NOURA VAN KEMMERS

NOURA VAN KEMMERS
Ada apa dengan Sudarman?


__ADS_3

Pandangannya berkunang-kunang, dadanya terasa panas dan sesak. Tubuhnya kian limbung hingga akhirnya dia jatuh dan ambruk tak sadarkan diri.


"Kerja bagus. Mari kita bergerak cepat. Selagi hari masih gelap dan perkampungan masih sepi."


Dua orang bertubuh kekar memapah tubuh Sudarman dan membawanya berjalan menuju jalan setapak yang berhadapan dengan jalan beraspal, tepat di mana sebuah mobil Jeep menunggu mereka. Mereka mendudukkan Sudarman di kursi belakang. Seorang pria kulit putih dengan rambut pirang kemerahan memegang kemudi stir. Jeep pun berjalan menembus malam. Pria kulit putih itu tersenyum puas. Satu rencana telah berhasil dijalankan. Tidak sia-sia. Berkali-kali dia memuji keberhasilan orang yang disuruhnya. Mobil terus melaju menuju Gang Pool, daerah Tjikini ( Cikini).


Hingga akhirnya jeep berhenti di depan sebuah Rumah sakit Ratu Emma ( sekarang Rumah Sakit PGI Cikini). Suasana malam nampak begitu sunyi dan senyap. Mereka makin cepat bergerak. Suasana sepi dan senyap tidak boleh disia-siakan. Tubuh Sudarman yang sudah tidak berdaya digeletakkan di pelataran depan rumah sakit di balik rerimbunan pohon-pohon kecil. Mereka sengaja melakukan hal itu dengan harapan, petugas rumah sakit akan mudah menemukannya dan menolongnya untuk penanganan medis. Jika nyawanya sudah tidak dapat ditolong, dia bisa dikuburkan di halaman belakang rumah sakit sebagai mayat yang tewas namun tanpa identitas.


...****************...

__ADS_1


Sudarman tidak mengetahui jika pria paruh baya yang mendatangi rumahnya dan mengaku sebagai ayah dari seorang pekerja perkebunan adalah Sodikin. Sodikin yang menyamar sebagai pria tua telah membuntutinya sejak dia berjalan di depan rumah keluarga Van Kemmers pagi tadi.


Sodikin juga bertanya kepada salah satu warga kampung yang tinggal di dekat rumah Sudarman. Informasi tentang rumah Sudarman yang terletak di kampung belakang didapatkan dari Sadeli. Beberapa hari yang lalu, dia menanyakan kepada Sadeli tentang siapa itu Sudarman dan di mana tempat tinggalnya.


Penyamarannya berhasil. Sudarman tidak bisa mengenalinya.Penampilannya yang dirombak total bak laki-laki tua yang lusuh berhasil mengelabui Sudarman. Aktingnya sebagai orangtua yang sedang kebingungan berhasil membuat Sudarman luluh dan menyambutnya dengan ramah saat di rumahnya.


Saat Sudarman sedang membersihkan diri di belakang, dengan sigap Sodikin menaburkan bubuk Arsenik ke ceret minuman. Sudarman yang dengan polosnya menuangkan air putih dari ceret ke dalam gelas dan meminumnya saat habis.


Hanya dalam waktu 30 menit, racun Arsenik itu segera bereaksi. Dalam hitungan menit, Sudarman langsung memegangi kepalanya dan terhuyung-huyung menahan sakit. Tidak hanya itu, ceceran muntah juga menjadi saksi dirinya telah sekarat pada malam itu.

__ADS_1


Semua berjalan sesuai rencana. Tak ada lagi yang membuat Johans Alois khawatir sekarang. Dia akan terus mencari surat tanah perkebunan itu sampai ketemu. Tidak akan ada lagi yang menghalanginya. Dia berencana untuk Tjibinung beso., Siapa tahu, Johans Alois menyimpan berkas surat tanah perkebunan itu di rumah dinasnya yang berada di perkebunan.


Berkali-kali dia memuji kecerdasan dari Sodikin. Tidak seperti Centeng lainnya yang hanya mengandalkan otot, Sodikin berhasil mengandalkan strategi dan penyamaran. Sepanjang perjalanan dari rumah sakit Ratu Emma, mereka tertawa terbahak-bahak. Seolah ingin merayakan kemenangan, Johans Alois membawa para Centeng ke tempat tinggalnya untuk berpesta bir.


Kemenangan kecil itu harus dirayakan. Kelak, jika surat tanah perkebunan itu berhasil ditemukan, dia akan meraih kembali pundi-pundi kekayaannya. Tidak akan ada lagi, Johans Alois yang mantan orang tahanan. Yang ada adalah Johans Alois yang seorang pengusaha perkebunan terkaya. Terbayang dalam benaknya, pesona kecantikan Nyai Sumiyati yang menggugah hasratnya. Wanita itu akan menjadi milikku, sebentar lag**i. Hanya milikku. Akan kubuat dia meninggalkan Heintje dan hanya berpaling padaku..Bisiknya di dalam hati.


...****************...


Suasana perkampungan di belakang rumah keluarga Van Kemmers masih sepi. Tidak ada satu pun warga kampung yang keluar rumah saat malam itu. Tidak ada yang melihat dan menyaksikan bahwa malam itu Sudarman telah dibuat meregang nyawa di rumahnya sendiri. Tidak ada juga yang melihat ketika Sodikin mengendap-endap keluar dari rumah itu dan berjalan cepat menuju rumah keluarga Van Kemmers untuk melaporkan hasil kerjanya. Lalu Johans Alois beserta para Centeng mengikutinya dari belakang dan mereka memapah tubuh Sudarman dan membawanya berputar-putar naik Jeep untuk mencari lokasi pembuangan yang tepat.

__ADS_1


Batal sudah rencana yang sudah dipersiapkan Sudarman. Ajal telah memanggilnya. Selimut tebal dan kotak roti yang sudah dipersiapkannya untuk Noura hanya tergeletak rapi di sudut meja. Tidak ada yang bisa mengantarkan dua benda itu ke gubuk di mana Noura bersembunyi.


Bersambung.


__ADS_2