NOURA VAN KEMMERS

NOURA VAN KEMMERS
Mpek-Mpek Hambar


__ADS_3

"Kau makan apa?" Noura menatap mangkuk berisikan Mpek Mpek yang sedang kumakan. Sore ini, dia tiba-tiba muncul di kamarku.


"Ini namanya Mpek-Mpek, makanan khas dari Palembang, terbuat dari tepung berbahan dasar ikan. Ini enak banget loh."


Noura memandang ekspresi wajahku yang sedang mengunyah dengan sangat serius. Apa dia penasaran ingin mencicipi ya?


"Kamu mau coba? ini enak sekali. Termasuk salah satu makanan terenak. Ini buatan Mamaku. Mpek-Mpek buatannya selalu laris terjual. Cobalah, sekali coba, kamu pasti ketagihan, hehehe," aku menyodorkan sendok ke dekat mulutnya.


"Ada-ada saja kau. Aku belum pernah mencobanya. Semasa hidup aku tidak pernah mendengar nama makanan itu. Aku yakin, pasti rasanya sangat enak. Tidak ada makanan yang tidak enak di negeri ini. Aku suka semua makanan. Aku suka sate ayam, nasi goreng, lontong opor, gulai ayam, onde-onde, dan masih banyak lagi. Dulu, Nimah sering memasak untuk keluargaku," ucap Noura dengan pandangan menerawang.


"Cobalah ini. Kamu pasti suka," ujarku dengan tatapan memaksa.


Noura membuka mulutnya dan mulai mencicipi. Ada-ada saja ini, bagaimana bisa ada hantu mencicipi Mpek-Mpek.

__ADS_1


"Kau benar. Rasanya sangat enak," Noura berdesis seperti kepedasan.


Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya. Aku pun kembali menyuap potongan Mpek-Mpek yang masih tersisa. Tapi, kenapa ini ya? Kenapa rasa Mpek-Mpek ini jadi aneh. mendadak jadi hambar dan tidak terasa apa-apa.


Mendadak aku teringat kata-kata Noura tempo hari kalau makanan yang sudah dicicipi hantu, rasanya pasti berubah. Ternyata benar.


"Mpek-Mpek ini rasanya langsung hambar setelah kamu cicipi. Rasanya jadi aneh. Tidak ada gurih, pedas dan manisnya. Tidak terasa apa-apa," ujarku.


"Hahahaha. Mulai esok, jangan pernah tawari aku makanan lagi, kalau kau tidak ingin rasa makananmu menjadi hambar," balas Noura.


"Mas Bayu ngobrol sama siapa sih? dari tadi rame banget. Sampe kedengeran dari luar," tanya Galih.


Aku baru sadar, kamar Galih berseberangan dengan kamarku. Pantas saja, dia mendengar. Biasanya sudah tidur ni anak, gumamku dalam hati. Galih kan paling tidak bisa begadang.

__ADS_1


"Lagi ngobrol di grup whatsapp sama teman-teman kuliah, sekalian nonton youtube. Kamu tumben jam segini belum tidur?"


"Lagi ngerjain tugas Mas. Baru mau merem, suara Mas Bayu kedengaran sampai ke kamar. Kayak lagi ngobrol sama seseorang."


"Hush. ngaco kamu. Gak ada siapa-siapa di kamarku. Aku cuma ngobrol via online sama teman-teman. Sudah, tidur lagi sana!" perintahku.


Sebagai anak kedua, Galih memang agak sungkan dan nurut denganku. Mungkin karena jarak usiaku lumayan jauh darinya. Terlebih lagi, Galih jauh lebih pendiam dan tidak banyak bicara. Beda dengan Ratna yang terkadang urakan dan berani membantahku.


Galih pun masuk ke kamarnya. Aku beranjak ke dapur untuk menaruh mangkuk bekas Mpek-Mpek ke wastafel. Saat di dapur aku dikejutkan dengan sosok Mbak Siti yang sedang berdiri di sudut pintu samping dengan pandangan ke arah luar jendela. Pandangannya dengan nyalang menatap halaman belakang.


"Mbak, ngapain di sini? Mbak belum tidur?" tanyaku.


Dia tidak menjawab. Pandangannya terlihat begitu tajam dan serius.

__ADS_1


"Mbak! halo? ngapain di sini?" aku mengeraskan suaraku. Jujur, aku agak merinding melihat ekspresi wajahnya. Kaku dan dingin. Sangat aneh. Ini sudah jam satu malam.


Bersambung.


__ADS_2