
Terima kasih yang masih setia membaca kisah ini, pada bagian ini author akan lebih banyak mengulas tentang keluarga Van Kemmers serta kehidupan mereka di masa lampau. Makan kue sambil ngemil kedondong, mohon like dan votenya dong.....Terima kasih.
Flash back on
"Mau jadi apa dia, jika dia masih senang bermain-main seperti itu. Dia itu bukan lagi gadis kecil. Usianya sudah 21 tahun. Aku bingung menasehati anak itu," dengan kesal Nyonya Helena Van Kemmers berkata pada suaminya.
"Ini semua karena kau terlalu memanjakan dia. Kau tidak pernah bersikap keras padanya. Kau selalu mengiyakan apa yang dia mau," ujar Nyonya Helena lagi.
"Dari kecil sampai sekarang dia tidak pernah berubah. Dia tidak pernah disiplin. Selalu saja malas belajar."
"Jangan begitu, kau kan tahu bagaimana kemampuan Noura. Dia tidak secerdas Sophia atau Benjamin. Dia juga tidak bisa terlalu ditekan. Selama ini aku tidak memanjakan dia. Aku hanya membiarkan dia tumbuh dan berkembang apa adanya. Membiarkan dia menekuni hal-hal yang dia suka. Noura itu tidak bisa dipaksa," ujar Tuan Adrianus Van Kemmers.
"Sophia juga tidak begitu cerdas sebenarnya. Tapi dia rajin dan ulet. Tiga kali dia mencoba ujian masuk sekolah kedokteran, setelah tiga kali gagal. Dan akhirnya dia lolos seleksi juga kan? itu bukti kalau rajin dan ulet pasti akan membuahkan hasil. Memang tidak sia-sia mendidik Sophia. Dia jauh lebih rajin, lebih penurut dan lebih punya cita-cita," tukas Nyonya Helena. Wanita berusia 47 tahun yang masih terlihat cantik itu mengigit bibirnya menahan emosi.
"Jangan bandingkan mereka. Dan jangan terlalu keras dengan Noura. Bagaimana pun juga, dia tetap anak kita. Kau kan tahu bagaimana dia. Semakin kita keras padanya, dia bisa lebih memberontak. Jadi, biarkan dia melakukan hal-hal yang dia suka," ujar Tuan Adrianus.
__ADS_1
"Jika dia bosan, dia pasti akan berhenti sendiri. Selama ini aku tidak pernah memaksakan kehendakku pada Noura. Aku tidak pernah memaksanya untuk menekuni aljabar atau ilmu bumi. Karena aku tahu, Noura tidak akan suka."
"Tapi lihatlah bagaimana kelakuannya. Seharian ini dia hanya bermain di kebun. Pakaiannya kotor, wajahnya kusam dan berkeringat. Padahal aku sudah meminta dia untuk diam di rumah. Aku berniat untuk memanggil guru menjahit agar dia bisa belajar menjahit pakaian," Nyonya Helena mendengus sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku juga tidak tahu kalau diam-diam dia menyelinap ke luar dan memutuskan untuk mengikuti kau ke perkebunan," masih dengan wajah jengkel, Nyonya Helena menghela nafas panjang. Nampaknya dia sudah sangat lelah menghadapi sikap anak keduanya itu.
"Padahal banyak yang memuji kecantikan Noura. Setiap kali aku menghadiri perjamuan atau di kegiatan di gereja, banyak sekali yang menanyakannya. Seperti Nyonya Bertha, istri Tuan Frans Winhern itu berkali-kali menanyakan Noura. Bahkan dia mengatakan kalau Frankie, anak sulungnya yang pemalu itu jatuh cinta setengah mati dengan Noura," ucap Nyonya Helena sambil setengah berbisik.
"Nyonya Bertha memintaku untuk menjodohkan mereka, bagaimana menurutmu?" tanya Nyonya Helena.
"Apa? menjodohkan mereka?"
"Ya, aku rasa itu ide bagus. Frankie pemuda yang baik. Dia taat beribadah. Dia juga rajin bekerja. Dan bukankah dengan menjodohkan mereka akan sangat baik untuk perkembangan bisnis perkebunan kita. Frankie bekerja di perkebunan. Dia mengelola ribuan hektar perkebunan karet milik keluarganya. Dan jika mereka menikah, tidak menutup kemungkinan jika perkebunan karet kita juga akan semakin berkembang. Bagaimana menurutmu?" tanya Nyonya Helena.
Tuan Adrianus terdiam. Diambilnya gelas berisikan air dan mulai meneguknya sampai habis. Sepertinya kata-kata istrinya seketika membuat tenggorokannya terasa kering.
__ADS_1
"Kau tidak menjawab pertanyaanku? bagaimana menurutmu?" Nyonya Helena mengulangi pertanyaannya.
"Aku tidak tahu. Semua terserah pada Noura," jawab Tuan Adrian datar.
"Bagaimana kalau kita atur pertemuan untuk mereka? kita undang keluarga Tuan Frans untuk makan malam bersama," ujar Nyonya Helena menyarankan.
"Kita harus menyampaikan pada Noura kalau Frankie ingin mengenalnya lebih dekat. Dan kia tanya dia, bagaimana pendapatnya kalau Frankie ingin melamarnya? kita harus memberikan gambaran kalau dia nanti akan sangat bahagia jika menikah dengan Frankie. Kita harus meyakinkan dia kalau Frankie adalah calon suami yang tepat untuknya,"
"Kau ini kenapa tergesa-gesa? kau harus tanyakan Noura terlebih dahulu dan biarkan dia memberikan penilaiannya sendiri menurut cara pandangnya. Dan jangan pernah menentang segala keputusan yang dia ambil. Kita harus hargai apapun keputusan Noura. Jangan pernah memaksanya untuk hal-hal yang belum tentu dia suka. Apalagi untuk urusan jodoh," raut wajah Tuan Adrianus terlihat serius. Sepertinya dia kurang setuju dengan cara isterinya yang begitu antusias ingin menjodohkan Noura.
"Kau memang tidak pernah sependapat denganku. Kau terlalu memanjakan dia. Coba kau pikirkan baik-baik! mau jadi apa dia kalau masih saja seperti ini. Setiap hari hanya bermain-main di kebun, melukis, menunggang kuda. Dia tidak mau belajar. Tidak mau melanjutkan sekolah. Satu-satunya pilihan yang tepat untuk dia adalah menikah. Dengan menikah, dia akan punya kesibukan. Mau tidak mau, dia akan dipaksa untuk berpikir bagaimana mengurus rumah tangga, mengurus suami dan juga anak," ujar Nyonya Helena lagi.
Tuan Adrianus hanya menghela nafas. Bukannya dia tidak setuju dengan saran dan pendapat istrinya. Hanya saja, menurutnya menikahkan Noura dengan Frankie bukanlah cara yang tepat. Feelingnya mengatakan kalau Noura tidak akan mau dijodohkan dengan Frankie. Dia tahu betul bagaimana watak dan karakter anak kesayangannya itu. Noura pasti akan langsung menolak.
Bersambung.
__ADS_1