi itu mengatakan kalau mereka adalah pasangan suami istri yang bekerja di rumah itu.


Johans Alois mencoba mengingat-ingat. Ketika dia menculik seluruh keluarga Van Kemmers beberapa hari yang lalu, tidak nampak pasangan suami istri ini. Apa jangan-jangan mereka tidak tahu insiden penculikan itu?


"Ada perlu apa Tuan?" wanita itu bertanya dengan gugup dengan pandangan menunduk.


"Aku ada urusan dengan Adrianus Van Kemmers," jawab Johans Alois datar. Tangannya masih menggenggam sepucuk pistol. Lima orang Centeng bertubuh kekar berbaris rapih di belakangnya.


"Tidak ada Tuan. Saya.....Saya baru datang ke rumah ini pagi tadi. Tapi Tuan dan Nyonya Adrianus tidak ada. Anak-anaknya juga tidak ada, Tuan...Saya tidak tahu kemana....." Wajah wanita pribumi itu makin pucat menahan takut.


Sepertinya aman, gumam Johans Alois dalam hati. Sepertinya wanita ini tidak tahu kalau dia telah menculik keluarga Van Kemmers.


"Izinkan aku masuk!" perintah Johans Alois.

__ADS_1


"Tapi Tuan....." Sadeli berusaha menahan langkah Johans Alois agar tidak masuk ke ruang tengah.


Bruuuuk......Sadeli pun tersungkur. Seorang Centeng mengayunkan sebatang kayu balok ke arah rusuknya dan menghantamnya dengan keras. Wanita pribumi itu berteriak histeris. Johans kembali gugup. Kecemasannya kembali muncul. Bagaimana jika dua orang pribumi ini melaporkannya ke polisi? apakah dia harus melenyapkan mereka juga?


Tidak...Sudah cukup. Dua orang ini sepertinya tidak tahu tentang penculikan kemarin....Johans Alois kembali meyakinkan dirinya. Dengan sigap dimasukinya ruang kerja Adrianus Van Kemmers yang berada di sisi ruang tengah. Dia harus menemukan surat tanah perkebunan itu.


Suara lemparan barang dan gebrakan pintu terdengar makin keras. Johans Alois terus menyisir seluruh laci dan lemari, tapi tidak juga ditemukan surat tanah perkebunan itu. Dia pun bergerak berpindah ke kamar utama. Dua orang Centeng menyeret Nimah dan Sadeli ke pojok ruangan dan mengikat tangan mereka.


...****************...


"Saya akan ke kantor inspektor polisi besok. Polisi pasti akan menangkap mereka."


"Mereka membawa Mama, Papa, Tante Alida, Om Federick, Sophia, Benjamin juga Marie dan George. Aku takut, Darman...Aku takut...."


"Tenang, Nona. Berdoalah pada Tuhan. Semua akan baik-baik saja. Sekarang, lebih baik Nona beristirahat." Sudarman membentangkan sehelai sarung untuk menyelimuti tubuh Noura yang nampak kedinginan malam itu.


Rasa takut masih memguasai Noura malam itu. Matanya tidak bisa terpejam. Masih terbayang terus di kepalanya, kedatangan Johans Alois beserta pada Centengnya. Pemukulan, teriakan, makian dan proses ketika keluarganya diseret naik ke atas trontom. Kemanakah mereka membawa keluargaku? jika aku tidak bersembunyi, pasti mereka juga akan membawanya.

__ADS_1


Udara dingin terasa mengigit di permukaan kulitnya. Terbayang lagi, hamparan kasur empuk dan selimut hangat yang biasa menemani tidur malamnya. Seketika dia tersadar, di mana dia berada saat ini.


Entah pukul berapa sekarang. Waktu terasa lama menuju pagi. Angin kencang berhembus dari sela-sela gubuk. Sinar matahari belum terlihat. Apa sekarang sudah pagi?


"Nona, sudah bangun?" tanya Sudarman.


"Jam berapa sekarang, Darman?"


"Saya tidak tahu, Nona. Yang jelas, sudah pagi. Mari, Nona minum dulu," Sudarman menuangkan ketel berisi air panas yang baru saja dimasaknya ke batok kelapa.


Noura teringat. Gubuk reyot di tepi sungai kecil yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumahnya adalah tempat bermainnya semasa kecil dulu. Dan batok kelapa adalah wadah minum yang pernah digunakannya sewaktu bermain di gubuk itu. Sungai kecil itu juga menjadi tempat favoritnya untuk bermain air.


"Singkong rebusnya jangan lupa dimakan, Nona. Hanya ini yang bisa saya sediakan. Nona, jangan kemana-mana ya! saya akan pergi sebentar lagi," ucap Sudarman sambil menyodorkan singkong yang baru saja direbusnya ke arah Noura.


Bersambung.


Terima kasih yang sudah mengikuti cerita ini... Mohon like dan votenya ya....Hatur nuhun.

__ADS_1


__ADS_2