NOURA VAN KEMMERS

NOURA VAN KEMMERS
Sudarman


__ADS_3

Di sudut samping kebun karet itu terdapat lahan kecil yang digunakan Noura untuk mengelola kebun palawija. Noura sangat senang menghabiskan waktunya di situ. Dibantu oleh salah satu pekerja dia menanam beberapa jenis tanaman palawija di lahan itu. Bisa dikatakan, kebun palawija itu sudah seperti anaknya sendiri. Nouralah yang pertama kali memilih bibit tanaman, menyemainya dan merawatnya hingga tanaman palawija itu tumbuh dengan sempurna. Mulai dari singkong, jagung, kacang panjang, ketela rambat hingga talas.


Setiap kali mengunjungi perkebunan karet, lahan sepetak itu tak pernah lepas dari pengawasannya. Noura sangat puas karena kebun palawija itu sudah dua kali panen. Seperti saat itu, begitu tiba di perkebunan, Noura langsung mengunjungi kebun kecil miliknya. Ditengoknya satu persatu tanaman yang sudah mulai bermekaran itu. Dibersihkannya semak belukar yang mulai menjalar di sekeliling dan tak lupa menyiraminya.


"Tidak kusangka secepat ini, mereka akan tumbuh," gumam Noura.


"Betul Non. Berarti tidak lama lagi, tanaman-tanaman ini bisa dipanen. Nona memang luar biasa. Tanaman-tanaman ini tumbuh dengan baik berkat sentuhan tangan Nona, " ujar Sudarman.


"Tidak juga. Tapi karena tanah dan cuaca di daerah ini memang sangat baik untuk bercocok tanam."


Seketika Noura teringat dengan ucapan Opa Willy dahulu ketika ia kecil, bahwa keadaan cuaca di Hindia Belanda sangat jauh berbeda dengan di Netherland. Di sana sejuk dan nyaman. Tanahnya subur, banyak curah hujan, banyak pepohonan, segala tumbuhan apa pun bisa tumbuh dengan baik. Dan sekarang ucapan itu terbukti.


Noura begitu kegirangan melihat pertumbuhan tanaman tanamannya. Pertumbuhan tanaman palawijanya berlangsung sangat cepat. Dua minggu yang lalu belum Seperti ini. Dan sekarang tunas kacang panjang sudah bermekaran, begitu pula juga dengan talas, ubi jalar dan singkong. Hanya jagung yang masih menunjukkan tanda tanda sedikit akan tumbuh.


"Kita bisa menjualnya lagi Non. Tahun lalu, tengkulak dari Kampung Bojong berani bayar mahal," tukas Sudarman.


Noura kembali tersenyum puas. Saat panen kemarin, hasil panen lahan itu dihargai dengan nilai jual yang lumayan oleh seorang tengkulak di Kampung Bojong. Sudarmanlah yang menawarkan hasil panen itu pada seorang pedagang perantara bernama Koh Bun. Tidak seperti tengkulak pada umumnya, Koh Bun berani membeli hasil panen jagung, ketela rambat dan singkong dengan harga yang tinggi.


Menurut Koh Bun, kualitas hasil panen dari kebun Noura sangat bagus dibandingkan dari kebun lain. Ditambah lagi, dia merasa kagum, bagaimana bisa ada seorang noni Belanda tertarik untuk bercocok tanam.


...****************...


Seharian yang cukup melelahkan. Sehabis menengok kebunnya, Noura menghabiskan wajahnya dengan menemui para pekerja menyadap karet. Sambil menunggang kuda, Noura berkeliling mengitari lahan karet, lalu turun sebentar dan membantu menyadap karet.

__ADS_1


Tak dipedulikannya keringat yang sedari tadi bercucuran di wajah dan lehernya. Beberapa pekerja lepas yang akan bekerja di sore hari mulai berdatangan, mereka juga bersiap dengan peralatan untuk menadah getah karet. Mereka menunggu waktu sore hari untuk mulai menyadap.


Waktu ideal untuk menyadap karet adalah pagi dan sore hari saat menjelang matahari terbenam, pada saat itu kandungan tekanan air yang terdapat pada pohon karet sedang deras-derasnya sehingga getah karet yang dihasilkan akan lebih banyak.


"Temani aku ke sungai, aku mau memancing!" pinta Noura.


"Baik Nona. Tapi maaf sepertinya saya tidak bisa. Tuan sedang membutuhkan bantuan saya. Biar saya minta Hamid untuk menemani Nona," jawab Sudarman.


"Baiklah," ucap Noura dengan wajah kecewa. Dia sangat berharap Sudarman bisa menemaninya pergi memancing seperti biasanya.


Sungai kecil yang berada di belakang perkebunan itu memang menjadi salah satu tempat favorit Noura setiap kali dia berkunjung ke perkebunan. Airnya jernih dan tidak begitu dalam dan banyak ikannya. Noura sangat betah menghabiskan waktu di sungai itu, baik untuk memancing ikan atau hanya sekedar bermain-main air saja. Dan Sudarman selalu setia menemaninya. Sambil bermain air atau memancing ikan, Noura dapat berkesempatan memandangi wajah pemuda itu.


