One Night Incident

One Night Incident
Bab. 36 Serba Kebetulan


__ADS_3

Tokyo Bay Shiomi Prince Hotel


Di lobby hotel, mobil Raffi bermaksud untuk menurunkan Abidzar. Tapi ketika Raffi akan memerintah sopir untuk menjalankan mobil, tiba tiba Arine mencegahnya.


"Sebentar Raffi... sepertinya Bram membawa Brian untuk menginap di hotel ini juga. Aku akan mencari informasi, siapa tahu Brian masih berada di hotel. So.. aku bisa membawanya ke hotelku sekarang juga. Kebetulan aku juga sudah tidak ada aktivitas lagi..." Arine membuka pintu mobil, kemudian gadis itu segera turun.


Abidzar yang masih berada di lobby, terkejut melihat Miss Abony juga ikut turun.


"Apakah ada hal lain Miss Abony, ataukah Miss Abony sudah menemukan jawaban, dan ingin segera bergabung secara offline dengan perusahaan...?" laki laki itu salah paham.


"Hempphh... kamu terlalu banyak berkhayal tuan Abidzar.. Ada urusan yang lebih penting bagi hidup saya, dari pada hanya sekedar pekerjaan. Permisi..." Arine bergegas masuk ke dalam hotel, dan langsung berjalan menuju ke arah receptionis.


Di belakang gadis itu, akhirnya Raffi mengikutinya juga., Meskipun dalam hati, Raffi juga tahu apa yang sebenarnya akan dicari oleh Arine, tapi anak muda itu pura pura tidak mengetahuinya. Raffi melihat ketika Arine berbincang dengan petugas hotel, dan receptionis menjelaskan,


"Untuk tuan Bramantya dan keluarganya memang berada di Pant House hotel ini Miss.. Hanya saja, sepertinya mereka sudah keluar dari hotel beberapa saat yang lalu. Untuk kemana perginya tamu kami. semua di luar kewenangan kami untuk mengetahuinya.." tampak receptionis menjelaskannya.


"Oh begitu ya... atau mungkin saya bisa diperkenankan untuk ikut menunggu di tempat ini.." tampaknya Arine ingin tetap menunggu kedatangan Brian.


"Silakan miss..., mungkin Miss bisa menunggu di lounge, atau di kursi tamu. Silakan..." dengan ramah, receptionis memberikan tanggapan.


Tanpa sepengetahuan Arine, ternyata asisten Abidzar berdiri di belakangnya, Dan mendengar perbincangan antara Miss Abony dengan petugas hotel, akhirnya laki laki itu baru tersadar...

__ADS_1


"Miss Abony... sepertinya kita perlu bicara sebentar miss... Tanpa kita sadari, ternyata terjadi faktor kebetulan seperti ini.." mendengar suara Abidzar, kening Arine berkerut.


Tampak Raffi ingin mencegah laki laki itu memberi tahu keadaan sebenarnya pada Arine, tapi laki laki itu sudah terlambat.


"Tentang apa ya tuan Abidzar...?" ketika Arine masih bertanya dalam keadaan bingung, tangan Abidzar lebih cepat. Laki laki itu menarik tangan Arine, kemudian membawanya ke tempat duduk yang ada di sekitar lobby. Akhirnya dengan terpaksa, Raffi mengikuti mereka di belakang.


"Silakan duduk Miss..." Abidzar mempersilakan gadis itu untuk duduk.


Arine segera duduk di sofa, dan diikuti oleh Abidzar dan juga Raffi.


"Apakah kedatangan Miss Abony  selain mengantar saya, juga mencari seorang anak kecil yang datang bersama tuan muda Bramantya. Dan anak kecil itu bernama Brian.." mendengar perkataan Abidzar, bola mata Arine membulat,


Gadis itu sama sekali tidak mengira, jika tuan Abidzar ternyata juga mengenal Bramantya. Raffi menjadi gusar, padahal anak muda itu juga tahu jika laki laki ini ada hubungannya dengan Brian.


"Apa maksud Tuan...?? Jika anda mau tahu, Arine sudah lama terikat kontrak sebagai karyawan paruh waktu pada perusahaan kami. Saya sebagai asisten pribadi CEO Javanica Ltd., kamu anggap sebagai orang lain untuk Miss Abony... Anda betul betul naif anak muda.." Abidzar berpikir jika Raffi akan menghalangi informasi yang akan disampaikan olehnya.


