NOURA VAN KEMMERS

NOURA VAN KEMMERS
Masih Terheran


__ADS_3

Aku masih terbengong. Dikamar aku tidak bisa tidur. Apa yang terjadi denganku seharian tadi. Mengapa waktu berjalan begitu cepat. Aku hanya mengobrol dengan Noura di paviliun itu dalam hitungan beberapa jam saja. Perkiraanku saat itu paling sekitar lima atau enam jam.


Baru pertama kali aku mengalami hal seperti ini. beberapa hari sebelumnya, setiap kali aku berinteraksi dengan Noura tidak pernah seperti ini. Aku mengobrol dan mendengarkan cerita-ceritanya. Dan waktu bergulir seperti biasa.


Seperti waktu pertama kali mengobrol dengannya di bawah pohon rindang. Biasa saja.Tidak ada keanehan seperti ini. Apa karena durasi waktu ketika kami mengobrol saat itu tidak begitu lama seperti seharian tadi? ataukah memang sebenarnya sama sama bergulir cepat tapi tidak ada yang merasakannya? ataukah mungkin karena lokasi tempat aku mengobrol dengannya?


Sebelumnya aku hanya mengobrol debgan Noura di teras samping tepatnya di bawah pohon rindang. Dan kemarin di paviliun dan gudang belakang. Apakah karena di situ tempatnya, maka perubahan wakti terjadi dengan sangat fantastis? apa karena Noura sudah berhasil membawaku ke dalam dimensi yang berbeda saat dia menceritakan kisah hidupnya kepadaku?


Saat memasuki gudang dan paviliun, aku memang dibuat kagum dengan berbagai perabotan yang masih tersisa di dalamnya. Mulai dari peralatan makan, foto-foto Noura, benda-benda di dalam peti milik Noura hingga perkakas lainnya. Memang tidak begitu banyak. Tapi kuakui, semuanya sangat keren. Benda-benda peninggalan tempo dulu yang masih tersisa, yang seakan menjadi penanda kehidupan di masa lalu dan sekaligus seperti membawaku memasuki dimensi masa lalu.


Apakah benar begitu? apa benar aku sudah memasuki dimensi yang berbeda saking seriusnya aku mendengarkan cerita-cerita Noura?


Kurasakan saat itu memang aku benar-benar seolah terhanyut pada setiap detail kisah yang dia ceritakan. Kisah hidupnya benar-benar membuatku terkesan sekaligus sedih. Malang sekali nasib Noura.


Dan suasana di dalam paviliun dan gudang itu benar-benar membawaku pada atmosfer tempo dulu. Aku jadi semakin penasaran. Samar-samar aku mendengar percakapan Mama dan Ayah. Sepertinya mereka masih membahas tentang aku yang menghilang seharian ini.

__ADS_1


"Bayu seperti orang linglung. Ayah lihat sendiri kan?" ujar Mama.


"Iya. Dia bilang tadi hanya melukis di paviliun belakang lalu ketiduran. Aneh. Masa ketiduran sampai selama itu?"


"Sepertinya dia memang harus punya kesibukan di luar, Yah. Kerjanya setiap hari hanya melukis dan melukis saja seharian. Lalu malam kadang begadang sambil main gitar. Mau sampai kapan dia begitu terus? dia harus bekerja dan cari pengalaman. Sayang ijazah sarjananya kan?"


"Betul Mah. Seminggu lalu Ayah sudah pernah bertanya pada dia apa dia tertarik untuk bekerja di Bank? dia jawab tidak. Dia masih ingin mencoba peruntungan lain katanya. Bahkan hanya sekedar untuk mencari pengalaman saja, dia bilang juga tidak tertarik. Dia tidak tertarik bekerja di kantor katanya."


"Anak itu memang susah diatur sejak kecil. Dari dulu memang dia lebih berminat pada seni ketimbang bidang lain. Coba sarankan dia untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya, Mah. Dari dulu Ayah tidak pernah memaksakan keinginan Bayu. Semua terserah pada dia. Yang penting dia enjoy dan nyaman dengan bidang yang digelutinya."


"Tapi Mama kok penasaran dengan paviliun itu ya, Yah. Apa ada sesuatu di situ yang membuat Bayu tidur seharian?"


"Maksud, Mama?" tanya Ayah.


"Yah, siapa tahu ada sesuatu yang berkaitan dengan hal-hal mistis di situ. Ayah masih ingatkan? kejadian waktu Bayu berumur delapan tahun. Waktu dia main petak umpet sama teman-temannya. Bayu dan dua orang temannya sembunyi di rumah kosong. Lalu dua orang temannya berhasil keluar dan mereka mencari-cari Bayu tapi tidak ketemu. Sampai akhirnya mereka melaporkan ke kita dan juga ke orangtua mereka. Hampir satu jam para orang tua mencari keberadaan Bayu. Tapi dia tidak ditemukan. Tidak tahunya dia ada di sudut selasar rumah kosong itu dalam keadaan tertidur," ujar Mama menjelaskan.

__ADS_1


"Iya Mah...Ayah ingat. Kita benar-benar panik saat itu. Kita sibuk mencari dia. Begitu ketemu, dia sudah dalam kondisi tertidur. Saat kita bangunkan dia nampak sangat keheranan. Dia hanya bersembunyi di sekitar di sekitar selasar. Lalu karena mengantuk dia tertidur. Tidak disangka tidurnya begitu lama," sambung Ayah.


"Alhamdulillah teman-temannya segera memberi tahu kita, Yah. Coba kalau mereka diam saja dan tidak cerita. Bayu pasti bisa sampai malam ketiduran di rumah kosong itu. Malah gelap pula," suara Mama terdengar sambil terisak.


"Sejak saat itu Mama semakin ketat mengawasi anak-anak kalau bermain di luar. Jantung terasa mau copot kalau ingat kejadian itu. Dan sekarang terulang lagi. Mama kok jadi khawatir ya, Yah?" tanya Mama.


"Sudahlah, Mah. Bayu sudah dewasa sekarang. Dia sudah bukan bocah lagi. Buktinya dia segera pulang kan begitu bangun dari tidurnya? dia tidak menangis karena ketakutan," jawab Ayah.


"Apa paviliun di belakang itu gelap, ya Yah? Ayah sudah pernah mengecek ke sana?" tanya Mama lagi.


"Hanya melihat dari luar, Mah. Bangunannya masih bagus dan kokoh. Tapi Ayah belum masuk ke dalamnya. Kalau di teras depan dan samping paviliun dan gudang itu sih ada lampunya. Menyala terus kok lampunya," jawab Ayah.


Keasyikan mendengarkan percakapan mereka membuat mataku makin berat. Tak kuat lagi rasanya menahan kantuk. Aku pun mulai tertidur.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2