
Aku melangkahkan kaki menuju lobi. Ruangan bercat putih dengan pilar-pilar tinggi itu terasa begitu sejuk. Rasa gerah dan panas yang menerpa kulitku saat naik motor tadi lenyap seketika. Cuaca Depok memang sedang panas-panasnya akhir-akhir ini. Lobi nampak sepi. Hanya ada seorang petugas resepsionis. Setelah menyatakan maksud dan tujuan kedatanganku, petugas itu mempersilahkanku untuk duduk. Hari ini aku memang sudah janjian dengan Pak Dandi, kepala cabang sekolah musik La Vita yang waktu itu menawariku untuk bergabung di La Vita saat di acara lomba.
" Terima kasih sudah berkenan hadir, Pak Bayu. Mari ikut saya ke atas!" pria bernama Pak Dandi itu menyalamiku dengan ramah. Singkat cerita, beliau menawariku untuk menjadi pengajar gitar. Pak Dandi bertanya padaku apakah aku bisa memainkan gitar klasik. Aku jawab tidak bisa. Akhirnya beliau menawarkanku untuk mengajar kelas gitar untuk pemula. Aku tidak keberatan. Beliau juga memberikanku jadwal mengajar. Aku katakan padanya kalau aku hanya bisa mengajar di hari sabtu. Jamnya terserah. Hari senin hingga jumat aku full mengajar di sekolah. Beliau tidak keberatan.
Setelah deal dalam urusan honor dan insentif, beliau mengajakku berkeliling. Bagian dalam gedung sekolah musik ini cukup luas dan sangat artistik. Sebagai sekolah musik yang mengusung musik klasik sebagai ciri khasnya, sekolah musik La Vita banyak menggelar event pertunjukan musik klasik di berbagai kota, bahkan hingga ke luar negeri. Berbagai lomba dan festival dalam dan luar negeri kerap diikuti dan membuahkan kemenangan. Ratusan piala nampak berjejer dengan anggunnya. Dalam hati, terbersit rasa syukur sekaligus bangga, aku bisa bergabung dengan sekolah musik terbesar seperti La Vita ini. Sungguh tidak menyangka, seorang kepala cabang di sekolah ini tertarik pada kemampuanku memainkan gitar dan menawariku untuk mengajar di sekolah ini.
"Oh ya perkenalkan, ini Jordan. Biasa dipanggil Meener Jordan. Dia juga seorang pengajar biola di sini," Pak Dandi mengenalkanku pada anak muda berwajah blasteran yang waktu itu tampil di atas panggung dengan biolanya memainkan musik klasik dengan sangat keren.
"Halo, senang berkenalan dengan anda!" sapa anak muda itu dengan ramah. Kutebak usianya tidak jauh beda dengan Galih. Pasti sekitar 19 atau 20 tahun.
Kuingat-ingat nama anak muda itu. Kalau tidak salah, namanya Jordan Winhern. Benar saja, saat kulihat daftar nama pengajar yang terpampang di dinding lobi, namanya Jordan Winhern. Seketika aku teringat pada cerita Noura tentang tetangganya yang bernama Tuan Frans Winhern. Apakah masih ada hubungannya? Mungkin nanti aku akan bertanya pada yang bersangkutan tentang asal usul namanya. Kelihatannya anak itu cukup ramah dan bersahabat. Semoga saja aku bisa bertanya tentang banyak hal padanya.
Usai tanda tangan kontrak kerja dan bersosialisasi dengan staf pengajar lain, aku bermaksud untuk pamit. Pak Dandi dan seorang pengajar lain mengantarku sampai ke depan lobi. Hari sudah menjelang sore. Dan mendadak aku teringat pada setumpuk pekerjaan di sekolah yang kubawa pulang ke rumah dan belum sempat kukerjakan.
__ADS_1
Langit terlihat gelap. Aku harus bergerak cepat. Semoga di tengah perjalanan nanti, tidak turun hujan. Aku berjalan menuju parkiran motor. Dari gedung atas dekat parkiran, terdengar suara gesekan biola yang melengking menakjubkan. Bersinergi membentuk alunan musik yang syahdu dengam tempo yang teratur. Pasti itu Jordan Winhern. Dia begitu mahir dan berbakat.
...****************...
"Kau tadi kemana?" tanya Noura. Tiba-tiba di muncul di kamarku. Duduk dengan anggunnya di atas tempat tidurku.
"Ke Sekolah Musik La Vita. Aku mendapat tawaran mengajar di sana."
"Ya. Mulai minggu depan aku akan mengajar di tempat kursus musik. Setiap hari sabtu dan jumat sore. Lumayanlah, untuk tambahan."
"Kau pasti akan semakin sibuk," Noura menghela nafas dan mengigit bibirnya.
"Ya. Maafkan aku. Tapi aku kan memang harus bekerja untuk masa depanku."
__ADS_1
"Masa depan? berbahagialah mereka yang masih memiliki masa depan. Masa depanku sudah selesai ketika aku jatuh dari loteng. Masa depanku juga lenyap ketika aku kehilangan keluargaku," ucap Noura dengan pilu.
"Hey, kamu kenapa? kenapa tiba-tiba jadi sensitif begini sih? apa kata-kataku ada yang salah dan menyinggungmu?" mendadak aku bingung melihat Noura yang semakin sendu.
"Tidak, Bayu. Kau tidak salah. Aku yang terlalu sedih. Aku hanya iri dengan dirimu yang masih memiliki masa depan."
"Sudahlah. Aku kan pernah mengatakan padamu untuk jangan pernah membenci takdir. Semua yang terjadi dalam hidupmu sudah menjadi ketetapan Tuhan yang tidak bisa ditolak. Jangan sedih lagi ya! aku akan selalu ada untuk kamu," ucapku menenangkannya.
"Entah kenapa aku merasa takut kehilanganmu, Bayu. Apakah kita akan terus bersama? kita ini berbeda, Bayu. Seandainya ada keajaiban yang bisa membuatku kembali menjadi manusia. Aku ingin selalu bersamamu, Bayu...." Noura terus memandangku tak berkedip. Tatapannya membuatku gugup. Ditatap seperti itu dengan wanita secantik Noura membuaku jantungku berdegup makin tak karuan. Aaah, seandainya dia bukan hantu.
"Noura, bisakah kau ceritakan sekali lagi tentang Tuan Frans Winhern?" tanyaku.
Bersambung.
__ADS_1