NOURA VAN KEMMERS

NOURA VAN KEMMERS
Rahasia di dalam peti


__ADS_3

"Apa ini?" tanyaku.


Noura hanya tersenyum tipis. Sorot matanya seolah memintaku untuk membuka peti itu. Ukuran peti itu tidak terlalu besar. Isinya apa ya? lumayan berat juga. Kami menuju teras kecil di depan paviliun untuk membuka peti itu.


"Semua rahasia tentang kehidupanku ada di sini," ucap Noura.


Dengan penasaran kubuka peti itu, dan mataku terbelalak. Peti itu berisikan beberapa album foto, juga ada boneka yang terbuat dari kain, sebuah kotak musik, sepasang kaus kaki rajut, sebuah topi, kalung dengan liontin foto dirinya dan keluarganya dan juga bekas botol parfum yang aromanya sangat kukenal, aroma golden rose.


"Ini adalah benda-benda peninggalan keluargaku yang masih tersisa."


Aku memandangi benda-benda itu dengan penuh rasa takjub. Semua benda-benda sudah sangat sangat usang, tapi kondisinya masih bisa diamati. Termasuk beberapa foto yang tersimpan di album foto ini.


Dengan mantap, Noura menceritakan semua isi pada album foto itu. Ada foto keluarganya, foto dirinya, foto kakak dan adiknya, kakek dan neneknya, juga keluarga besar Van Kemmers lainnya. Foto-foto itu lengkap menunjukkan kebersamaan keluarga mereka. Beberapa foto diambil di rumah ini dan selebihnya nampak diambil di wilayah perkebunan dan juga di Netherland.


Mataku tercengang melihat sepasang anak kecil laki-laki dan perempuan dalam sebuah foto. Ya ampun, kedua bocah itu pernah kulihat di dalam mimpiku.


"Ini adalah Marie dan George, sepupuku," Noura menjelaskan, seolah dia mengerti dengan rasa penasaranku.


"Ini adalah papa dan mama mereka, om dan tanteku." Noura menunjuk foto seorang pria tampan yang katanya adalah adik mamanya, juga seorang wanita cantik berambut ikal dengan mata bulat yang indah.

__ADS_1


Kupandangi foto gadis berambut pirang yang sedang berpose di teras rumah. Tubuhnya kurus tinggi dan berkaca mata. Juga seorang remaja pria berusia sekitar lima belas tahun.


"Ini Sophia, kakakku dan juga Benjamin, adikku. Benjamin melanjutkan sekolahnya di Netherland. Dia pulang ke Hindia Belanda hanya untuk mengisi liburan sekolahnya saat itu, sebelum peristiwa naas itu terjadi," ekspresi wajah Noura terlihat nampak begitu sedih.


"Kau kenapa?" tanyaku.


Noura terdiam. Tatapan matanya kosong.


"Maafkan aku jika membuatmu bersedih." Seperti ada cerita sedih yang kutangkap dari matanya. Cerita yang ingin dia ungkapkan.


"Aku tidak akan memaksamu untuk bercerita, meskipun aku sangat penasasan."


"Ini adalah Sudarman, seorang pekerja di perkebunan. Bisa dikataka dia juga asisten papaku. Dia tinggal tidak jauh dari sini. Dia sangat baik padaku," Noura menjelaskan. Wajah Noura nampak bersemu merah saat menatap foto itu


Pemuda pribumi itu nampak gagah dengan tubuh tegap dan kumis tipisnya. Usianya sekitar dua puluh lima tahun.


Dari ekspresi sedih dan sekarang tersenyum malu-malu, aku semakin curiga.


Sepertinya Noura menutupi sesuatu.

__ADS_1


"Hey, kamu ini kenapa? tadi kamu nampak sedih dan sekarang tersenyum malu-malu. Ada apa?" aku makin penasaran.


Raut wajah Noura terlihat semakin sendu. Sambil terus menatap foto itu dia melanjutkan ceritanya.


"Dia adalah sosok laki-laki yang kukagumi. Dia mengajariku tentang banyak hal. Dia juga yang sudah menyelamatkanku," air mata Noura mulai menetes.


"Maaf, sepertinya laki-laki ini sangat berarti untukmu. Benarkah begitu?" tanyaku perlahan.


"Laki-laki ini adalah pria pertama yang membuatku jatuh hati. Aku sangat menyukainya. Dan aku selalu berharap dia memiliki perasaan yang sama denganku."


"Sudarman sudah bekerja dengan Opaku sejak dia masih remaja. Kedua orangtuanya sudah meninggal dunia. Dia sangat rajin. Sewaktu kecil, dia selalu menemaniku setiap kali aku bermain di hutan atau di sungai. Dia juga yang mengajariku naik sepeda, memanjat pohon atau memancing ikan."


Berbeda dengan Sophia, kakaknya, sedari kecil Noura lebih suka bermain di luar ketimbang membaca buku. Dia lebih menyukai hal-hal yang berhubungan dengan alam lepas, dan Sudarman lah yang selalu menemaninya.


"Sepertinya dia sangat berarti bagimu? benar kan?" aku mencoba menggodanya.


Noura mengangguk. Sorot matanya seperti berusaha mengingat kembali penggalan kisah masa lalu.


"Ceritakanlah semuanya dan jangan ragu. Aku siap mendengarkan."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2