
Kemana mereka akan membawa kami? hanya teriakan parau dan isak tangis dari yang para wanita dan anak-anak yang memecah kengerian di malam itu.
Kemana Mama dan Magda? Bukankah tadi Mama dan Magda ada di belakang kami? Tuhan, lindungilah Mama dan Magda. Entah siapa dan darimana datangnya mereka?
Pasrah. Hanya itu yang dapat kami lakukan. Kami terus berjalan di bawah komando mereka. Pukulan, hardikan dan makian terus menghujani kami. Ya Tuhan, Di manakah hati nurani mereka. Mereka menggiring kami bak hewan ternak. Bahkan ada yang mengalungkan seutas tali ke leher ke salah satu di antara warga. Hingga akhirnya kami tiba di stasiun Depok.
Kami dipaksa naik ke dalam salah satu gerbong yang menuju ke arah Bogor. Penuh berdesak-desakan. Aku nyaris pingsan karena tidak bisa bernafas. Yang bisa kulakukan hanya bersandar pada lengan Papa. Aku sudah benar-benar pasrah pada keadaan. Hingga akhirnya kereta berhenti di daerah Bogor.
Kami terus digiring hingga memasuki sebuah gedung tua. Dari omongan yang kudengar dari percakapan dua pemuda di sebelahku, kalau para wanita dan anak-anak dibawa ke Gemeentee Bestur.
"Ampun....Tolong jangan siksa kami!" pinta seorang pria paruh baya. Pria itu adalah Tuan Grant, seorang pria indo berdarah campuran Ambon dan Belanda. Dia baru pindah ke lingkungan sekitar rumah kami. Bekerja di salah satu perkebunan milik peninggalan Tuan Cornelis.
Bruuuk!!! suara keras terdengar begitu keras. Sesuatu menghantam kepala Tuan Grant. Darah segar mengucur dari bagian tengah kepala hingga pelipisnya. Tuan Grant jatuh tersungkur.
Pemandangan semakin mengerikan saat orang-orang itu semakin membabi buta menyiksa dan memukul kami.
"Hentikan!!!!!" tiba-tiba Jacobus berteriak dengan lantang. Papa bersigap menutup mulut Jacobus bermaksud melindungi agar pemuda pemuda laskar itu tidak mendekati kami.
Dan apa yang terjadi selanjutnya sungguh sangat menakutkan. Seorang pemuda bertubuh kurus dengan tatapan tajam mendekati Jacobus dan membacok kepalanya. Darah segar mengucur di sisi kepalanya sebelah kiri.
__ADS_1
"Cukup sudah....Kumohon jangan siksa anakku!" pinta Papa. Dan aksi berdarah semakin brutal. Hampir semua orang yang ditawan mendapatkan bacokan di kepala.
Ya Tuhan, lindungilah kami! hanya itu yang bisa kuucapkan dalam hati.
Berhari-hari kami terkurung di sini. Menahan haus dan lapar. Beberapa orang tergeletak. Ada yang menahan sakit ada juga yang sudah menemui ajal. Darah terus mengucur dari kepala Jacobus. Papa menutup luka bacokan di kepalanya dengan sehelai kain serbet agar tidak terus keluar. Entah darimana Papa mendapatkan kain itu. Aah aku baru ingat, saat orang-orang itu datang dan menggedor rumah kami, kami sedang makan malam dan Papa saat itu sedang memegang serbet makan. Dan kain serbet itu terus dibawanya dan tanpa sadar dimasukkan ke dalam saku celananya.
Akhirnya beberapa bulan kemudian, pertolongan pun datang... Saat kami benar-benar pasrah, sekelompok tentara berkulit putih datang menyelamatkan kami. Diawali dari pembicaraan mereka yang cukup alot dengan sekelompok laskar pemuda dan kemudian kami pun dibebaskan. Belakangan aku tahu kalau mereka adalah tentara NICA.
