
Wanita yang berasal dari tanah pasundan itu belum lama menginjakkan kakinya di Batavia. Perkenalannya dengan Heintje berawal ketika dirinya yang juga seorang sinden sedang manggung di acara perayaan peresmian pabrik milik teman akrab Heintje di Cianjur.
Sejak pertama kali melihatnya, Heintje langsung terpikat, dan menyatakan keinginannya untuk membawa wanita itu untuk tinggal bersamanya di Batavia.
Heintje sendiri sudah beristri dan memiliki tiga anak. Hanya saja istrinya lebih memilih untuk menempati rumah mereka di Buitenzorg. Cuaca Batavia yang terkadang panas membuatnya tidak betah. Begitu juga dengan anak-anaknya. Di Buitenzorg, Hentje Van der Boon memiliki beberapa lahan peternakan dan perkebunan. Semua orang mengenalnya sebagai tuan tanah yang baik hati dan senang berbagi.
Sebagai seorang Nyai, Sumiyati selalu berusaha menyenangkan hati Heintje. Meskipun Heintje sudah tidak muda lagi, tapi laki-laki itu sangat royal dan memberikan apa saja yang diinginkannya.
Dua tahun menjadi Nyai, Heintje sudah memberinya banyak perhiasan, uang, juga sebidang tanah di Cianjur. Sedikit kekhawatiran muncul dalam diri Sumiyati, yaitu ketakutan jika istri dan anak-anak Heintje datang ke rumah dan mengetahui tentang dirinya yang seorang Nyai. Dia tidak sanggup membayangkan. Dia juga tidak rela jika sampai kehilangan sumber kekayaannya.
...****************...
"Besok akan kuberikan uangnya. Aku ada urusan di kantor Kong koan sekitar jam sepuluh pagi. Tapi sebelumnya akan kuluangkan waktu untuk ke De Javasche Bank terlebih dahulu untuk mengambil uang, " ucap Heintje.
"Baiklah...Aku akan menemanimu," ujar Heintje menanggapi.
"Tidak perlu. Kau tunggulah di sini. Aku tidak akan lama." Tentu saja Heintje sangat keberatan jika Johans Alois ikut menemaninya ke De Javasche Bank, mau taruh di mana wajahnya jika nanti di Bank dia bertemu dengan sesama rekan pengusaha dan mereka melihat keberadaan Johans Alois, sang mantan narapidana kasus korupsi ada bersama dirinya.
"Aku tidak akan meninggalkan rumahmu, sebelum kau memberikan uang itu. Kau tidak perlu merasa takut. Aku akan mengembalikan uang itu suatu saat nanti jika aku telah kembali berjaya," tutur Johans Alois.
Heintje hanya mengangguk. Dia hanya menginginkan Johans segera angkat kaki dari rumahnya saat ini dan tidak lagi mengganggunya.
Heintje mengajak Johans menuju meja makan. Sarapan pagi sudah terhidang di meja. Ada banyak menu makanan yang tersaji. Mulai dari roti isi daging, roti meises, susu, kopi, nasi goreng, kue Gandjellrell, macaroni panggang, kroket kentang, sup Brunebon, dan kue Onbijtkoek.
__ADS_1
"Wah, luar biasa. Ada begitu banyak makanan. Apa kau menghabiskan semua?" tanya Johans sambil memandangi seisi meja yang penuh sajian yang menggugah selera. Rasanya sudah lama sekali dia tidak menyantap makanan-makanan itu.
"Apa kau sengaja menyiapkan makanan sebanyak ini untukku?"
"Tidak juga. Aku terbiasa sarapan dengan menu yang banyak seperti ini. Jika tidak habis, aku akan memberikannya pada pekerja di rumah ini," tukas Heintje sambil menyeruput kopinya.
Lalu Nyai Sumiyati muncul dari dalam kamar dan berjalan dengan anggunnya menuju meja makan. Sambil tersenyum, dia duduk di sebelah Heintje dan mulai menyiapkan piring dan sendok untuk pria itu.
Lagi-lagi Johans Alois berdesir melihat wanita itu. Ssnyuman wanita itu seperti mengandung magis. Sangat menggoda. Seperti ada sensasi luar biasa yang membuat siapa saja betah memandangi wanita ini. Pantas saja Hentje bertekuk lutut.
Sepertinya wanita-wanita cantik di Macao Po kalah menarik jika dibandingkan dengan wanita ini. Johans yang beberapa kali pernah mengunjungi Macao Po dan melihat jejeran wanita cantik di sana berani bertaruh, tidak ada yang menandingi pesona wanita pribumi ini.
Heintje menggengam tangan wanita pribumi itu dan menciumnya berkali-kali. Seolah ingin memamerkan pada Johans Alois betapa beruntungnya dia bisa memiliki wanita secantik itu.
Selesai sarapan, Heintje van der Boon menggandeng tangan wanita itu dan berjalan menuju mobil. Tujuannya adalah ke kantor Kong koan dan De Javasche Bank. Johans Alois diminta untuk menunggu di rumah.
...****************...
Bersambung.
Keterangan:
* Kong Koan (bahasa Belanda: Chineesche Raad; bahasa Indonesia: Raad Tjina) adalah suatu dewan pemerintahan Tionghoa di kota-kota besar Hindia Belanda. Anggota Dewan adalah para Opsir Tionghoa yang merupakan birokrat sipil di kota-kota tersebut, diketuai oleh Opsir Tionghoa paling senior.
__ADS_1
sumber : wikipedia Indonesia
* De Javasche Bank (DJB) merupakan bank swasta milik Belanda yang didirikan oleh Komisaris Jenderal Du Bus de Gisingnies pada 24 Januari 1828.
Tujuan Belanda mendirikan DJB adalah untuk mengatasi masalah perekonomian yang menimpa Koloni Hindia Belanda setelah VOC bangkrut.
Namun, pasca-kemerdekaan, Indonesia melakukan nasionalisasi DJB. Nasionalisasi De Javasche Bank dijalankan pada masa pemerintahan Kabinet Sukiman.
Setelah dinasionalisasi, De Javasche Bank berubah menjadi Bank Indonesia.
Sumber : Kompas.com
* MACAO Po adalah lokalisasi pelacuran yang terletak di depan Stasiun Beos atau sekarang disebut Stasiun Jakarta Kota. Kawasan prostitusi ini merupakan yang pertama di Jakarta dan bangunannya berupa rumah tingkat yang berada di depan Stasiun Beos.
Mengambil nama Macao Pao karena pelacur yang didatangkan berasal dari Portugis dan China.
Para pelacur ini didatangkan untuk melayani tentara Belanda di sekitar Binnenstadt (sekitar kota Inten di terminal angkutan umum Jakarta Kota sekarang).
Kawasan Macao Po juga menjadi persinggahan orang China tajir yang mencari ingin hiburan.
Tak heran, Macao Po identik dengan lokalisasi kelas atas bahkan pengunjungnya kebanyakan para pejabat VOC.
Pejabat yang ke sana juga terkenal sebagai pejabat hitam yang gemar bermain wanita dan korupsi.
__ADS_1
sumber : Kompas.com
Mohon like dan komennya ya Guys....Thnx u..