
Abidzar kemudian menceritakan hasil wawancara dengan Miss Abony, termasuk penolakannya. Tuan Elmar hanya tersenyum kecut, mendengar cerita dari asisten pribadinya. Tapi begitu menatap ke arah Brian yang menggemaskan, hati dan perasaan Elmar kembali mencair.
"Hempphh... sudahlah Bidzar, kita juga harus menghormati keinginan dari gadis itu. Yang penting Miss Abony tetap menjadi part time di perusahaan kita bukan.." akhirnya Elmar memberikan tanggapan.
"Drttt... drtt... drtt...."
Tiba-tiba, ponsel Elmar berdering, dan ketika melihat di layar ponsel, terlihat Bramantya sedang memanggilnya. Elmar segera menggulir panggilan tersebut...
"Ada apa Bram.." dengan suara pelan, Elmar menjawab panggilan,
"Posisimu dan Brian saat ini ada dimana Elmar.. Aku sedang menemani mama di klinik yang ada di laboratorium. Jika kamu ada waktu, cepat meluncur ke laboratorium dan bawa Brian ikut serta.." suara Bramantya seperti tergesa gesa, dan ada kepanikan.
"Okay.. sabar Bram. Aku dan Brian sedang makan siang, tapi kebetulan kami juga sudah selesai. Tunggu kami, kami akan segera meluncur ke lokasi.." tidak tahu apa yang dimasalahkan, Elmar segera bersiap.
Tetapi mendengar suara kakak kandungnya yang terdengar sangat cemas, mau tidak mau Elmar menjadi ikutan panik. Tetapi untungnya laki laki itu masih berpikir secara rasional, dan mempersiapkan semuanya dengan baik.
"Brian... cuci tangan dan bersihkan mulut ya.. Bidzar... bereskan pembayaran, kita harus bergegas menuju laboratorium Kak Bram sedang menjaga mama, yang aku juga tidak tahu ada apa dengan mereka.." Elmar membuat pengaturan.
"Baik Uncle.." Brian segera turun dari kursi yang didudukinya, kemudian berjalan menuju ke wastafel,
Elmar melihat anak kecil yang cerdas itu sedang mencuci tangannya,. Beberapa saat kemudian anak kecil itu sudah kembali berjalan ke arahnya,
"Kita pergi sekarang Brian.., papa besarmu baru saja menelpon Uncle. Kita harus ke sana sekarang juga..." Elmar segera mengangkat tubuh Brian, karena lebih cepat jika dia menggendong, dari pada harus berjalan menggandeng anak itu. Untungnya Brian sangat mudah diajak untuk bekerja sama, dan bahkan Elmar seperti melupakan Abidzar yang sedang membereskan bill di cashier. Karena tergas gesa, laki laki itu meninggalkan Abidzar, dan meminta driver untuk mengantarkan ke laboratorium.
__ADS_1
***********
Abidzar merasa kebingungan, ketika keluar menuju ke lobby restaurant, ternyata Elmar dan Brian tidak ada. Tapi laki laki itu berusaha memaklumi apa yang dilakukan tuan mudanya, dan berniat untuk mendapatkan taksi untuk kembali ke Pant House. Tapi..
"Bukahkan ini Tuan Abidzar .." tiba tiba terdengar suaraperempuan yang menyapa dari posisi di belakangnya.
Abidzar perlahan menoleh ke belakang, dan terlihat Arine dengan seorang laki laki yang tadi sempat berbincang dengan Brian, berdiri di belakangnya. Muncul pertanyaan dalam diri laki laki itu..
"Bukankah ini laki laki yang tadi ada di lobby hotel, bagaimana bisa dia berada di tempat ini dengan Miss Abony. Apakah mereka ini memiliki hibungan..." Abidzar hanya bertanya dalam hati. Tetapi meninggat posisinya saat ini, Abidzar berusaha menghilangkan pikiran curiganya..
"Iya Miss Abony... kebetulan saya akan mencari taksi untuk kembali menuju hotel. Tuan muda sedang ada kepentingan, jadi tidak bisa menunggu saya.." sambil tersenyum, Abidzar menjawab pertanyaan Arine.
