NOURA VAN KEMMERS

NOURA VAN KEMMERS
Pertanyaan Bu Anggi


__ADS_3

Terima kasih atas dukungan dari pembaca sekalian. Karya ini akhirnya mendapat status layak untuk direkomendasikan. Terima kasih juga untuk Noveltoon atas kepercayaan yang diberikan.


Pada bagian ini kita akan kembali memasuki cerita tentang kehidupan dari tokoh Bayu di era saat ini.


Aku memacu motor dengan kecepatan di atas rata-rata. Untungnya ini bukan hari senin. Tidak terlalu macet. Kalau tidak diteriaki Mama mungkin aku tidak akan bangun tadi. Tidurku terlalu pulas. Tiga malam terakhir ini aku memang kurang tidur. Waktu malam lebih banyak kugunakan untuk menyelesaikan proyek aransemen musik untuk persiapan lomba. Aku memang sedang melatih anak anak mengikuti lomba aransemen lagu dan musik tradisional. Aku tidak ahli dalam menekuni musik tradisional, tapi aku sudah bertekad untuk mencobanya. Bukan tugas yang mudah. Terlebih aku ingin membawa sekolah ini ke masa-masa keemasan seperti di zaman mendiang Pak Arthur dulu, yaitu meraih gelar juara.


Napasku mulai memburu. Satu-persatu peluh mulai menetes di kening. Sebentar lagi sampai, aku menerobos jalan tikus yang berseberangan dengan lapangan kecil yang penuh dengan semak belukar. Di lapangan kecil itu, anak-anak sekolah biasa memarkir kendaraan bermotor yang mereka bawa.


"Selamat pagi, Pak Bayu!" sapa Pak Sigit, satpam sekolah sambil membukakan pintu gerbang untukku.


Aku hanya menganggguk sambil tersenyum tipis. Rasa tidak enak mulai muncul ketika aku berjalan mendekati meja piket. Bu Anggi dan Bu Ajeng sedang duduk menghadap sudut kiri dan kanan meja.


"Maaf Bu, saya terlambat. Tadi kesiangan bangun," ucapku pelan.


"Belum terlambat, Pak. Pak Bayu ngajar jam ke tiga kan?" tanya Bu Ajeng.


"Eeh, iya ya Bu. Aku melirik jadwal mengajar yang menempel di dinding. Benar saja, ternyata aku mengajar jam ke tiga. Huh, sudah terburu-buru, salah jadwal pula. Kalau tahu tadi aku mengajar di jam ke tiga. Tentu aku tidak akan terburu-buru.


"Oh iya ya Bu. Saya sampai lupa jadwal ngajar hari ini. Saya ke ruang guru dulu, ya Bu. Aku pun pamit dan bergegas menuju ruang guru. Jarak ruang guru dengan ruang piket lumayan jauh. Duduk sebentar di ruang guru sambil menikmati secangkir kopi mungkin dapat membuatku rileks setelah energiku terkuras karena terburu-buru tadi.

__ADS_1


"Pak Bayu, tunggu sebentar!" panggil Bu Anggi. Aku menoleh.


"Bisa saya bicara sebentar. Ada yang mau saya tanyakan. Tapi nanti saja Pak, kalau sudah senggang," pinta Bu Anggi.


"Siap Bu," jawabku.


...****************...


Kesibukanku dimulai saat jam ke tiga tadi. Dan sekarang aku masih berkutat dengan persiapan lomba bersama anak-anak. Sekarang sudah jam tiga sore. Aku duduk bersama anak-anak sambil menampilkan hasil aransemen lagu yang kubuat beberapa hari yang lalu. Pekerjaan yang lumayan menyita waktu tidur malamku.


