NOURA VAN KEMMERS

NOURA VAN KEMMERS
Demam


__ADS_3

"Kepalaku makin terasa berat. Demamku semakin menjadi. Aku menggigil kedinginan. Nimah sangat cemas melihatku. Bergegas dia mencari obat untukku. Untunglah persediaan obat masih ada. Selesai minum obat, Nimah dan Sadeli membawaku keluar dari rumah ini."


"Kita harus cepat-cepat sembunyi, Nona. Saya takut mereka datang lagi," Nimah menggandeng tanganku.


"Iya, Non. Mereka sangat kejam. Tulang rusuk saya masih nyeri akibat hantaman batang kayu kemarin," sambung Sadeli.


"Di luar hujan turun semakin deras. Aku kembali menatap halaman luar dari balik jendela. Masih terekam jelas di kepalaku, beberapa hari sebelum insiden itu, aku dan dua sepupu kecilku bermain hujan-hujanan di halamam depan." Marie dan George sangat senang ketika hujan turun. Kami berlarian tanpa alas kaki.


"Lalu Mama menyuruhku untuk masuk dan membersihkan diri. Mama memarahiku yang katanya masih saja kekanak-kanakan. Masih senang bermain seperti anak kecil. Mengapa aku tidak seperti Sofia yang lebih betah di rumah dan senang membaca."


"Malam harinya, George dan Marie masih mengajakku bermain lagi. Mereka benar-benar energik. Seolah tak ada lelahnya. Kali ini, mereka mengajakku bermain petak umpet di dalam rumah. Sophia yang saat itu sedang fokus membaca mendadak terganggu dengan kerusuhan yang kami buat."


"Sophia yang hanya selisih satu tahun denganku memang sangat tekun belajar. Cita-citanya ingin menjadi dokter. Dia berkeinginan untuk melanjutkan sekolah kedokteran di Netherland nanti."

__ADS_1


"Benjamin masih saja meringkuk di ranjangnya. Sepertinya dia masih saja beradaptasi dengan iklim di sini. Benjamin nampak sangat berbeda. Memasuki usia remaja, dia terlihat begitu serius dan pendiam. Tidak lagi seperti dulu. Benjamin jadi semakin mirip dengan Sophia yang kutu buku."


"Dia hanya berkata padaku kalau dia sangat lelah. Tapi dia tetap memintaku untuk menemaninya bermain di sungai dan berkuda. Waktu kecil dulu, aku sering sekali menghabiskan waktu bermain di alam lepas bersamanya."


"Marie dan George berkata kalau mereka sangat antusias untuk merayakan perayaan Natal di sini. Mereka baru pertama kali ke Hindia Belanda. Dan ada begitu banyak hal yang membuat mereka takjub. Pasti sangat berbeda, merayakan Natal di Negeri jajahan dengan di Netherland, begitu kata mereka."


"Seketika saat itu juga aku merindukan Opaku. Opa yang bersikeras untuk menetap di Harlingen sampai akhir hayatnya. Di Harlingen, Opa tinggal sendiri. Hanya sesekali ditemani adik dan keponakan-keponakannya."


"Pikiranku masih sangat kalut. Mengapa semua ini terjadi? perayaan Natal telah terlewat satu minggu yang lalu. Sungguh tak pernah terduga, tahun ini menjadi tragedi bagi keluarga kami. Dimana aku dan keluargaku tidak lagi merayakan Natal bersama-sama."


"Ayo, Nona. Kita harus cepat meninggalkan rumah ini!" perintah Nimah saat itu.


"Aku membereskan sedikit barang-barangku. Beberapa potong pakaian, perhiasan dari Mama, kotak musik pemberian Opa, boneka kesayanganku, beberapa foto keluargaku dan juga beberapa kotak coklat dan biscuit yang dibawa Tante Alida sebagai oleh-oleh untuk kami.

__ADS_1


"Dengan terhuyung-huyung aku berjalan. Kenapa sakit kepalaku belum juga hilang. Pandanganku mulai kabur. Obat yang kuminum tadi hanya bereaksi sebentar. Aku benar-benar tidak kuat. Begitu masuk ke dalam paviliun. Nimah segera membaringkanku."


"Sepertinya kita harus ke dokter Nona. Saya khawatir Nona bertambah parah," Nimah meraba keningku.


"Bang, cepat panggilkan dokter Hans. Nona Noura demam lagi!" Nimah berteriak pada suaminya.


Dokter Hans Brunner adalah dokter keluarga kami. Dia mempunyai klinik yang berada di Land Tjimanggis. Selain sebagai dokter, dokter Hans juga seorang pengajar di STOVIA. Sophia sangat mengaguminya.


Sadeli bergegas ke belakang untuk mengeluarkan kereta kuda. Nimah bolak-balik mengompres dahiku dengan air hangat.


"Jangan-jangan Nona terkena Malaria."


Bersambung.

__ADS_1


Mohon like, vote dan komennya ya Guys... Matur suwun.


__ADS_2