Raffi tidak ikut berbicara, hanya tampak berusaha mendengarkan percakapan Arine dan Abidzar.
"Eh... tidak perlu merepotkan seperti itu Miss Abony... Aku bisa naik taksi saja untuk kembali ke hotel. Lagian jarak hotel ke restaurant ini, juga tidak begitu jauh.." Abidzar berusaha menolak tawaran itu.
"Tidak perlu sungkan seperti itu Tuan..., mari ikut denganku. Saya akan mengantarkan anda lebih dulu ke hotel, barulah saya akan mengantarkan miss Arine ke hotelnya. Kebetulan juga Arine, sebelum aku tadi ke restaurant, sepertinya aku tahu dimana hotel tuan Abidzar ini..." di luar dugaan, ternyata Raffi merasa tidak keberatan.
"Begitukah... kenapa semua bisa terjadi secara kebetulan. Jika begitu.., mari tuan Abidzar...!" akhirnya tiga anak muda itu segera berjalan menuju ke mobil yang diparkir tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Begitu mereka sudah sampai di depan mobil, dan terlihat driver Raffi membuka pintu...
"Tuan Abidzar tidak keberatan bukan, jika harus duduk di depan bersama dengan driver," dengan sikap sopan, Raffi mempersilakan Abidzar untuk masuk.
__ADS_1
"Tentu saja tidak tuan Abidzar... tuan sudah terlalu baik untuk membantu saya, masa saya tidak tahu diri.." sambil tersenyum, Raffi segera naik ke mobil, dan duduk di samping driver,
Tidak lama, Raffi kemudian membantu Arine untuk duduk di kursi tengah. Setelah gadis itu duduk, Raffi segera berjalan memutar mobil, dan kemudian juga naik ke mobil. Laki laki itu duduk di samping Arine.
***********
Perjalanan menuju laboratorium...
Wajah Elmar tampak panik ketika membayangkan apa yang dialami mamanya di laboratorium kesehatan. Pikiran anak muda itu berkisar tentang hasil pemeriksaan general check up, deteksi kanker, deteksi jantung, dan lain lain. Karena jenis gangguan itu yang sering mendatangi para orang tua dengan usia 50 tahun ke atas...
"Uncle... kenapa wajah Uncle terlihat gelisah..?" tiba tiba terdengar suara Brian, yang langsung membuyarkan pikiran buruk yang dilakukan Elmar.
Elmar menoleh dan melikat ke arah Brian..., kemudian laki laki dewasa itu memeluk tubuh kecil Brian..
"Benar Brian... tiba tiba saja Uncle merasa khawatir dengan keadaan oma, dan juga papa besar. Barusan papa besar memberi tahu Uncle, bahwa sedang berada di laboratorium kesehatan dengan oma juga. Tidak tahu apa alasannya, papa besar meminta Uncle untuk segera menuju ke laboratorium juga..." tanpa sadar, Elmar menceritakan apa yang dialami pada bocah kecil itu.
Tidak diduga...
"Tenangkan pikiran Uncle... Semua yang kita pikirkan, sering terjadi, tidak buruk seperti yang kita bayangkan. Hanya dibutuhkan pikiran yang tenang, dan jangan lupa untuk berdoa Uncle. Kata mommy, semua yang ada dan terjadi di dunia, sudah ada yang mengatur semuanya.." Elmar kaget mendengar saran yang diberikan anak kecil itu. Ucapan yang barusan dikatakan, sama seperti ucapan orang dewasa.
Tiba tiba Elmar kembali memeluk tubuh Brian dengan erat. Dan anak kecil itu mengusap punggung Elmar, seperti laki laki dewasa menenangkan anak seusianya. Dari kursi depan, Driver melihat interaksi keduanya. Dalam pikiran driver itu, melihat ada chemistry dan kesesuaian dua orang yang duduk di kursi tengah itu. Jika laki laki itu belum tahu, pasti juga akan ikut mengira jika antara Elmar dan Brian ada hubungan darah di antara mereka.
**************
__ADS_1