
Urusan penggalian tanah selesai. Meski masih dilanda rasa takut dan cemas, Johans Alois akhirnya meninggalkan lokasi tepian Kali Pesanggrahan itu. Sepanjang perjalanan kelima Centeng terus meyakinkannya kalau semuanya akan aman. Kalau Kali Pesanggrahan adalah lokasi sepi yang jarang didatangi oleh penduduk dan bahwa tidak akan ada yang menemukan lokasi tempat pembuangan ke delapan jasad keluarga Van Kemmers, dan semua akan berjalan baik-baik saja. Mereka meminta Johans Alois agar tetap tenang dan tidak cemas. berlebihan. Polisi tidak akan mengusut kasus ini, begitu kata para Centeng. Dan mereka akan siap pasang badan, jika kemungkinan buruk terjadi.
Waktu sudah beranjak mendekati pagi. Suasana masih sepi, bahkan kokok ayam belum juga berbunyi. Johans Alois menyusuri jalan kota. Masih dengan Trontom yang dikendarainya sendiri. Trontom yang menjadi saksi bisu peristiwa eksekusi. Ke lima Centeng sudah dia turunkan di pinggir jalan tadi. Dan kini tujuannya adalah kediaman Heintje Van der Boon di sekitar Waltervreden.
Johans Alois mempercepat langkahnya. Entah kenapa dia begitu ingin menemui Nyai Sumiyati pagi itu dan melepas segala ketegangan yang dialaminya pasca melenyapkan delapan nyawa keluarga Van Kemmers.
Pintu rumah Heintje masih tertutup rapat. Sepertinya Heintje masih berada di Buitenzorg. Tidak nampak mobil di depan rumahnya. Johans mulai mengetuk pintu.
...****************...
"Minumlah dulu! Tuan kelihatan pucat. Apa Tuan sakit?" sambil meraba keningnya, Nyai Sumiyati menyodorkan secangkir teh hangat untuknya dan meletakkannya di atas meja.
"Saya sangat terkejut dengan kedatangan Tuan di pagi buta ini. Kenapa baju Tuan kotor dan penuh tanah?" tanyanya.
Johans Alois masih membisu. Penampilannya memang sangat kusut pagi itu. Sisa-sisa tanah menempel di celana dan sepatunya. Lidahnya makin terasa kelu untuk menceritakan semuanya. Bayangan kejadian semalam masih terus melekat di kepalanya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Aku membutuhkan batu mustika seperti yang kemarin kau berikan. Apa kau masih punya? aku belum sempat ke rumah keluarga Van Kemmers, dan batu mustika yang kau berikan padaku kemarin tiba-tiba terjatuh."
"Bagaimana bisa terjatuh?" raut wajah Nyai Sumiyati langsung berubah jengkel.
"Maksudku...Tidak terjatuh. Tapi sepertinya terselip. Aku akan mencarinya lagi nanti di saku celana atau bajuku. Seingatku aku tidak pernah mengeluarkannya dari saku." entah hanya sekedar untuk berbasa basi atau mencari bahan pembicaraan, tiba-tiba secara refleks Johans Alois bertanya seperti itu. Menanyakan tentang batu mustika mira delima yang pernah diberikan Nyai Sumiyati tempo hari.
"Tolong simpan baik-baik mustika itu. Jangan sampai hilang. Batuan Magis itu tidak pernah saya berikan pada sembarang orang."
Haruskah dia menceritakan kalau semalam dia telah menghabisi keluarga Van Kemmers? aah, tidak mungkin. Bagaimana nanti jika wanita ini menceritakannya pada Heintje? aaah, tapi bukankah kemarin dia sudah bercerita pada wanita pribumi ini tentang rencananya untuk merebut kembali tanah perkebunan karet dari tangan keluarga Van Kemmers? bagaimana jika jasad keluarga Van Kemmers berhasil ditemukan dan kabar kematian mereka tersebar luas? bisa saja wanita ini memberikan kesaksian pada yang berwajib.
Berbagai rencana mulai melintas di kepalanya. Dia akan tetap mendatangi rumah keluarga Van Kemmers untuk mengambil surat-surat berharga yang sekiranya bisa dipalsukan. Mungkin dalam dua atau tiga hari ini. Setelah semua berjalan sesuai rencana, dia akan pergi dari kota ini.
"Aku berencana untuk ke luar daerah dalam waktu dekat. Teman lamaku mengajakku untuk berbisnis tembakau di wilayah Oosthaven ( sekarang Bandar Lampung). Ikutlah bersamaku!" ajak Johans Alois.
"Sulit, Tuan. Bagaimana jika Tuan Heintje kembali dari Buitenzorg dan tidak mendapati saya di sini? saya tidak bisa meninggalkannya."
__ADS_1
"Aku akan memberikan apa saja yang kau inginkan. Mungkin tidak sebanyak yang diberikan Tua Bangka itu. Tapi aku akan membuatmu bahagia." Johans Alois memang berniat ingin membawa wanita pribumi itu untuk pergi bersamanya. Dia sudah takluk akan pesona wanita itu dan menginginkannya untuk menjadi miliknya.
Nyai Sumiyati menggeleng berat. Walapun dalam hatinya terbersit rasa suka kepada Johans Alois. Meskipun terlihat garang, tapi lelaki itu cukup gagah dan menarik. Dan pagi itu, mereka kembali menghabiskan waktu bersama. Layaknya pasangan kekasih yang saling meluapkan rasa. Hingga akhirnya, Johans Alois pamit dan bersiap untuk pergi.
"Aku harus mengurus beberapa urusan sebelum berangkat ke Oosthaven. Jika bisnisku berkembang pesat, aku akan datang ke sini dan menjemputmu. Dan aku berharap semoga Heintje Si Tua Bangka itu sudah mati, hahahahahaha..." ujarnya sambil berkelakar.
Sebelum pergi, dia memberikan beberapa lembar gulden kepada Nyai Sumiyati. Dan sebagai balasannya, wanita itu memberikannya sesuatu. Sebuah kalung perak bermata batuan mirah delima dikalungkan ke lehernya.
"Apa ini?"
"Pakailah Tuan, untuk keselamatan selama di perjalanan. Ini kalung bermata batuan Mirah Cempaka. Simpanlah ini baik-baik. Ini tanda mata dari saya."
Bersambung.
Mohon like dan votenya ya Guys....Thnx alot.
__ADS_1