Noura seolah mengerti dengan kesibukanku. Dia hanya diam saat menemuiku di kamar. Menatapku sebentar dan kemudian pergi lagi. Sesaat di mana aku terkejam, aku merasakan sentuhannya di kakiku. Semerbak aroma golden rose yang menandakan kedatangannya membawaku melesat langsung ke dalam mimpi. Saat pagi pun, dia kembali menyentuh kakiku untuk membangunkanku. Tapi itu tidak cukup ampuh jika dibandingkan dengan suara Mama yang menggelegar yang selalu berhasil membuatku terbangun.


"Pak Bayu belum pulang?" sebuah suara mengejutkan lamunanku. Aku menoleh. Ternyata Bu Anggi.


"Belum bu. Masih membimbing anak-anak latihan." Setelah mengobrol berbasa basi seputar persiapan lomba, Bu Anggi mulai bertanya padaku. Pertanyaan yang membuatku cukup terkejut.


"Jadi begini Pak Bayu. Saya hanya penasaran saja dengan penuturan Rizky anak saya. Rizky mengatakan kalau dia pada waktu itu melihat sosok Noni Belanda di rumah Pak Bayu. Noni Belanda itu duduk di dekat Pak Bayu. Dan rasa penasaran Rizky terus berlanjut sampai di rumah. Dia terus saja membahas tentang Noni Belanda yang dilihatnya di rumah Pak Bayu," ujar Bu Anggi. Ekspresinya terlihat mulai bergidik ketakutan.


"Apa benar Pak apa yang dilihat anak saya? apa Pak Bayu tahu tentang Noni Belanda itu?"

__ADS_1


Waduh bagaimana ini? apa aku harus menceritakan semuanya pada Bu Anggi tentang sosok Noura. Aku yakin, dari sorot matanya, Bu Anggi sudah meyakini kalau cerita anaknya tentang Noni Belanda itu benar adanya.


"Anak saya itu indigo, Pak. Dia bisa melihat hal-hal yang tak kasat mata. Dan entah mengapa dia excited sekali dengan sosok Noni Belanda yang dilihatnya di rumah Pak Bayu. Sampai tadi pagi pun dia masih menanyakannya," Bu Anggi menggigit bibirnya. Kelihatan sekali kalau Bu Anggi juga sangat penasaran.


"Kadang saya sampai dibuat ketakutan dengan apa yang dilihat anak saya. Alhamdulillah sih dia tidak pernah sampai aneh-aneh seperti kesurupan misalnya karena sering melihat makhluk halus. Tapi ya itu cukup mengganggu juga,"


"Hmmmm, sebenarnya ya Bu apa yang dilihat Rizky tentang Noni Belanda di rumah yang saya tempati itu benar Bu, " dengan ragu akhirnya aku menjawab. Bu Anggi terbelalak.


"Namanya Noura Van Kemmers. Dia adalah anak dari pemilik pertama dari rumah yang saya tempati. Dia sudah meninggal kira-kira delapan puluh tahun yang lalu. Tapi dia tidak menganggu Bu. Jujur, saya sering berinteraksi dengan Noura. Dan di keluarga saya, hanya saya yang bisa melihat dan berinteraksi dengannya." Bu Anggi makin terkejut. Wajahnya mendadak pucat.


"Benarkah itu Pak Bayu?" tanya Bu Anggi lagi.


"Pantas saja waktu itu Rizky melihat Pak Bayu sedang mengobrol dengan Noni Belanda itu. Berarti benar apa yang dikatakan Rizky," ujarnya lagi.


"Benar Bu. Tapi Noura hantu yang baik. Dia tidak pernah menganggu atau menakuti. Dia memang sering mengobrol dengan saya. Seperti halnya manusia, dia butuh teman Bu. Dia sering menceritakan pada saya tentang kehidupan keluarganya dulu,"


Lalu aku mulai menceritakan secara detail tentang Noura Van Kemmers. Tentang sejarah kehidupannya sampai penyebab kematiannya. Bu Anggi mendengarkan ceritaku sambil mengangguk-angguk. Aku juga berpesan pada Bu Anggi untuk tidak menceritakan tentang sosok Noura Van Kemmers pada keluargaku, apalagi pada Mama dan Ratna.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2