
"Kau masih sibuk?" suara Noura mengejutkanku. Malam ini dia muncul tiba-tiba. Duduk di tepi ranjang dengan wajah sedih.
"Maafkan aku. Pekerjaanku sedang banyak sekali. Aku janji, jika semua pekerjaanku sudah selesai, kita jalan-jalan ya!" aku tersenyum padanya mencoba memghiburnya.
"Aku hanya kesepian Bayu. Aku rindu berbincang denganmu. Setiap malam, aku hanya bisa mengintip kesibukanmu. Aku ingin mengajakmu bicara tapi kau seperti tidak ingin diganggu. Kau nampak begitu serius."
"Sabar, Cantik. Jika proyek pekerjaanku sudah selesai, aku akan luangkan waktu khusus untukmu. Kita akan berbincang lagi dan aku akan dengarkan semua cerita-ceritamu. Kamu jangan ngambek lagi, ya!" ucapku lembut. Perlahan, senyum mulai merekah di sudut bibirnya. Dalam hati, aku benar-benar ingin tertawa. Ternyata hantu secantik Noura bisa posesif juga. Tak beda jauh dengan manusia. Hahahahahaha. Saat aku mengabaikannya, dia mulai protes dan ngambek. Persis seperti Friska dulu yang cuek dan mendiamkanku waktu itu, saat aku sedang sibuk dan banyak pekerjaan.
Suara teriakan Mama mengejutkanku. Duh, Mama kenapa sih. Selalu saja teriak-teriak. Suara teriakannya yang begitu khas membuat jantungku serasa mau copot. Tak bisakah Mama memanggilku lewat telepon saja? teriakannya sungguh membuatku tak nyaman.
Aku bergegas menuju ke dapur. Mama nampak sedang bercakap-cakap dengan beberapa orang. Sepertinya pelanggan Mpek-Mpek.
"Ada apa sih, Mah? telinga Bayu belum tuli, Mah. Mama gak perlu panggil-panggil Bayu dengan suara menggelegar begitu," aku mengajmpiri Mama dengan wajah bete dan kesal.
"Alah...Lebay kamu. Menggelegar apaan. Suara Mama kan memang seperti ini. Makanya kamu tuh kalau dipanggil orangtua, buru buru nyamperin kek! bukannya malah sengaja berlama-lama!" Mama tak kalah sengit menanggapi ucapanku. Aah, rasanya percuma berdebat dengan Mama.
"Ini Mbak Rara. Dia mau kerja bantu-bantu di sini. Kebetulan, Mama memang membutuhkan asisten tambahan. Kamu tahu kan, tiap hari orderan Mpek-Mpek bertambah terus. Kalau cuma Mama, Bu Rahmi dan Mbak Siti sepertinya gak sanggup deh. Mama butuh pekerja tambahan. Lagipula Bu Rahmi kan juga masih harus menghandle cucian dan setrikaan. Mama juga masih harus masak untuk makan sekeluarga. Kalau Mbak Siti yang menghandle semua, jelas dia tidak akan sanggup," Mama mengenalkan seorang wanita berusia tiga puluhan padaku.
"Mbak Rara ini bersedia untuk menginap katanya. Alhamdulilah kalau begitu, jadi Mbak Siti ada temannya. Rumah juga jadi tambah ramai kan," ujar Mama lagi.
"Tinggalnya di mana Mbak?" tanyaku.
__ADS_1
"Kampung Semak," jawab wanita itu.
Kampung Semak..Daerah mana itu ya? Nama yang unik, gumamku dalam hati. Mbak Rara pun berlalu menuju kamar belakang yang akan ditempatinya. Dari cerita Mama, Mbak Rara itu tadinya bekerja di rumah Bu Warsito. Bu Warsito adalah ketua RW yang juga pelanggan favorit Mpek-Mpek buatan Mama. Dan Bu Warsito sekeluarga akan pindah ke Semarang bulan depan. Dan beliau menawarkan asisten rumah tangganya untuk bekerja pada Mama. Dan Mama setuju. Sang ART yang bernama Mbak Rara itu juga setuju.
Mama juga menceritakan kalau Mbak Rara itu lebih memilih untuk menginap ketimbang pulang hari. Karena selain menghemat ongkos juga ada alasan lain. Yaitu menghindari suaminya. Suami Mbak Rara tidak bekerja dan malas-malasan. Dan itu membuatnya gerah dan tidak betah.
