
"Ini gawat. Mereka datang lagi, Nona," Nimah menajamkan telinganya. Sesekali dia melongok dari balik jendela.
"Aku masih terbaring lemah. Suara langkah kaki terdengar di halaman. Kali ini begitu ramai. Sepertinya ada banyak orang. Ya Tuhan, mau apalagi mereka? apakah masih ingin mencari surat tanah itu? belum puaskah mereka menculik keluargaku?"
"Kini hanya tinggal Nimah dan aku. Sadeli belum kembali. Suara langkah kaki itu semakin dekat ke arah paviliun. Tidak hanya itu, sekarang pintu depan digedor dengan sangat keras. Jantungku terasa mau copot. Aku benar-benar trauma dengan gedoran pintu. Dengan sigap aku bangun dan berjalan dengan terhuyung-huyung mendekati Nimah. Firasatku semakin tidak enak. Nimah memberiku isyarat agar tidak bersuara."
"Suara gedoran pintu itu berhenti. Suasana benar-benar sangat mencekam saat itu. Kami merasa seperti sedang diawasi dari luar. Bagaimana jika mereka menembaki pintu dan kemudian masuk dan......"
"Aku mendekati Nimah dan berbisik ke telinganya, "firasatku tidak enak, Nimah. Aku titip ini. Ini cincin bermata jamrud pemberian Mama. Terimalah ini!" aku menaruh cincin itu di telapak tangannya.
"Buat apa ini, Non?"
"Simpanlah. Kelak kau pasti akan membutuhkannya." Entah kenapa tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Dan aku harus memberikan sesuatu yang berharga kepada Nimah."
"Ya Tuhan! suara tembakan terdengar dari luar. Apa yang harus kami lakukan? paviliun ini tidak begitu luas. Hanya terdapat pintu di samping kanan. Kalau kami keluar lewat pintu, sama saja. Mereka pasti akan tetap menemukan kami dengan mudah."
__ADS_1
"Di samping paviliun ini tidak ada sesuatu yang bisa kami jadikan tempat untuk bersembunyi. Untuk langsung berlari ke luar jalan, juga tidak mungkin. Karena mereka pasti akan dengan mudah menemukan kami. Jumlah mereka sepertinya sangat banyak."
"Maka tidak ada jalan lain selain sembunyi. Aku ingat ada loteng di dalam paviliun ini. Untuk bisa naik ke loteng, harus naik tangga dulu. Dan tangganya ada di gudang. Dan sangat tidak mungkin untuk ke gudang. Maka Nimah dan aku berusaha sekuat tenaga menggeser lemari itu agar bisa sejajar dengan lubang masuk loteng. Setelah itu, aku berusaha keras naik ke lemari besi itu. Sekarang lemari itu berada tepat di bawah lubang masuk loteng."
"Lemari itu cukup tinggi. Dengan bantuan kursi, Nimah membantuku dengan susah payah untuk naik ke atas lemari itu. Dan akhirnya berhasil. Meski kepalaku masih berat, berusaha lagi mencapai lubang loteng. Sedikit lagi, sedikit lagi dan....."
"Suara gedoran itu makin keras. kaki kananku sudah berhasil mencapai pinggir loteng. Dengan sekuat tenaga, aku terus merangkak naik. Kugerakkan lenganku ke atas agar bisa menahan bobot bawah tubuhku."
"Dan seketika pandanganku mulai berkunang-kunang. Aku mendadak lemas. Suara ketukan pintu itu semakin keras. Harus, aku harus bisa mencapai loteng itu. Sedikit lagi, sedikit lagi... Dan....."
"Tiba-tiba sesuatu berjalan didekatku. Sosok binatang pengerat yang sangat kutakuti. Aku terkejut dan berteriak lalu kakiku kehilangan keseimbangan. Aku terpeleset karena ada tetesan air yang di atas permukaan lemari, entah darimana tetesan air itu. Tapi baunya sangat busuk. Seperti air kencing tikus."
"Aku tidak kuat lagi. Kurasakan aku semakin lemah dan pusing. Tangan kanan dan kaki kiriku tidak bisa digerakkan. Dan, bruuuuk....Aku terjatuh."
"Yang kurasakan tubuhku seperti terlempar dari atas lemari. Kepalaku membentur lantai. Lalu pandanganku semakin gelap. Aku hanya bisa mendengar sedikit suara teriakan Nimah ketika berusaha menangkap tubuhku.Tapi dia pun terjatuh, dan kulihat samar-samar dahinya terkena pinggiran lemari besi dan berdarah."
__ADS_1
Flashback off
"Apa yang terjadi selanjutnya?" tanyaku pada Noura. Tiba-tiba aku seperti bisa membayangkan momen-momen kejadian itu. Kasihan sekali Noura.
Noura terdiam dan sambil menangis dia berkata, "aku mendengar teriakan beberapa orang dari luar. Lalu sepertinya pintu didobrak. Beberapa orang mulai masuk ke dalam paviliun. Nimah menangis ketakutan sambil menahan sakit."
"Belakangan aku tahu, kalau orang-orang yang menggedor paviliun itu adalah polisi. Rupanya mereka sedang menjebak beberapa kaki tangan Johans Alois. Jadi pada saat ada anak buah Johans Alois yang masuk ke rumahku, tidak lama kemudian para petugas kepolisian datang menyelinap untuk menangkap mereka."
"Oh my God. Dan kamu juga Nimah sampai tidak tahu kalau yang datang dan berteriak itu adalah polisi?"tanyaku keheranan.
"Kami sangat ketakutan. Nimah tidak berani menjawab ketika petugas polisi menggedor dan memanggil-manggil kami. Yang ada dalam benak kami saat itu adalah bagaimana agar bisa cepat-cepat sembunyi."
Bersambung.
Mohon like dan votenya Guys.....Terima kasih.
__ADS_1