
"Jadi dia mengancammu?" tanya Nyonya Helena.
"Kau sudah jelaskan padanya kalau tanah perkebunan itu adalah milik ayahmu yang sekarang diserahkan sepenuhnya kepada kita. Ini tidak bisa dibiarkan. Kita harus memberitahukan Papa," ujar Nyonya Helena lagi.
"Tidak sekarang. Biar aku yang menanganinya sendiri. Aku tidak mau membebani pikiran Papa. Kondisi kesehatan Papa semakin buruk belakangan ini," jawab Tuan Adrian.
Pikirannya kembali tertuju pada sosok Sang Ayah yang kondisi kesehatannya sedang menurun. Dalam surat terakhirnya, Sang Ayah mengatakan kalau dia sudah tidak mampu berjalan jauh, pandangannya sering kabur dan pusing.
Tapi Sang Ayah tetap berkata padanya agar tidak perlu khawatir. Selama di Harlingen, ada beberapa saudara yang merawat. Tuan William Van Kemmers hanya meminta dia untuk fokus pada usaha perkebunan yang kini sedang dia kelola.
"Aku akan melawan Johans Alois dengan caraku sendiri. Tak kan kubiarkan dia merebut paksa apa yang bukan menjadi haknya. Tuduhan kalau Papaku yang telah merebut tanah perkebunan di Tjibinung (Cibinong) darinya adalah tidak benar. Dan itu hanya akal-akalan dia saja."
"Kau sudah tunjukkan surat-surat tanah itu?" tanya Nyonya Helena.
"Tentu saja sudah. Tapi dia malah mengatakan kalau surat-surat itu palsu dan dia memiliki yang aslinya. Dia menantangku untuk menunjukkan keaslian dari surat-surat itu."
"Aku tidak takut dengan segala ancamannya. Meski beberapa orang mengatakan kalau Johans Alois adalah orang yang berbahaya, aku tidak akan gentar. Tak kan kubiarkan siapa pun merebut tanah perkebunan itu. Tanah itu adalah milik Papa. Harta kekayaan kita. Kau tahu sendiri kan, tanah perkebunan itu sudah semakin berkembang baik. Hasil yang peroleh juga sangat lebih dari cukup."
"Kita bisa punya tabungan untuk menyekolahkan Sophia untuk bisa menjadi dokter. Kita juga punya uang yang cukup untuk menyekolahkan Benjamin di Netherland. Semua dari hasil perkebunan. Aku ingin salah satu dari Noura atau Benjamin yang kelak akan meneruskan perkebunan itu."
__ADS_1
"Bahkan aku berencana dalam waktu dekat ini, aku ingin mengundurkan diri saja dari Herverman. Aku ingin fokus mengurus perkebunan kita saja," ucap Tuan Adrian dengan berapi-api.
Herveman adalah salah satu perusahaan perkebunan terbesar milik salah satu pejabat VOC di Batavia. Bisa dikatakan Herverman adalah sisa-sisa peninggalan dari kejayaan VOC di masa lampau. Lokasi Herveman berada di ommelanden Batavia (daerah sekitar Batavia). Adrianus Van Kemmers sudah bekerja di Herverman sejak pertama kali kedatangannya ke Hindia Belanda. Dia menggantikan jabatan ayahnya sebagai kepala administrasi perkebunan. Sebagai perusahaan perkebunan yang dulunya milik VOC, Herverman berkembang sangat pesat. Hasil komoditasnya yang mayoritas berupa buah-buahan dan sayur-sayuran sangat unggul dibandingkan dengan daerah-daerah sekitar. Bisa dikatakan Herverman menjadi salah satu pemasok kebutuhan sayur dan buah untuk Tanjung Oost Passer (sekarang disebut dengan Pasar Minggu) dan daerah-daerah sekitarnya.
Sebagai kepala staf administrasi, Adrianus mendapatkan penghasilan yang cukup besar, namun ada kepuasan tersendiri baginya ketika mengelola perkebunan milik sendiri dan mendapatkan keuntungan yang maksimal. Pendapatannya dari perkebunan karet nyaris mencapai tiga kali lipat dari gajinya di Herverman.
