
Lamunan tentang Sudarman membuat hatinya menghangat. Dia ingat beberapa waktu lalu saat mereka memancing di sungai. Sudarman yang malu-malu saat ditatap olehnya secara diam-diam mulai terlihat gugup. Raut wajahnya terlihat memerah. Sesekali dia juga berani membalas tatapan Noura.
Lalu saat Noura akan jatuh terpeleset, dengan sigap Sudarman menahan tubuhnya. Sentuhan lembut di tangan kekar pria itu membuat hatinya semakin berdegub.
Bersama Sudarman hatinya selalu merasa tenang. Pria itu tidak hanya membuatnya suka tapi juga sekaligus merasa aman. Noura menyukai cara pria itu memperlakukannya. Sudarman bukan hanya sekadar pengawal, tapi dia seperti seorang ksatria yang gagah dan mempesona.
"Sudarman tidak berkata akan menyusul ke sini?" tanya Noura pada Hamid.
"Tidak Nona. Dia cuma meminta saya untuk menemani Nona. Dia sedang ada pekerjaan penting, katanya."
"Baiklah. Kita kembali ke perkebunan, Hamid!" perintah Noura.
Pria paruh baya itu berjalan mengikuti Noura dari belakang. Dengan sigap, Noura naik ke atas kuda dan menyusuri jalan setapak menuju perkebunan.
Perutnya mulai terasa lapar. Minah, salah seorang pekerja di perkebunan pasti sudah memasak menu makan siang untuknya. Wanita yang bertempat tinggal di sekitar perkebunan itu memang diminta Papa untuk memasak jika tugasnya menyadap karet di pagi hari sudah selesai.
Sampailah Noura di depan sebuah pondok kayu yang dihiasi bunga mawar. Sebuah bangunan kecil yang selama ini menjadi tempat peristirahatan bagi keluarga Van Kemmers di perkebunan. Di seberang bangunan itu terdapat bangunan kantor yang biasa digunakan Tuan Adrianus untuk bekerja.
Pondok itu sangat cantik. Siapa saja yang melihatnya pasti akan langsung terpikat. Bangunannya tidak begitu luas, namun cukup unik. Pelataran depan dan samping rumah itu penuh dengan aneka bunga mawar yang tumbuh merambat. Nyonya Helena yang merancang detail bangunan pondok itu karena kecintaannya akan bunga mawar.
__ADS_1
Bau masakan mulai tercium dari dalam. Minah pasti sudah selesai memasak. Noura segera masuk dan duduk di meja makan.
"Makan siang sudah siap Nona. Sebentar saya siapkan!" ujar Minah.
Noura menatap sekeliling pondok. Matanya menatap ke arah pelataran berharap Sudarman dan papanya segera datang.
Seketika wajahnya bersemu saat dilihatnya sosok tegap dan gagah itu berjalan menuju pelataran pondok. Noura merapikan meja dan bersiap untuk mengajak Sudarman makan bersama.
Minah menyajikan nasi putih, ikan goreng dan tumis wortel dan kentang. Noura membantu menyiapkan peralatan makan. Sejak pindah ke Hindia Belanda, dia dan keluarganya memang sudah terbiasa menyantap makanan pribumi.
"Terima kasih, Minah." Minah mengangguk dan berlalu ke belakang.
" Ada tugas penting, Nona," jawab Sudarman.
"Tugas apa? kulihat tadi Papa tidak pergi kemana-mana. Biasanya kan kau selalu menemani Papa saat bepergian."
"Rahasia, Nona. Maaf saya tidak bisa cerita sekarang. Tapi pasti saya akan ceritakan pada Nona,"
Noura mulai penasaran. Apa yang dilakukan Sudarman tadi ya? apa jangan-jangan dia sedang mencuri-curi waktu untuk mendekati gadis pekerja di perkebunan ini?
__ADS_1
"Kau sudah makan? mari kita makan bersama, tapi sebaiknya kita tunggu Papa."
Kenapa Papa lama sekali ya? biasanya Papa selalu datang saat jam makan siang seperti ini. Suara makian dan teriakan terdengar dari luar, diiringi gebrakan meja yang melengking sampai keluar. Suara itu berasal dari bangunan kantor Papa.
Noura bergegas menuju pelataran pondok, diikuti oleh Sudarman. Ada keributan apa di kantor Papa? dari kaca depan ruangan kantor terlihat Papa sedang berbicara dengan seseorang. Seseorang pria kulit putih berusia sekitar lima puluh tahun lebih dengan postur tubuh tegap dan wajah yang garang. Pria itu nampak begitu bengis berbicara ke arah Papa.
"Tuan Johans Alois, tolong dengarkan saya," ucap Papa. Suara Papa terdengar sampai ke pelataran pondok. Siapa orang yang bernama Johans Alois itu? mengapa dia bertengkar dengan Papa?
"Saya harus ke kantor, Nona." Sudarman bergegas keluar menuju bangunan kantor. Sudarman pasti tahu siapa pria itu dan dia bermaksud untuk menyelamatkan Papa. Noura ingin mengikuti langkah Sudarman, tapi dia juga merasa takut.
...**************...
Sepanjang perjalanan pulang, Tuan Adrianus lebih banyak diam. Seperti sedang memikirkan sesuatu. Kadang wajahnya terlihat tegang. Kadang terlihat menahan amarah. Noura semakin penasaran. Diberanikannya untuk bertanya.
"Papa, siapa orang tadi? mengapa dia memaki Papa dengan kasar?"
Bersambung.
Mohon like dan votenya ya Guys....Komennya juga ditunggu biar author makin semangat meneruskan cerita ini. Hatur nuhun....
__ADS_1