One Night Incident

One Night Incident
Bab 10 Merasakan Ketenangan


__ADS_3

Sapporo, pulau Hokaido...


Dengan bantuan Bramantya, laki-laki yang sudah memberinya pertolongan sejak dari Soekarno Hatta Airport, akhirnya Arine menemukan tempat tinggalnya di Sapporo. Gadis itu sangat menyukai tempat tinggal barunya, karena sejauh mata memandang, hamparan pemandangan indah tersaji di dekat rumahnya. Bahkan ketika gadis itu membuka pintu kamar, tampak mountain Moiwa terlihat gagah.


"Tempat tinggalmu sangat menyenangkan Arine.., kamu akan mendapatkan banyak inspirasi dari tempat ini." mengetahui kesibukan dan pekerjaan gadis itu, Bramantya berkomentar.


"Benar Bram.. aku sangat beruntung. Padahal lewat aplikasi agency, aku mendapatkan rumah ini. Yah.. karena harganya cocok, langsung aku lunasi. Dan ternyata betul betul sangat indah, dan membuat perasaan menjadi tenang.." dengan ekspresi bahagia, Arine memberikan tanggapan.


Laki-laki muda itu tersenyum, kemudian menyadari jika mereka baru datang, dan gadis itu butuh untuk istirahat, akhirnya Bramantya berpamitan.


"Baiklah Arine.. aku juga harus kembali ke tempat tinggalku. Jangan ragu untuk menghubungiku, jika kamu membutuhkan bantuan. Karena sangat sulit untuk mendapatkan teman atau kerabat di negara ini., karena mereka sering over thinking. Maksud kita hanya berteman, tapi tahu tahu akan ada petugas polisi datang memperkarakan kita." Bramantya berpesan,


"Benar Bram.., aku juga pernah melihat you tube podcast, tentang warga negara Indonesia yang bermukim di negara Jepang. Hanya mengajak senyum pada anak kecil, tiba-tiba saja ada petugas polisi yang mengetuk tempat tinggalnya." pernah melihat podcast Denny Sumargo, Arine menimpali.


Gadis itu mengikuti langkah kaki Bramantya yang berjalan keluar dari rumahnya. Tidak tahu kenapa, ketika bersama dengan laki-laki itu, sejak meninggalkan Jakarta, transit di Tokyo, dan akhirnya sampai di Sapporo, Arine merasa aman dan tenang. Laki-laki itu seperti bisa melindungi dan membuatnya tenang.


"Aku pulang dulu Arine, segeralah beristirahat. Lain waktu, kamu yang harus mampir ke tempat tinggalku.." ketika sudah sampai di depan rumah, Bramantya kembali berpamitan.


"Baik Bram.. terima kasih sekali lagi untuk semuanya." Arine melambaikan tangan, dan melihat sampai mobil Bramantya meninggalkan halaman tempat tinggalnya.


Setelah mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat tinggalnya, perlahan Arine kembali masuk ke dalam rumah. Tidak ada yang diinginkan saat ini, selain membaringkan tubuh di atas ranjang. Tetapi sebelum gadis itu tidur, terlebih dulu Arine menutup  pintu, dan jendela. Setelah itu, Arine melangkahkan kaki dan masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Melihat ranjang yang sudah  rapi, gadis itu segera merebahkan tubuh di atasnya. Tidak menunggu lama, gadis itu sudah terlelap dalam mimpinya.


**********


Keesokan paginya...


Arine betul-betul merasakan ketenangan dan refreshing di tempat tinggalnya yang baru. Gadis itu sudah sejak pagi, berjalan jalan mengitari areal sekitar tempat tinggalnya. Meskipun suhu udara terbilang dingin, tapi gadis itu masih bersyukur tidak merasa kepanasan.


"Hempphh... akhirnya aku bisa mendapatkan ketenangan, dan terlepas dari keributan dengan Sarah serta Claudia. Hanya saja, aku masih harus mendekati papa, untuk meluluhkan hatinya. Karena emosi, aku belum sempat untuk menjelaskan yang terjadi sebenarnya dengan papa." sambil merentangkan kedua tangannya, Arine berpikir sendiri.


