NOURA VAN KEMMERS

NOURA VAN KEMMERS
Persiapan eksekusi


__ADS_3

"Aku sudah membaca situasi. Lingkungan rumah tempat tinggal keluarga itu sedang sangat sepi. Tetangga yang bersebelahan dengan rumah Van Kemmers tidak nampak terlihat. Aku tidak ingin ada yang melihat aksi kita," ujar Johans Alois lagi.


Johans Alois benar-benar sudah gelap mata. Dia sudah tidak peduli lagi. Dalam pikirannya hanyalah surat tanah perkebunan itu yang harus segera direbutnya kembali. Bagaimana pun caranya, Adrianus Van Kemmers harus segera disingkirkan. Dia harus segera bertindak.


Lagi dan lagi Johans Alois bertindak bodoh dan tidak memikirkan segala kemungkinan. Hanya kegelapan yang memenuhi pikirannya. Dia mengira dengan menculik seluruh keluarga Van Kemmers dan memaksa Tuan Adrianus menyerahkan surat tanah perkebunan itu, akan memudahkan rencananya. Johans Alois tidak memikirkan kemungkinan yang akan muncul.


Jika Adrianus berhasil ditaklukkan dan dia mendapatkan surat tanah perkebunan itu, bisa saja setelah itu dia akan dilaporkan oleh keluarga Van Kemmers ke pihak kepolisian. Lalu dia akan ditangkap dan diadili.


Oleh karena itu satu keputusan keji harus diambil. Yaitu menghabisi seluruh keluarga Van Kemmers. Jika mereka berhasil dilenyapkan, dia akan segera mengambil surat tanah perkebunan itu dan mengurus perubahan nama di kantor notaris atau membiarkan tanah perkebunan itu vakum untuk sementara waktu sampai situasi dinyatakan aman dan setelah itu dia akan mendatangi kantor notaris.

__ADS_1


Dia akan membuat surat keterangan palsu yang isinya menyatakan kalau Adrianus Van Kemmers telah menyerahkan tanah perkebunan itu kepadanya. Semuanya dianggap begitu mudah bagi Johans Alois. Dia tinggal mengatakan kepada notaris kalau Adrianus Van Kemmers sekeluarga tengah kembali ke Netherland dan tidak akan kembali lagi.


Lagipula keluarga Van Kemmers tidak memiliki kerabat dekat di sini, hanya Adrianus Van Kemmers, istri dan juga anak-anaknya.


Dan pihak petinggi Herverman yang telah memberikan tanah perkebunan itu, seperti Tuan Dekker Berrend pasti tidak akan curiga. Sudah hampir setahun lebih, Tuan Dekker Berrend bermigrasi ke Sumatra. Dan selain itu, Herverman saat ini banyak dikelola oleh orang-orang muda yang tidak mengetahui seluk beluk pembagian tanah perkebunan kepada para mantan pekerja yang dianggap berjasa di Herverman.


Entah percaya atau tidak, dia menyelipkan bongkahan kecil batuan Mirah itu di teras samping rumah keluarga Van Kemmers sesuai dengan saran dari Nyai Sumiyati. Lalu dengan sigap dia memberikan kode kepada para centengnya untuk masuk dan bersiap melakukan eksekusi.


Dari jendela terlihat, keluarga itu sedang berkumpul di meja makan. Berbagai hidangan nampak tersusun rapih di meja makan. Mereka nampak bersuka cita. Saling berbincang dan tertawa. Johans Alois sedikit ragu. Tapi sudah kepalang tanggung. Semua harus dilakukan. Dia memakai topeng hitam dan mulai beraksi.

__ADS_1


...****************...


Pintu depan digedor dengan keras, lalu Adrianus Van Kemmers keluar dan membuka pintu. Johans Alois meletakkan pistol di pelipis kanan Adrianus, disusul dengan suara letusan dari pistol dilayangkan ke udara. Awal yang bagus. Tidak sia-sia dia mencuri pistol ini dari rumah Heintje Van der Boon. Saat itu Lelaki paruh baya yang sedang mencemaskan kondisi istrinya yang sedang sakit itu benar-benar lupa untuk membawa pistol yang biasa diselipkan di saku jasnya.


Mereka semua ketakutan. Dengan sekali gertak, ke lima centeng bertubuh kekar segera membawa seluruh anggota keluarga itu keluar. Semuanya ada delapan orang. Entah siapa pasangan muda dan dua anak kecil ini? apakah mereka anggota keluarga Van Kemmers juga? tidak peduli. Semua harus diringkus juga. Terlalu beresiko jika mereka tidak diangkut juga. Mereka bisa melaporkannya ke polisi.


Suara teriakan dan pekikan mereka terdengar begitu keras. Tidak ada jalan lain. Di tengah keheningan malam dan suasana sepi, mereka semua dinaikkan ke atas truk trontom. Kerja yang bagus. Semua berjalan sesuai rencana.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2