Ya, tentara NICA datang dan membebaskan kami. Kami pun diangkut dan dibawa lagi ke Depok. Pikiranku kembali tertuju pada Mama dan Magda? Bagaimana keadaan mereka?
Sesampai di Depok. Suasana masih mencekam. Rumah-rumah dan gereja nampak porak poranda. Beberapa warga di lingkungan rumah kami tewas dengan kondisi mengerikan. Kami kembali berkumpul di gereja sebelum akhirnya kembali ke rumah kami masing-masing.
Di situlah akhirnya kami bisa bertemu lagi dengan Mama dan Magda, setelah berbulan-bulan lamanya. Kami sangat bersyukur, Tuhan masih melindungi keluarga kami. Kami semua berpelukan sambil menangis. Magda terlihat sangat kurus dan lemah. Begitu juga Mama. Untunglah ada petugas medis yang sigap menolong mereka dan memberikan perawatan. mereka menderita dehidrasi dan kelaparan yang cukup parah. Kondisi yang sama juga dialami oleh sebagian besar warga yang ditawan. Di dalam kamp tawanan, mereka hanya mendapatkan makanan dan minuman sekadarnya yang jauh dari kata layak.
Membaca lembaran catatan harian Rueben membuatku terasa kembali ke masa lalu. Pikiranku dipenuhi dengan gambaran akan peristiwa kelam yang dialami leluhur dari Jordan.
"Kenapa Bang? Kok malah melamun?" tanya Jordan mengejutkanku.
"Tidak. Hanya merasa terhanyut pada kisah tentang keluarga leluhurmu. Aku membayangkan saat peristiwa itu terjadi. Pasti sangat mengerikan!" aku menatap lagi lembaran catatan yang sudah sangat usang namun masih dapat terbaca itu sekali lagi.
__ADS_1
"Luar biasa. Catatan fantastis seperti ini masih tersimpan sangat rapih. Ini luar biasa mahal," lagi-lagi aku menyatakan kekagumanmu."
"Catatan itu diambil dari buku harian Opa Rueben. Dan lalu dirapihkan oleh Opa Jacobus. Bisa dikatakan Opa Jacobus yang membukukan catatan-catatan itu."
"Kenapa bukan Opa Rueben sendiri yang membukukannya?" tanyaku berbasa basi.
"Karena Opa Rueben sudah berpulang tujuh belas tahun kemudian dari peristiwa itu. Kurang lebih tahun 1962. Beliau meninggal di usia muda. Sekitar 32 tahun. Akibat kanker getah bening," Jordan menjelaskan.
"Opa Rueben juga seorang jurnalis seperti Papa. Mungkin dari situlah, darah jurnalis Papa muncul. Satu-satunya yang menuruni jejak menjadi jurnalis di keluarga besar kami hanya Papa. Eeh, tidak deh! sepupuku Dave juga menaruh minat besar pada dunia tulis menulis dan juga fotografi."
Untuk kesekian kalinya aku berdecak kagum. Begitu rapih penyimpanan arsip-arsip dan dokumentasi ini. Seketika muncul keinginan kuat untuk mengulik lebih jauh tentang keluarga leluhur Jordan Winhern.
"Boleh aku lihat foto-foto keluargamu leluhurmu?"
Bersambung.
Keterangan :
NICA atau singkatan dari Netherland Indies Civil Administration yang disiapkan untuk menguasai Hindia Belanda kembali jika Jepang menyerah.
__ADS_1
NICA adalah badan yang bertugas sebagai penghubung antara Pemerintah Kolonial Belanda di pengasingan dengan Komando Tertinggi Sekutu di Pasifik.
Kemudian, H.J. Van Mook dari pemerintah Belanda serta Panglima tertinggi pasukan sekutu pada perang dunia 2 Jenderal Douglas MacArthur dari tentara Amerika Serikat, menyepakati bahwa jika nanti Hindia Belanda berhasil direbut oleh pasukan sekutu, maka Hindia Belanda akan diserahkan kepada pemerintahan sipil NICA.