Pemandangan hijau dari hutan yang terlihat jauh di depannya, menambahkan suasana sejuk  dan menyenangkan kota ini. Apalagi sungai kecil yang ada di samping Arine, mengalirkan air yang sangat jernih. Tidak jauh dari tempatnya berada saat ini, Arine melihat ada keramaian, dan setelah gadis itu memperjelas penglihatannya, ternyata ada pasar di pinggir jalan yang akan dilaluinya,


Melihat berbagai ikan laut dalam keadaan hidup dan mati, serta makanan olahan membuat Arine sangat terkesima. Tetapi begitu mengingat area geografis kota itu, dikelilingi laut dan hutan serta pegunungan, hasil laut akan banyak terdapat di pasar-pasar.


"Aku beli yang sudah diolah saja, repot jika masih harus memasaknya.." belum ada mood untuk memasak, Arine menghampiri penjual makanan sudah matang.


Kepiting, udang lobster dan berbagai hasil olahan ikan diminta Arine untuk disiapkan penjualnya. Untung saja, masih ada microwave yang ditinggalkan oleh pemilik rumah lama, sehingga gadis itu tidak akan kesulitan untuk memanaskan. Selain aneka makanan olahan, Arine juga membeli sayuran dan buah.


"Cukup saja dulu... aku tidak mungkin akan mengangkatnya sendiri untuk dibawa ke rumah.." melihat banyaknya belanjaan, di kedua tangannya, akhirnya Arine memutuskan untuk berhenti.


Warga asli Jepang terbiasa melakukan kegiatan dengan berjalan kaki, dengan jarak tempuh yang sangat melelahkan. Baru dua hari berada di kota ini, tentu saja Arine belum beradaptasi, dan baru pelan pelan belajar untuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan baru.

__ADS_1


"Sangat menyenangkan ternyata berada di Sapporo.. Selain kehidupan modern, kehidupan tradisional masih sangat kentara di kota ini, saling melengkapi. Akan mudah dan membantuku untuk penyesuaian diri di kota ini.." dengan menenteng belanjaaan, Arine berbicara sendiri sambil berjalan menuju ke arah jalan pulang.


Kepedihan yang dirasakan ketika memutuskan meninggalka papanya, perlahan mulai terkikis. Banyaknya aktivitas dan kesibukan, bisa melupakan gadis itu dari masalahnya. Bahkan test pack yang sudah dibeli beberapa hari lalu, ketika masih di Jakarta masih tersimpan rapi di dalam dompetnya. Rasa mual yang kemarin kemarin sesekali muncul, saat ini sudah hilang ketika menempati rumah baru.


"Sepertinya aku tidak dalam keadaan hamil, buktinya semua yang aku rasakan menghilang. Banyak pikiran dan stres mungkin yang membuatku mengalami kejadian seperti kemarin kemarin.." teringat dengan kekhawatiran akan hamil karena one night stand, Arine berbicara sendiri.


"Tapi meskipun aku hamil di kota ini juga tidak akan menjadi masalah. Aku malah akan mendapatkan tunjangan dari pemerintah, jika bisa melahirkan anakku." tiba-tiba gadis itu malah memiliki ide baru.


"Gila.. gila... sadarlah Arine woyyy... Statusmu masih gadis lajang, meskipun virginmu sudah hilang..." menyadari kegilaannya, Arine senyum senyum sendiri sambil terus berjalan.


Rasa penyesalan atas kejadian buruk yang menimpanya, yang sangat disesali  dan disedihkan, kali ini seperti hilang tidak berbekas. Konsekuensi apapun dari hubungan itu, sepertinya Arine sudah siap untuk menghadapinya sendiri. Tanpa sadar, setelah 30 menit lebih berjalan kaki, akhirnya gadis itu sampai juga di jalan masuk rumahnya.


"Syukurlah... aku sudah akan sampai kembali ke rumah. Makan... mandi, dan kembali bersantai. Atau aku bisa memulai untuk membuka kertas kerjaku, yang sudah satu minggu lebih aku lupakan.." kembali muncul senyuman , ketika Arine sudah masuk ke halaman depan rumahnya.


Tapi baru saja kakinya akan menginjak ke arah teras, tiba-tiba ada suara mobil masuk ke halaman dan kemudian berhenti. Gadis itu menghentikan langkah, tetapi mengetahui siapa yang datang, akhirnya Arine menyambut kedatangan tamunya itu.


"Bram... kebetulan sekali, aku baru saja akan masuk rumah..." ketika laki-laki itu sudah sampai di depannya, Arine menyapa anak muda itu.


"Iya aku tahu Arine.. mari aku bawakan.." Bramantya mengambil alih dua kantong belanjaan dari tangan gadis itu, Perlahan Arine  segera mencari kunci pintu, kemudian mulai membuka pintu untuk masuk ke dalam.


*********

__ADS_1


__ADS_2