
Elmar yang sudah membawa mobil menuju ke arah PIK, tiba-tiba memutar kembali arah kemudinya. Arine hanya melihat ke arah suaminya, ketika mobil kembali melaju ke arah mereka datang. Sepertinya laki-laki itu mengetahui apa yang ada di benak istrinya, karena Elmar tersenyum dan melihat sekilas ke wajah istrinya..
"Mama tiba-tiba meminta kita untuk datang ke mansion honey... Tidak tahu kenapa, padahal ada Bram juga di rumah.." belum sampai Arine bertanya, Elmar sudah membuat penjelasan,
"Hempphh... ya sudah, ga pa pa kak. Mungkin saja mama kangen dengan Brian, karena semalam Brian ikut dengan kita, menginap di tempat papa Abraham." Arine mengambil nafas lega, karena bukan alasan chaos, sampai suaminya berbalik arah.
"Feelingku berbeda denganmu honey... biasanya, jika mama sampai meminta semua anaknya untuk pulang, dan berkumpul, ada sesuatu yang akan disampaikan pada semua anggota keluarga. Untuk itu, kamu juga harus bersiap honey, karena kamu dan Brian juga anggota keluarga William.." sambil terus mengemudi, Elmar memberikan informasi,
Arine terdiam, dan mencoba menerka apa yang akan disampaikan papa dan mama mertuanya. Meskipun baru beberapa hari menikah, dan secara resmi menjadi keluarga inti dari pengusaha William, namun Arine dengan cepat menyesuaikan diri dan masuk dalam keluarga itu. Karena itu, mendengar ucapan dari suaminya, mau tidak mau gadis itu jadi ikut memikirkannya.
"Sudahlah honey..., jangan terlalu serius memikirkannya. Aku pikir, bukan masalah yang penting, kenapa mama sampai mengundang kita untuk datang ke mansion. Bisa jadi, kali ini yang benar adalah perkiraanmu, dimana papa dan mama kangen ingin bertemu dengan Brian... Bagaimana Brian, apakah anak itu masih tidur di kursi tengah,,,?" Elmar mengalihkan fokus pembicaraan.
"Mata Brian masih terpejam kak, berarti anak itu masih tidur. Karena jika terjaga, tidak mungkin Brian akan melewatkan pemandangan di sekitar kita.." sambil menoleh ke belakang, Arine memberikan tanggapan.,
Elmar tersenyum, sebenarnya laki-laki itu bisa sendiri melihat putranya, melalui kaca di depan. Namun agar istrinya tidak terlalu berpikir, tentang undangan mendadak dari mamanya, Elmar sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Pejamkan matamu sekalian honey..., perjalanan masih lama sekitar satu jam an lagi. Karena jam segini, masuk pada jam-jam macet.." sambil melihat ke arah istrinya, Elmar memberi arahan pada perempuan muda itu,
"Mmmpphh.. iya kak, Arine sebenarnya juga sedikit mengantuk. Kak Elmar hati-hati ya berkendaranya.." gadis itu segera memberikan jawaban.
Setelah melihat suaminya menganggukkan kepala, Gadis itu kemudian menurunkan sandaran kursinya. Dengan memeluk bantal kursi, perlahan Arine mulai memejamkan matanya.
__ADS_1
************
Mansion...
Nyonya Clara tersenyum melihat Keiko Kana sedang mengamati koleksi bunga anggrek kesukaanya. Kebetulan beberapa anggrek bulan, dan anggrek langka sedang berbunga, sehingga kelopak bunganya memperindah taman yang selalu dijaganya dengan baik.
"Apa yang sedang kamu lihat Keiko..., apakah kamu juga menyukai anggrek..?" melihat keseriusan gadis itu, perlahan nyonya Clara bertanya kepadanya.
Gadis itu mengalihkan pandangannya, dan menoleh ke sumber suara. Melihat kedatangan nyonya Clara, Keiko tersenyum dan melepaskan tangannya yang sejak tadi memegang lembut kelopak bunga anggrek tersebut.
"Auntie... Keiko sangat senang sekali berada di mansion auntie.. Koleksi anggrek ini benar-benar menakjubkan, menawarkan keindahan. Auntie Clara pasti sangat suka, berada berlama lama di dalam taman bunga ini.." senyuman merekah muncul dari bibir Keiko, seperti merekahnya bunga bunga anggrek tersebut.
