NOURA VAN KEMMERS

NOURA VAN KEMMERS
Sehari sebelum malam Natal


__ADS_3

"Semua berawal ketika makan malam. Ketika itu tanggal 23 Desember. Dua hari sebelum perayaan Natal. Dua hari kami menyambut kedatangan Benjamin yang baru saja kembali dari Netherland. Benjamin berencana untuk menghabiskan liburan sekolahnya bersama kami."


"Dalam surat-suratnya, dia mengatakan sudah sangat merindukan hawa sejuk dan suasana asri di sini. Dia juga sudah tidak sabar untuk bermain di sungai dan berlarian di perkebunan bersamaku. Benjamin datang bersama Om Frederic dan Tante Alida. Mereka juga membawa dua anak mereka, Marie dan George."


"Kami melakukan persiapan yang luar biasa untuk menyambut mereka. Mama meminta Nimah dan pekerja lainnya untuk memasak beraneka makanan, mulai dari sate ayam, bola-bola daging, hingga aneka kue. Rumah juga dibersihkan dari halaman depan sampai belakang."


"Perabotan yang mulai terlihat usang diganti dengan yang baru. Rumput-rumput yang sudah mulai meninggi dirapihkan. Mama juga membelikan kami beberapa potong pakaian baru. Begitu antusiasnya Mama menyambut kedatangan anak kesayangannya."


"Setiba di sini, Ben yang masih sangat kelelahan lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar. Sepertinya dia masih harus beradaptasi lagi dengan cuaca di sini. Empat tahun lamanya dia meninggalkan Depok untuk melanjutkan sekolahnya di Netherland."


"Aku banyak menghabiskan waktuku dengan bermain bersama Marie dan George di halaman depan.Mereka sangat lincah dan lucu. Energiku seolah tak ada habisnya bermain dengan mereka. Sesekali aku meminta bantuan Sudarman untuk menemani mereka berkuda."

__ADS_1


"Tanggal 23 Desember 1930, pukul 20.30, itu adalah momen yang paling menakutkan. Momen yang tidak pernah kami duga, karena tidak ada firasat apa-apa. Saat itu kami sedang menikmati makan malam. Kami saling bercerita dan bersenda gurau. Dan tiba-tiba pintu rumah digedor orang. Begitu keras, hingga kami semua terkejut."


" Dibawah todongan pistol, mereka menyeret keluargaku satu persatu. Pada saat itu aku sedang buang air kecil di belakang. Saat duduk menikmati makanan dan pintu digedor dengan keras, aku tidak kuat menahan hajat ingin buang air kecil, hingga akhirnya aku berlalu ke belakang."


"Mendengar suara keributan. Aku bergegas keluar dari toilet dan menuju ruang makan. Tapi Nimah mencegahku. Dia menyuruhku untuk bersembunyi.


"Sembunyi, Nona," begitu katanya. Lalu Nimah menyembunyikanku di lemari kayu tempat penyimpanan bahan makanan. Suara pistol terdengar. Seperti dilayangkan ke udara. Dari balik lubang kecil di bagian atas lemari, aku melihat lima orang pria pribumi berpakaian serba hitam menghancurkan barang-barang di rumahku. Dan ada seorang pria kulit putih berdiri di depan pintu. Dia memaki papaku dengan suara lantang. Pria itu adalah Johans Alois."


"Siapa dia?" tanyaku.


Flash back on

__ADS_1


"Bang....Cepet panggil Si Darman," teriak Nimah pada suaminya.


"Sekarang udah aman, Non. Ayo keluar!" Nimah dan Sadeli membantuku keluar dari lemari.


Sadeli bergegas keluar menuju kediaman Sudirman untuk menemuinya.


"Mereka semua membawa keluarga Non. Semua disuruh naik ke truk itu. Nimah takut mereka akan kembali lagi ke sini untuk mencari Non."


"Mau apa mereka, Nimah? itu Tuan Johans Alois. Sebulan yang lalu aku pernah melihat dia bertengkar dengan papaku di perkebunan. Aku takut, Nimah."


"Bang Sadeli sedang menjemput Darman. Biar nanti Darman yang akan menemani Nona. Lebih baik Nona tinggalkan rumah ini dulu untuk sementara. Orang itu tadi datang untuk mencari sesuatu. Dia mengobrak-abrik berkas-berkas di laci meja Tuan. Saya khawatir dia akan kembali."

__ADS_1


Bersambung.


Mohon like dan komennya ya guys


__ADS_2