NOURA VAN KEMMERS

NOURA VAN KEMMERS
Bermain Api


__ADS_3

Heintje nampak gusar. Pikirannya kalut. Kabar yang dia dapatkan dari telegram mengatakan kalau Martina isterinya sedang sakit di Buitenzorg dan sudah empat hari dirawat di rumah sakit. Heintje tidak bisa menunda waktu. Dia harus segera berangkat ke Buitenzorg besok pagi.


"Semua sudah siap Tuan. Semua barang keperluan Tuan sudah saya masukkan ke dalam koper," ujar Nyai Sumiyati.


"Terima kasih. Mungkin aku akan lama di Buitenzorg, sampai istriku sembuh. Kau hati-hati di sini ya dan tunggu kedatanganku!"


Dan berangkatlah Heintje ke Buitenzorg seorang diri. Pikirannya kalut. Sedari dulu, Martina memang sering sakit-sakitan. Wanita itu mengidap asma yang sering kambuh yang membuatnya tidak boleh terlalu lelah. Wanita itu juga mudah alergi terhadap cuaca panas. Setiap kali tubuhnya terpapar udara panas dan merasa kegerahan, kulitnya akan terasa gatal kemerahan dan tubuhnya akan mendadak lemas dan kemudian pingsan. Wanita itu memang tidak cocok tinggal di daerah panas.


Sepeninggal Heintje, Nyai Sumiyati hanya berdiam diri di rumah. Heintje sudah mengingatkannya untuk tidak bepergian ke mana-mana. Tapi rasa jenuh mulai menghampirinya, hingga akhirnya dia memutuskan untuk bepergian ke Pasar Baru.

__ADS_1


Puas berkeliling dari toko ke toko demi melihat kain, kebaya dan selop, Nyai Sumiyati duduk di kedai buah di pinggir jalan sambil menunggu Trem. Tanpa disadari, seorang pria kulit putih diam-diam memperhatikannya. Pria itu tidak menyia-nyiakan kesempatan dan bergegas menghampirinya.


"Sedang apa di sini?" tanya Johans Alois.


" Tuan Johans....Saya kira siapa. Saya sedang berkeliling saja melihat-melihat toko dan sekarang saya akan pulang."


Melihat Nyai Sumiyati sendirian tentu tidak disia-siakan oleh Johans Alois. Dengan sigap, dia menyatakan keinginannya untuk menemani wanita itu pulang. Dan yang terjadi selanjutnya adalah pertemuan yang berulang-ulang. Johans Alois kerap menemui wanita itu di rumahnya. Memberikan perhatian, rayuan dan juga kasih sayang yang akhirnya mampu meluluhkan hati Nyai Sumiyati.


"Terima kasih sudah menemaniku di sini," ucap Johans Alois. Nyai Sumiyati hanya tersenyum. Kamar bercat putih itu menjadi saksi kebersamaan mereka malam itu. Beberapa jam sebelumnya, Johans Alois menjemputnya dan memintanya untuk menginap di rumahnya.

__ADS_1


"Kalau semua urusanku di sini sudah selesai, aku akan berencana ke Semarang. Kau masih bersedia menungguku kan? tinggallah bersamaku dan tinggalkan Heintje Tua Bangka itu. Dia sudah tidak pernah mengunjungimu kan?" tanya Johans.


"Tidak tahu, Tuan. Selama ini saya masih tinggal di rumahnya. Tuan Heintje pernah berkata, kalau dia tidak akan pernah meninggalkan saya. Dia hanya pergi ke Buitenzorg untuk merawat istrinya yang sedang sakit dan dia janji akan kembali. Beri saya waktu, Tuan! saya hanya ingin menunggu kepastian dari Tuan Heintje, apakah dia masih membutuhkan saya di sisinya ataukah dia sudah memutuskan untuk kembali setia pada istrinya?"


"Baiklah kalau begitu. Untuk saat ini aku hanya akan fokus pada target utamaku," ujar Johans Alois sambil tersenyum licik.


"Target apa Tuan?"


Dan Johans pun menjelaskan tentang rencananya untuk mengambil kembali lahan perkebunan karet milik keluarga Van Kemmers. Dia juga menceritakan secara detail tentang kelicikan dan kebusukan dari Heintje Van der Boon yang banyak melakukan penggelapan dana di Herverman.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2