"Benar apa yang kamu katakan Keiko.. Berada di dalam taman ini, bisa menghabiskan waktu berjam-jam lamanya. Apalagi, jika papanya Bram, juga kedua putra auntie tidak ada di mansion ini. Untuk mengobati kesepian, auntie lebih menyukai berada sendirian di dalam taman anggrek ini..." sambil tersenyum, mama Bram menjelaskan.
Keiko mengangguk anggukkan kepalanya, dan gadis itu merasa mendapatkan inspirasi dari perempuan paruh baya itu. Kesepian ketika aktivitas pekerjaan selesai, juga sering dialami oleh Keiko. Gadis itu sering melampiaskan, dan membunuh kesepian dengan berada sendiri di objek wisata.
"Selain anggrek, jika Keiko menyukai kaktus, auntie juga memiliki di sudut roof top. Kebetulan bunga bunga gurun itu, karena dengan perawatan yang baik, saat ini juga sedang berbunga. Apakah Keiko ingin melihat koleksi auntie, jika iya, dengan senang hati auntie akan mengantarkanmu sayang...?" merasa mendapatkan level bicara satu hobby, dengan bersemangat nyonya Clara menawarkan hal lain pada Keiko.
'Wow... benarkah auntie... sangat luar biasa sekali. Keiko kebetulan juga menyukai tanaman kaktus juga, dan tidak mengira jika auntie juga memiliki koleksi tanaman gurun itu. Ayuk auntie.. Keiko ingin melihatnya sekarang..' dengan bersemangat, Keiko memberikan tanggapan.
Nyonya Clara tersenyum, kemudian menarik pergelangan tangan Keiko, dan membawanya menuju koleksi tanaman hias lainnya. Melihat banyak sekali tanaman di mansion itu, Keiko sampai mengerjap ngerjapkan matanya. Gadis itu merasa seperti sedang berkunjung ke taman kota, untuk melihat koleksi tanaman yang ada disana.
__ADS_1
************
Gazebo Roof top..
Bramantya yang sedang merokok sambil duduk di gazebo, terkejut melihat mamanya dan Keiko yang sedang berjalan menuju ke arah tanaman bunga koleksi mamanya. Laki-laki itu tidak mengira sama sekali, jika ternyata Keiko juga menyukai bunga, dan terlihat dalam tatap mata gadis itu sinar kekaguman melihat berbagai jenis tanaman mamanya.
'Hempph... aku tidak mengira, jika ternyata Keiko sangat worth it banget. Gadis itu dengan muda terlihat akrab dengan mama, padahal baru dua hari berada di mansion ini.." Bramantya bergumam, dan tanpa sadar di bibir laki-laki itu membentuk sebuah senyuman,
"Mama juga terlihat sangat bahagia, memiliki teman untuk berbagi hobby dan kesukaan. Demikian juga dengan Keiko... Ataukah..?" laki-laki itu terdiam sebentar, seperti tidak berani untuk melanjutkan gumamannya.
Bramantya terus menatap ke arah mamanya dan Keiko, sambil menghembuskan asap rokok, pikiran laki-laki itu malah melamun kemana-mana. Tanpa laki-laki itu sendiri, sudut matanya terus menatap ke arah Keiko, gadis yang sudah lama berteman dengannya, dan sering tergabung dalam project yang sama. Namun baru kali ini, Bramantya memiliki ketertarikan untuk mengamati gadis itu.
"Ternyata menarik juga wajah Keiko..., kenapa aku baru menyadarinya.." tanpa sadar Bramantya bergumam sendiri.
"Hush... kenapa pikiranku malah berlari ke arah Keiko... Sadar Bram..." Tapi tiba-tiba saja, laki-laki ini merasa malu sendiri dengan pikirannya yang ngelantur kemana-mana...
Bramantya mencoba menghapus pikirannya tentang gadis itu, dan mencoba mengalihkan pandangan ke tempat lain. Namun... tanpa sempat untuk mengendalikan pikirannya, laki-laki itu seperti tanpa sadar malah kembali menoleh melihat keakraban Keiko dengan mamanya..
"Toh tidak ada yang tahu juga, jika aku melihat ke arah mama dan Keiko.." akhirnya Bramantya merasa tidak ada salahnya memperhatikan gadis yang baru kali ini menarik perhatiannya.
**************
__ADS_1