Noura hanya menghabiskan waktunya sebentar saja di sungai, dia hanya duduk di tepi batu sambil menenggelamkan kaki ke dasar sungai. Sesekali dia membasuh wajah dan lehernya dengan air sungai. Membiarkan kesejukan air meresap ke dalam pori-pori kulitnya.


Noura menggeleng. "Lain waktu saja. Aku sedang tidak ada selera untuk memancing kali ini."


Noura menengadahkan wajahnya ke atas, memandangi langit dan sekeliling sungai. Dalam hati dia sangat berharap, Sudarman akan segera datang dan menemaninya di sungai itu.


Pria pribumi itu memang sudah sejak lama mengusik perhatiannya. Nora mengagumi pria itu. Kagum pada sifat dan keberaniannya. Noura senang mendengarkan cerita-cerita pria itu tentang apa saja, termasuk tentang keluarganya dan tentang kehidupan masa kecilnya yang menyedihkan.


Sudarman sedari kecil sudah yatim piatu. Kedua orangtuanya meninggal dunia akibat wabah penyakit menular yang sedang mengganas pada saat itu. Sejak kepergian orangtuanya, Sudarman harus hidup sendiri, tanpa orangtua dan saudara dia harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sejak usia dua belas tahun, dia sudah bekerja pada Opa Willy. Opa Willy juga yang mengajarinya membaca dan menulis juga berbahasa Belanda.


Sudarman tinggal di kampung belakang, tidak jauh dari kediaman keluarga Van Kemmers. Tidak seperti pekerja lainnya yang bekerja di rumah keluarga Belanda, Sudarman mungkin satu-satunya pekerja yang tidak mau tinggal di rumah majikan. Dia lebih memilih untuk pulang pergi saja. Rumah sederhana peninggalan orangtuanya terap harus selalu dirawat dan ditempati. Begitu prinsipnya.

__ADS_1


Noura pernah mengunjungi rumah Sudarman saat usianya 13 tahun. Waktu itu dia minta dia diajari bermain katapel. Dan Sudarman mengajaknya ke rumah untuk mengambil katapel miliknya. Rumah sederhana itu cukup terawat dan bersih, meski hanya beralas tanah dan berdinding bambu. Noura ingat saat itu, penduduk kampung menatapnya dengan tatapan yang membuatnya risih. Beberapa di antaranya bahkan bersorak dengan teriakan, "ada Noni Belanda masuk kampung! ada Noni Belanda masuk kampung!"


Dan Sudarman memintanya untuk terus berjalan dan tidak mempedulikan teriakan orang-orang kampung itu. Pasti orang-orang kampung itu merasa heran melihat seorang anak perempuan Belanda memasuki kampung bersama seorang remaja pribumi.


Sedari kecil, Sudarman memang selalu menemani Noura bermain di luar. Tidak seperti Sophia yang betah berdiam di dalam rumah, Noura lebih menyukai alam bebas. Dan Sudarman pula yang banyak mengajarinya tentang bagaimana memancing ikan, bagaimana bercocok tanam, berburu, memanjat pohon hingga berkuda.


Kebersamaan itulah yang lambat laun menumbuhkan sensasi menggelitik di dalam hati Noura. Sudarman yang selalu menemaninya bermain sejak kecil telah membuatnya jatuh cinta. Noura sangat menikmati hari-harinya bersama Sudarman. Meski malu-malu dan tidak berani mengungkapkan, dirinya tak segan-segan untuk berlama-lama menatap pria itu. Tentu saja secara diam-diam. Kadang Sudarman seperti menyadari kalau dirinya sedang ditatap. Dia pun hanya bisa menunduk malu dan mengalihkan pandangannya.


Apakah dia juga menyukaiku? begitu selalu pertanyaan Noura kepada hatinya.


Bersambung.


Dahulu, Kampung Bojong yang sekarang bernama Pondok Cina merupakan perkebunan karet, sawah, dan semak-semak.


Di daerah tersebut tinggal seorang tuan tanah keturunan Tionghoa. Orang-orang Tionghoa yang datang ke Bogor untuk berdagang dipersilakan untuk menginap dan mendirikan pondok-pondok sederhana di tanah milik tuan tanah tersebut.


Daerah Pondok Cina merupakan wilayah partikelir yang dimiliki oleh seorang tuan tanah. Namun belum diketahui siapa tuan tanah di wilayah ini.


Sejak tahun 1918, masyarakat sekitar menamakan daerah itu dengan sebutan Pondok Cina.


Lama-kelamaan, sebutan ini pun melekat dan menjadi nama daerah yang dikenal dengan Pondok Cina hingga saat ini.


Sumber : Kompas.com

__ADS_1


__ADS_2