
Lalu yang ketiga adalah Jacobus, yang keempat, Rueben dan yang bungsu Magda,"Jordan menuturkan sambil kembali menunjukkan foto-foto lawas anggota keluarga Frans Winhern.
Oma Margareth memiliki tiga orang anak, yaitu Bernand Jansen, Sarah dan Maria. Anak pertama Oma Margareth yaitu Opa Bernand Jansen adalah seorang tentara menikah dengan seorang musisi gereja bernama Elisa dan memiliki empat orang anak yang bernama Helen, Joseph, Jans, dan Sonja. Jans adalah kakek saya. Beliau juga seorang Tentara. Oma Helen adalah seorang perawat, lalu Joseph dan Sonja bekerja sebagai guru. Jordan menunjukkan lagi kepadaku foto hitam putih keluarga Belanda dalam berbagai momen. Ini Oma Helen, dia meninggal saat melahirkan anak pertamanya. Bayinya juga ikut meninggal. Dan ini adalah Opa Joseph. Opa Joseph menikah dengan Oma Grace dan melahirkan Om Willy. Om Willy adalah Ayah dari Dave, sepupu saya yang pernah saya ceritakan waktu itu. Dan ini Oma Sonja, dia seorang guru taman kanak-kanak. Dia menikah dengan seorang Pemilik perkebunan dan menetap di Swiss sampai akhir hayatnya dan memiliki dua anak yaitu Karl dan Alard yang juga merupakan sepupu papaku. Mereka masih menetap di sana mengelola perkebunan dan peternakan milik orangtua mereka.
"Ini siapa? pandangan tertuju pada foto dua orang gadis cantik dan seorang pemuda yang sedang berpelukan.
"Ini adalah anak-anak dari Oma Margareth. Mereka adalah Sarah, Maria dan kakek buyut saya, Opa Bernand Jansen. Foto itu diambil pada tahun 1954. Dua bulan sebelum kematian Oma Sarah dan Oma Maria akibat kecelakaan lalu lintas.
"Ya Allah..Kasihan sekali. Kuamati foto kedua gadis itu yang wajahnya sangat mirip itu. Seperti kembar.
"Ya...Dua bulan setelah kepergian mereka. Sang Ibu, Oma Margareth meninggal dunia karena tidak kuat menahan kesedihan."
"Dan siapa ini?" tanyaku ketika pandanganku tertuju sebuah foto wanita cantik bertubuh langsing memakai seragam perawat.
"Itu Oma Magda. Anak bungsu dari Opa Frans Winhern. Dia menjadi perawat di salah satu rumah sakit khusus veteran dan tewas saat terjadi peristiwa pemboman di stasiun kereta pada tahun 1950 an. Tepat dua minggu sebelum hari pernikahannya," jawab Jordan Winhern.
"Ya Tuhan, tragis sekali."
"Begitulah, Bang. Perang dan kebencian selalu membawa korban."
Begitu banyak foto-foto tempo dulu tersusun rapih di lembaran album-album itu.
Dan kurasa aku akan
sangat bingung menyimak penjelasan dari Jordan Winhern tentang para leluhurnya karena banyak sekali.
Dalam hati lagi-lagi aku memberikan aplaus yang luar biasa kepada kepada keluarga Jordan. Mereka begitu pandai menjaga keterikatan akar keluarga. Dengan begitu generasi selanjutnya seperti Jordan bisa mengetahui sejarah dan jejak leluhur nenek moyangnya.
Hoaaam....Aku mulai menguap.
"Saya tambahkan kopinya ya, Bang!" Jordan bangkit menuju dapur sambil mengambil cangkir kopiku.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk. Kurasakan sentuhan dingin Noura di kakiku. Membuatku merasa rileks dan sedikit mengantuk.
"Itu foto keluargaku, Bayu!" bisik Noura di telingaku. Rasanya telingaku seperti ditiup hembusan angin.
Aku yang sudah mulai memejamkan mata seketika terbangun mendengar bisikannya.
"Apa maksudmu? foto apa?"
"Lihat itu!" Noura menunjukkan foto hitam putih pada lembar akhir sebuah album foto.
Kupandangi foto sebuah keluaega Belanda. Seorang ayah dan ibu lengkap dengan ketiga anaknya. Dua perempuan dan satu laki-laki. Kuamati dengan sesama. Benar...Ini foto keluarga Van Kemmers. Foto keluarga Noura. Kulirik Noura yang mulai terisak. Aku harus menanyakannya pada Jordan Winhern, siapa tahu ada petunjuk tentang keluarga Van Kemmers.
"Ini kopinya, Bang!" Aroma kopi mulai membangkitkan saraf-saraf penciumanku untuk mulai bangkit.
"Ini foto siapa?" kusodorkan foto itu pada Jordan.