"Iya Raffi.. kamu salah sangka. Tuan Abidzar adalah atasanku, kamu jangan bicara sembarangan. Lanjutkan saja Tuan Abidzar..!" Arine ikut mendukung Abidzar.


"Hempphh... baiklah Arine. Aku akan menunggumu..." karena  Arine ikut memperingatkannya, akhirnya Abidzar memutuskan untuk diam.


Setelah melihat laki laki yang bersama Arine akhirnya diam, Abidzar kemudian melanjutkan apa yang mau disampaikannya.

__ADS_1


"Tuan Abidzar tahu putra saya Brian, dan juga kenal dengan Bram, teman baik saya yang dianggap sebagai papa besar oleh putra saya.." kali ini, gantian Abidzar terkejut mendengar penjelasan dari Arine. Selama ini, dirinya dan Elmar menganggap jika Bram adalah papa kandung dari Brian, tetapi ternyata bukan.


"Benar Miss Abony..., hanya saja kebetulan pagi sampai siang ini, Tuan Bram sedang menemani Nyonya Clara, mama tuan Bram untuk pergi ke laboratorium. Sedangkan Brian sedang bersama dengan tuan muda kedua, Tuan Elmar. Tapi jangan khawatir Miss... tuan Elmar sama sayangnya dengan Brian, jadi anda tidak perlu untuk mengkhawatirkan putra anda. Brian berada di tangan orang yang tepat.." setelah menjelaskan, Abidzar berusaha untuk menenangkan Arine.


Arine terdiam beberapa saat, dan dalam pikiran gadis itu tampak sedang mempertimbangkan sesuatu. Setelah beberapa saat..,


"Tuan Abidzar... apakah saya bisa diijinkan untuk menunggu putra saya Tuan.. Apalagi, Bram juga sedang berkumpul dengan keluarganya, jadi keberadaan Brian pasti mengganggu kebebasan mereka.." tiba tiba Arine meminta ijin pada asisten Abidzar.


"Tentu saja bisa Miss Abony.., kita ini kan bukan orang lain. Apalagi ternyata Miss Abony, juga sahabat baik dari Tuan muda pertama, yang juga memiliki saham dari Javanica Group. Tetapi saya akan tidak menghormati Miss, jika saya membiarkan Miss Abony menunggu Brian di tempat ini. Mohon untuk mengikuti saya Miss, saya persilakan Miss Abony untuk menunggu di Pant House." dengan sopan, dan sikap hormat, Abidzar memberikan ijin,


Perubahan sikap Abidzar itu sangat mengganggu Arine, karena posisinya di perusahaan, dirinya merupakan anak buah dari laki laki itu. Tetapi begitu teringat dengan ucapan laki laki itu, yang mengatakan jika Bram juga pemegang saham di perusahaan itu, akhirnya Arine diam saja. Dan begitu ingat Bram, akhirnya Arine teringat jika ada hal yang akan dikonfirmasinya dari laki laki itu.


"Oh ya Raffi...., saya tidak bermaksud untuk mengganggu kesibukanmu hari ini Raffi. Terima kasih sudah membawaku ke hotel ini, tetapi mendadak aku punya rencana lain. Kembalilah ke perusahaanmu Raffi, aku bisa sendiri untuk menunggu kedatangan Brian.." untungnya Arine tidak melupakan keberadaan Raffi.


"Tenanglah Arine... aku juga sudah kosongkan jadwalku. Tenanglah.. aku akan menemanimu untuk menunggu Brian, Aku juga sudah merindukan anak itu, sudah cukup lama bukan, aku dan Brian tidak pergi atau main bersama.." menggunakan alasan Brian, Raffi berusaha untuk tetap berada di hotel.


"Emmmpphh... baiklah Raff, terserah padamu sendiri. Yang penting aku tidak memaksamu.." akhirnya Arine menerima apa yang dikatakan oleh laki laki itu.


Melihat perbincangan antara Raffi dan Arine sudah selesai, Abidzar kembali mengajak mereka untuk naik ke Pant House.


"Miss Abony... tuan Raffi.., tolong ikut saya masuk ke lift yang ada di sudut sana. Kita akan langsung menuju ke Pant House.." sambil tersenyum, Abidzar mempersilakan dua tamunya itu.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, ketiga orang itu bergegas memasuki lift yang akan membawa mereka ke satu lantai di bawah roof top.


**********


__ADS_2