Semoga saja dengan ada asisten baru yang menginap, keanehan Mbak Siti bisa langsung terlihat. Minimal ada yang bisa mencurigai langsung dan bisa menunjukkan bukti keanehannya. Selama ini yang curiga kan cuma aku dan Noura, ucapku dalam hati.
"Mama pucat sekali?" tanyaku.
"Mama ga enak badan, Bay. Kepala Mama rasanya pusing. Demam, sekujur tubuh rasanya nyeri dan kaku semua. Tapi, pesanan lagi banyak begini," jawab Mama sambil memijat punggungnya.
"Mama istirahat saja. Jangan terlalu ngoyo, Mah. Kesehatan Mama lebih penting. Bayu antar ke dokter ya Mah!" aku meraba dahi Mama dengan punggung tanganku.
Begitulah Mamaku. Kalau belum sakit, mungkin tidak akan istirahat. Mama memang terlalu memforsir tenaganya selama ini. Memproduksi Mpek-Mpek dalam jumlah banyak setiap hari. Bagi Mama kepuasan konsumen adalah yang paling utama. Mama memang sangat menjaga kualitas produk Mpek-Mpek yang dibuatnya.
Tiap hari oderan bertambah terus, bahkan jumlahnya gila-gilaan. Dan itu membuat Mama makin bersemangat. Setiap hari waktunya tercurah untuk memproduksi Mpek-Mpek. Dan tentu saja pendapatan makin bertambah. Mama terlihat begitu antusias. Bahkan berencana ingin terus memperbesar usahanya.
"Mamamu sakit, Bay?" tanya Noura.
"Iya. Kasihan Mama. Sepertinya kecapekan."
__ADS_1
"Aku jadi teringat Mamaku dulu. Mamaku tipe wanita yang perfeksionis. Selalu mengawasi pekerjaan rumah tangga meskipun sudah dikerjakan semua oleh para pekerja. Tapi Mamaku sangat baik pada para pekerja. Tak pernah memarahi mereka dengan kasar. Bahkan Mama sering memberikan mereka hadiah," ucap Noura dengan pandangan menerawang. Pandangannya diedarkan pada seluruh penjuru dapur dan ruang makan. Seolah ingin menghidupkan lagi kenangan akan kehangatan keluarganya.
"Sudahlah. Mamamu sudah bahagia di sana," aku menepuk bahunya.
"Bay, tadi aku mendengar asisten Mamamu yang aneh itu bergumam sendiri," ucap Noura.
"Bergumam apa?" tanyaku.
"Dia berbicara sendiri. Katanya pantas saja kalau usaha Mamamu berkembang pesat. Pantas saja setiap hari pesanan terus bertambah, pasti ada hubungannya dengan aura mistis di rumah ini. Apa maksudnya dia mengatakan semua itu pada rumahku?" Noura mulai terlihat gusar.
"Benarkah Mbak Siti berkata begitu? kamu mendengarnya sendiri?" tanyaku lagi.
"Ya. Aku tidak bohong, Bayu. Dengan wajah sinis, wanita itu tadi berbicara sendiri. Sepertinya dia menyalahkan rumah ini. Dia Sepertinya mencurigai rumah ini. Tapi aku tidak mengerti maksud perkataannya. Lalu dia berjongkok lama di halaman belakang, sibuk mencongkel tanah," jawab Noura.
"Kita harus menyelidiki wanita itu. Kecurigaanku makin kuat. Wanita itu sepertinya punya maksud dan tujuan lain berada di rumah ini. Kapan kita akan menyelidiki wanita itu lagi?" Noura berbisik ditelingaku.
Aku sadari kesibukanku benar-benar tersita akhir-akhir ini. Sampai-sampai aku melewatkan waktuku untuk menyelidiki Mbak Siti. Aku dan Noura ingin sekali menjebaknya. Tapi bagaimana caranya?
Aku masih berdiri di dapur bersama Noura, saat pintu samping dibuka dan muncullah sosok yang kami curigai dari balik pintu. Aku gelagapan. sorot mata Mbak Siti menatap tajam ke arah Noura.
"Darimana Mbak?" tanyaku.
__ADS_1
"Beli plastik untuk packing," jawabnya datar.
Bersambung.