
Tuan Adrianus gelagapan. Haruskah dia menjawab? tidak. Noura tidak perlu tahu.
"Siapa orang itu, Papa?" Noura bertanya lagi.
"Dia hanya orang yang ingin berbisnis dengan Papa, tapi dia tidak sepakat dengan perjanjian jual beli, lalu dia marah," begitu jawab Tuan Adrianus.
"Sudahlah. Kau tidak perlu memikirkannya. Itu hanya masalah kecil. Bagaimana kebun yang kau rawat di halaman belakang?"
"Sangat baik. Mungkin beberapa bulan lagi bisa dipanen," jawab Noura. Noura tahu, Sang Papa hanya mengalihkan pertanyaan agar dia tidak bertanya lagi. Dari raut wajahnya, Noura tahu, Papanya sedang tertekan.
Perjalanan pulang dari Tjibinung menuju Depok terasa sangat cepat. Semua larut dalam diam. Pasti ada sesuatu yang mengkhawatirkan. Noura kembali melirik Sudarman. Pria itu nampak diam seribu bahasa. Aku akan bertanya padanya nanti, ucap Noura dalam hati.
Akhirnya sampai juga di depan rumah. Bergegas Noura menuju pintu belakang. Hanya itu akses paling aman untuk memasuki rumah dan menghindar dari kemarahan Mama. Mama pasti akan memarahinya habis-habisan karena ulahnya tadi pagi yang kabur menyelinap menghindari belajar menjahit.
Sebelum membuka pintu dan masuk ke dalam, Noura bergegas menemui Sudarman yang masih terduduk di halaman samping.
"Siapa orang yang bertengkar dengan Papa tadi di perkebunan, Darman? apa kau tahu?" ekspresi Noura terlihat begitu penasaran.
Dengan ragu Sudarman menjawab, "orang itu hanya seorang penganggu bagi bisnis Tuan. Nona tidak perlu khawatir. Saya akan selalu menjaga dan melindungi Tuan sekelurga."
Sudarman pun pamit dan segera menyambar sepeda onthel miliknya yang merupakan pemberian Opa Willy untuk segera pulang ke rumahnya di kampung belakang. Jalanan sudah gelap, lampu kecil yang terpasang di dekat stang sepeda membantunya untuk penerangan.
__ADS_1
Malam itu Mama tidak memarahinya. Tapi dari raut wajahnya menunjukkan kekesalan yang teramat dalam. Mama tidak menegurnya, tidak juga memandangnya bahkan melengos saat bertemu mata dengannya. Noura tahu, pasti semua itu karena ulahnya tadi pagi. Noura menuju ke dapur dan meminta Nimah agar makan malam untuknya diantar saja ke kamar. Malam ini dia tidak ingin makan malam bersama. Dia merasa tidak sanggup duduk satu meja dan berhadapan dengan Mama.
...****************...
"Hey, kenapa kau tidak makan malam bersama tadi? apa kau sakit?" Sophia masuk ke dalam kamar dan duduk di samping ranjang yang ditempati Noura. Gadis itu nampak menguap berkali-kali menahan kantuk.
"Aku hanya menghindari Mama. Aku tahu, Mama sedang sangat kesal padaku."
"Ya, Mama sudah bercerita padaku tadi siang. Kau ini kenapa sih? selalu saja membuat kesal Mama. Kau tidak pernah menjadi anak manis dan penurut. Sampai kapan kau akan seperti ini?" tanya Sophia sambil melepas kacamatanya.
"Aku hanya tidak ingin dipaksa. Aku tidak suka menjahit dan aku lebih suka berkebun.Bukankah itu juga baik? Mama memang tidak pernah mendukungku. Beda dengan Papa. Papa selalu baik dan mendukungku,"
"Jujur aku sangat terkejut. Dan aku terus mendengarkan percakapan mereka. Mama mengatakan kalau Frankie sangat menyukaimu. Mamanya Frankie juga berkata pada Mama kalau dia sangat berharap kalian berdua bisa berjodoh dan segera menikah," dengan santai Sophia bercerita.
"Kau masih ingat? ketika di gereja, Frankie selalu mencuri-curi pandang ke arahmu secara diam-diam. Aku pernah sesekali memperhatikannya, tatapan matanya tidak pernah lepas menatapmu,"
Noura mendengus kesal, "aku tidak tertarik padanya. Kenapa bukan kau saja yang mendekati dia?"
"Hahaha. Kau kan tahu, aku sedang tidak berminat untuk menjalin kedekatan khusus dengan pria saat ini. Aku sedang mempersiapkan diri untuk belajar di sekolah kedokteran tahun depan. Hanya itu tujuan dan minatku saat ini. Aku tidak akan menikah sebelum aku jadi dokter. Maka aku mengizinkanmu jika ingin mendahuluiku menikah!" ucap Sophia dengan lugas.
"Aku belum terpikir untuk menikah. Aku juga tidak menyukai Frankie. Menurutku, penampilannya sedikit aneh dan dia bukan tipeku," jawab Noura sedikit ketus.
__ADS_1
"Hey, kau tidak boleh begitu. Kelihatannya dia baik dan sopan. Mama tadi berkata, mungkin jika menikah dengannya kau bisa berubah menjadi lebih dewasa."
"Aku tidak mau!!!!" tukas Noura. Dan pikirannya kembali menghadirkan sosok Frankie yang menurutnya secara fisik kurang menarik. Frankie yang bertubuh pendek dan sedikit gemuk, berkacamata dan selalu menunduk setiap kali berjalan.
Dan seketika hadir sosok Sudarman dalam pikirannya. Sosok pria pribumi berkulit sawo matang dengan tubuh tegap dan wajah manis yang disukainya. Tapi apakah bisa dia dan Sudarman bersatu? walau bagaimanapun mereka berdua berasal dari kelas yang berbeda. Sangat tidak mungkin dan....
"Apa ada pria yang sedang kau sukai saat ini?" tanya Sophia.
Noura menggeleng cepat. Malam ini kenapa Sophia begitu ingin tahu ya?
"Apa kau menyukai Sudarman? aku lihat kalian sering mengobrol dan kau sering tersenyum padanya."
"Tentu saja tidak. Dia hanya sering membantu dan menemaniku," jawab Noura cepat.
"Mengapa kau menebak-nebak seperti paranormal?" Noura mulai jengkel.
"Aku hanya bertanya. Kau tidak usah marah. Kalau kau tidak menyukai Frankie dan sudah menyukai pria lain, katakan saja pada Mama," Sophia melepas ikatan rambutnya sebelum akhirnya merebahkan tubuhnya di ranjang.
Mereka memang selalu seperti itu. Mengobrol di kamar selalu menjadi aktivitas rutin bagi kedua kakak beradik itu sebelum tidur.
Bersambung.
__ADS_1