"Ini foto keluarga Van Kemmers. Mereka adalah tetangga sekaligus teman baik Opa Frans. Begitu yang pernah saya dengar dari Oma buyut saya. Dulu sewaktu tinggal di Depok, keluarga Van Kemmers dan Keluarga Winhern sama-sama merintis usaha di sini. Sama-sama memiliki tanah perkebunan. Dulu Keluarga leluhur kami sangat akrab dengan keluarga tersebut. Sudah seperti saudara.
"Suatu kejadian tragis menimpa keluarga mereka. Mereka sekeluarga tewas terbunuh oleh seorang penjahat," jawab Jordan.
"Maaf sebelumnya aku hanya penasaran saja. Karena rasanya aku tidak asing dengan nama Van Kemmers."
"Maksud Abang?" Jordan mengerinyit keheranan.
"Jadi begini. Aku dan keluargaku menempati sebuah rumah tua bergaya klasik, yang merupakan peninggalan dari keluarga Belanda. Rumah itu sudah beberapa kali direnovasi, tapi tetap mempertahankan bentuk asli. Model rumah itu sangat artistik seperti rumah-rumah Belanda tempo dulu. Kebetulan Ayahku seorang pecinta barang-barang vintage, makanya beliau begitu antusias untuk menempati rumah itu. Dan terkait dengan yang kuceritakan tadi, di dalam rumah yang kami tempat terdapat ornamen yang menempel pada dinding di dekat dapur bertuliskan "VAN KEMMERS". Tulisan itu terbuat dari lempengan besi yang dilelehkan dan menempel kuat pada dinding. Well, sepertinya itu nama keluarga Belanda yang menempati rumah itu. Hmmm, maksudku pemilik pertamanya."
"Oh ya? Boleh aku lihat di rumah Abang?" kali ini Jordan yang terlihat begitu antusias.
Kuceritakan pada Jordan tentang rumah yang kutempati. Ingin rasanya menceritakan tentang sosok Noura, tapi kuurungkan, karena selain saat ini bukan momen yang tepat. Jordan juga nampaknya bukan orang yang mudah percaya pada hal-hal mistis.
"Mainlah ke rumahku. Nanti aku tunjukkan ornamen dinding bertuliskan "Van Kemmers" itu!"
__ADS_1
"Abang tinggal di Depok lama kan?"
Aku mengangguk sambil melanjutkan menyesap kopi. Kulirik Noura yang terdiam dengan tatapan kosong. Entah apa yang dilihatnya.
"Opa Frans Winhern juga dulu tinggal di sekitar Depok lama. Entah dulu disebutnya apa. Tapi menurut Papa, sekarang wilayah tempat tinggal Opa Frans disebutnya Depok lama. Jangan-jangan rumah Abang satu lokasi dengan rumah Opa Frans?"
"Sebentar Bang!" Jordan membalikkan lembaran album foto yang masih kupegang.
"Ini rumah Opa Frans Winhern," Jordan menunjukkan foto keluarga leluhurnya di depan sebuah rumah. Kuamati foto itu. Rumah Belanda tempo dulu dengan halaman yang begitu asri.
"Dulu lokasi pemukiman ini hampir sebagian besar dihuni oleh kaum Belanda Totok. Mereka sudah menempati kawasan ini sejak tahun 1800 an," papar Jordan.
"Kalau ini adalah rumah Tuan Frans Winhern, kira-kira di mana posisi rumah keluarga Van Kemmers?"
"Pastinya tidak jauh dari kediaman Opa Frans. Apa jangan-jangan rumah yang Abang tempat sekarang bersama keluarga adalah rumah keluarga Van Kemmers?"
"Bisa jadi. Sayangnya sulit bagiku untuk melacak di mana posisi bekas rumah keluarga Winhern. Daerah sekitar tempat tinggalkan sudah begitu padat dan banyak sekali rumah-rumah. Posisi rumah Van Kemmers yang kutempati posisinya terpencil berada di pojok sebelah barat daya dari pinggir jalan, entah yang mana posisi rumah bekas peninggalan leluhurmu?"
"Nantilah, Bang! Kapan-kapan aku akan main ke rumah Abang untuk mengecek yang mana posisi rumah itu di zaman sekarang, hehehehe."
"Aku semakin tertarik untuk mengorek lebih dalam segala informasi tentang keluarga Van Kemmers. Apa kamu punya arsip tentang keluarga mereka?" tanyaku blak-blakan.
"Mudah-mudahan ada. Aku cari dulu ya Bang!"
"Wah, tadinya cuma mau mencari informasi tentang peristiwa Gedoran, tapi malah merembet kemana-mana nih!" ujarku berbasa-basi, padahal memang itulah tujuanku yang sebenarnya.
"Tidak apa, Bang!"
Bersambung.
Keterangan
__ADS_1
Kaum Belanda Totok adalah sebutan bagi orang Belanda asli.