NOURA VAN KEMMERS

NOURA VAN KEMMERS
Hantu penghuni toilet


__ADS_3

"Kamu kemana tadi?" tanyaku sambil berbisik pelan di telinganya. Kuusahakan suaraku sepelan mungkin.


"Ikut aku! kita bicara di ruang musik saja," aku memberikan kode padanya untuk mengikutiku.


Ruang musik berada di seberang kanan ruang perpustakaan. Untuk ke sana harus melintasi taman sekolah. Letaknya memang cukup jauh dari ruang guru. Posisi ruangannya agak menurun di bawah tangga tapi tempatnya cukup nyaman dan sejuk. Ruang musik itu sepi dan hanya ramai ketika ada yang latihan atau praktik saja. Jujur, aku merasa betah berlama-lama di ruang itu. Tenang dan bisa memberikan banyak inspirasi.


"Tadi kamu kemana saat di kelas sedang heboh? maksudku saat anak muridku berteriak ketakutan dan kemudian pingsan."


"Aku keluar dari kelas untuk menunggu hantu itu. Aku tidak bisa mendekatinya karena suasana kelas sangat bising tadi," Noura menjelaskan.


"Muridmu ketakutan karena dia melihat sosok hantu wanita yang berada pada tubuh muridmu yang bernama Nadya. Nadya diikuti hantu itu ketika dia keluar dari toilet sekolah. Hantu wanita itu adalah penunggu toilet murid perempuan."


Deg. Aku terkejut sekaligus merinding. Ternyata benar yang dikatakan Dina tadi. Bulu kudukku mulai berdiri. Kupandangi sekeliling ruang musik. Suasana sepi membuatku semakin merinding.


"Tapi tenang saja. Aku sudah bereskan semuanya. Aku sudah memberikan peringatan pada hantu penunggu toilet itu untuk segera pergi dan menjauh. Sudah kubuat dia jatuh tersungkur tadi," ucap Noura.


"Kamu apakan dia? kamu berani menghadapi hantu itu?"


"Kenapa tidak? aku menemui hantu itu dan menanyakan alasan kenapa dia berbuat begitu. Dan alasannya adalah, karena dia tidak suka jika anak perempuan membuang bekas pembalut sembarangan di toilet."


"Apa? jadi itu alasannya dia mengikuti Nadya dan menakut-nakuti Dina?" tanyaku.


"Ya. Dia tadi sangat marah sekali. Aku memperingatkannya untuk tidak berbuat keonaran lagi di sekolah ini. Aku katakan padanya kalau dia adalah hantu jelek dan bau. Dan dia akan selamanya menjadi jelek dan bau jika dia terus menakuti murid-murid di sekolah ini. Dia juga akan selamanya jelek dan bau jika dia terus berada di toilet sekolah. Lalu aku mendorongnya hingga jatuh tadi. Dia mengatakan padaku jika dia tidak suka dengan anak-anak yang jorok."

__ADS_1


"Bukannya makhluk tak kasat mata seperti mereka malah menyukai tempat yang kotor dan bau?" tanyaku.


"Tidak semua. Dan hantu wanita itu salah satunya. Dia sangat membenci anak-anak perempuan yang membuang pembalut sembarangan. Lalu aku memintanya untuk pergi dan enyah dari sekolah ini secepatnya. Aku katakan padanya kalau aku adalah penunggu terlama di sekolah ini. Akhirnya dia pergi," jawab Noura.


"Kamu hebat juga ya. Kamu berhasil mengusir hantu itu."


"Ya. Tidak sia-sia kan kau ajak aku ke sini. Sekolah ini bagus. Aku betah di sini," Noura melipat tangannya sambil terus memandangi sekeliling ruang musik.


"Aku keluar dulu ya. Aku belum makan dan nanti harus melatih anak-anak sampai sore. Kamu mau tetap di sini atau ikut aku makan?" tanyaku.


"Nanti aku menyusulmu," jawab Noura sambil terus mengedarkan pandangannya pada beberapa alat musik.


Aku bergegas keluar menuju tangga. Perutku sudah semakin keroncongan. Butuh tenaga ekstra untuk mengajar latihan sampai nanti sore.


"Untuk latihan hari ini kita cukupkan dulu ya! besok kita lanjut lagi. Kalian bisa pulang dan langsung pulang ke rumah ya!" aku memberikan instruksi pada anak-anak.


Sebelum pulang aku minta anak-anak untuk merapihkan dulu peralatan musik yang tadi digunakan. Di dalam ruang musik terdapat gudang kecil tempat menaruh kostum-kostum untuk lomba. Betapa kerennya sekolah ini, sampai urusan kostum lomba juga disiapkan dengan rapih.


"Astagfirullah, siapa itu?" celetuk Ana.


"Kenapa, Na?" bergegas aku menghampiri Ana.


"Itu Pak. Tadi ada yang berdiri di dekat lemari kostum. Kayak Bule gitu, Pak. Cewek. Cantik sih!"

__ADS_1


Aku hanya bisa menarik nafas. Lagi-lagi ada yang bisa melihat Noura. Ekspresi Ana nampak tidak begitu ketakutan. Hanya terkejut. Duh, ngapain Noura masih di sini ya?


Beberapa anak yang juga sedang mengikuti latihan mendadak heboh. Mereka mendekati Ana dan masuk ke dalam gudang. Semua penasaran dan bertanya pada Ana.


"Gak tahu. Tadi langsung hilang gitu dalam sekejab mata. Mungkin itu penunggu gudang ini," jawab Ana menjelaskan.


"Hiyyy jadi merinding gue lama-lama di sini," sambung Roy.


Aku segera mengintruksikan anak-anak untuk secepatnya meninggalkan ruang musik. Noura lenyap entah kemana. Mungkin dia merasa lelah karena telah berhasil dilihat oleh dua orang di sekolah ini.


"Noura, ayo kita pulang! kamu di mana?" aku bergegas mengunci pintu ruang musik dan berjalan menuju tangga. Hari sudah nampak gelap.


"Aku merindukan masa-masa sekolahku dulu, Bayu. Terima kasih telah mengajakku ke sini."


"Ya. Tapi ada yang berhasil melihatmu di sini. Katanya kalau makhluk halus berhasil dilihat oleh manusia, itu berarti dia sedang sial. Benarkah begitu?"


"Mungkin. Aku memang merasa lelah. Tapi hari ini aku puas. Tempat ini menyenangkan. Kau harus mengajakku lagi ke sini, Bayu!" pintanya.


...****************...


"Bayu, bangunlah! pembantumu yang aneh itu sedang membakar dupa di halaman belakang," Noura berbisik di telingaku.


Aku merasa seperti bermimpi. Noura terus memanggilku. Mataku terasa berat sekali untuk terbuka. Tak kugubris panggilan Noura. Malam ini, aku butuh tidur yang nyenyak. Aktivitas seharian tadi di sekolah telah lumayan banyak menguras energiku.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2