Noura mendengarkan dengan seksama percakapan kedua orangtuanya. Rasa haus membuatnya terbangun dan berjalan menuju dapur. Dari sisi depan dapur, terdengar jelas percakapan kedua orangtuanya dari dalam kamar.
Jadi itu penyebabnya? Papa mendapat ancaman dari orang yang bernama Johans Alois? dan dia bermaksud ingin merebut tanah perkebunan Opa? kasihan Papa, ucap Noura dalam hati.
Perlahan-lahan dia berjalan dan memasuki kembali kamarnya. Ditatapnya Sophia yang sedang meringkuk di balik selimut dengan pulasnya. Andai Sophia terbangun, pasti Noura akan mengajaknya berbicara tentang hal ini.
"Untuk beberapa hari ini, kau jangan ikut ke perkebunan dulu. Jangan ganggu kesibukan papamu. Lebih baik, kau bantu Mama menata tanaman-tanaman ini," pinta Mama. Dan Noura menyetujuinya. Paling tidak, dengan cara itu, dia berhasil membuat Mama tidak marah lagi padanya. Dibantu dengan Sadeli, dia berhasil menata taman di halaman samping menjadi lebih cantik dan apik.
Tidak hanya bunga dan tanaman hias, Noura juga menyemai beberapa bibit pohon buah di taman itu. Kesibukan di taman selama kurang lebih tiga hari membuatnya lupa akan situasi di perkebunan.Termasuk tentang ancaman dan teror yang dialami Papa di perkebunan oleh Johans Alois dan anak buahnya yang terjadi selama tiga hari itu.
Bersambung.
Terima kasih bagi yang sudah mengikuti cerits ini. Mohon like dan komennya....Thanx you.
__ADS_1
Keterangan :
Pasar Minggu yang terletak di Jakarta Selatan dulunya dikenal dengan sebutan Tanjung Oost Passer. Beroperasinya pasar ini hanya pada hari Minggu saja.
Saat itu, wilayah Pasar Minggu merupakan bagian ommelanden Batavia (daerah kitaran Batavia) di bawah Distrik Meester Cornelis (Jatinegara) yang pada pertengahan pada 1920, Pasar Minggu dipindahkan ke dekat rel kereta api dan berseberangan dengan terminal bus. Dulu, Pasar Minggu dikenal sebagai pasar pemasok buah-buahan.
Kemudian, pada 1 April 1921 pemerintah Hindia Belanda resmi menjadikan Pasar Minggu sebagai sentra buah-buahan. Kemudian, mereka juga membangun laboratorium pertanian berupa kebun percobaan.
Menurut Asep Suryana dalam bukunya Pasar Minggu, Tempo Doeloe: Dinamika Sosial Ekonomi Petani Buah 1921-1966, fungsi sosial ekonomi wilayah Pasar Minggu sebagai penghasil buah-buahan dan dinamika hubungan pinggiran-pusat yang terbentuk merupakan hasil dari kebijakan wilayah pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Pada 1930, pemerintah Hindia Belanda membangun Pasar Minggu dengan lantai ubin bertiang besi dan beratap seng. Lokasinya di terminal bus dan tempat PD Pasar Jaya.
Setelah Indonesia Merdeka, pemerintah tidak memperlakukan khusus Pasar Minggu. Namun, wilayah itu masih sangat produktif memasok kebutuhan buah-buahan untuk kota besar di Pulau Jawa hingga 1970-an.
Kini, Pasar Minggu tidak lagi identik dengan buah-buahan. Pasar Minggu menjual berbagai kebutuhan. Aktivitas di pasar ini berlangsung pada hari-hari lainnya, tapi hari yang paling ramai dikunjungi tetap hari Minggu. Saat itu, bangunan pasar belum permanen.
Diketahui, Kecamatan Pasar Minggu yang diambil dari nama Pasar Minggu memiliki batas di sebelah timur dengan Kali Ciliwung/Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur; sebelah utara dengan Kecamatan Mampang Prapatan dan Pancoran; sebelah barat dengan Kecamatan Cilandak; serta sebelah selatan dengan Kecamatan Jagakarsa.
Sumber : Sindonews.com
__ADS_1