One Night Incident

One Night Incident
Bab 37. Call Me Daddy


__ADS_3

Tokyo Takanawa Hospital


Begitu Elmar pergi sambil menggendong Brian keluar, nyonya Clara menjadi bertambah panik. Perempuan paruh baya itu khawatir, jika putra keduanya akan melakukan sesuatu yang tidak diinginkan keluarganya. Nyonya Clara berdiri, dan menarik Bramantya yang hanya terdiam melihat adiknya pergi.


"Bram... ikuti adikmu. Mama khawatir, jika Elmar akan melakukan sesuatu yang buruk pada Brian. Mama akan menerima Brian, siapapun papanya nak..." perempuan itu meminta tolong pada putranya.


"Sudahlah mam... percaya pada Elmar. Bram yakin jika Elmar akan punya rencana sendiri pada Brian.., dan pasti akan membawa kembali anak itu. Kita menunggu mereka disini saja, atau jika mama lelah, Bram akan mengantarkan Brian pulang sekarang.." ternya Bram tidak punya pikiran apapun pada adiknya.


"Tapi... jika mommy Brian datang ke hotel, dan bertanya tentang putranya bagaimana Bram...?? Kita akan kesulitan untuk menanganinya.." Nyonya Clara menyinggung Arine,


"Semua akan terbuka mah.., jika kita bertemu Arine, mommy Brian. Kita bisa bertanya langsung padanya, bagaimana kromosom Brian bisa hampir mendekati 50% mirip dengan Bram, maupun papa. Padahal, demi Tuhan mah, Bram tidak pernah melakukan sentuhan fisik intim dengan Arine.." tanpa sadar, pembelaan yang dilakukan Bram, memperkuat dugaan Nyonya Clara pada Tuan William yang sejak tadi akan dihilangkannya. Apalagi dari hasil test kemiripan, suaminya William memiliki kemiripan lebih besar  dari pada Bram.


Melihat mamanya kembali terdiam, barulah Bram tersadarkan jika perkataannya telah mengenai hati mamanya. Laki laki itu segera memeluk mamanya...


"Kita pulang sekarang saja mah... kita akan tunggu bagaimana Elmar akan menangani hal ini. Percayalah pada Elmar mah..., Bram sendiri yang akan menjamin, jika anak itu tidak akan melakukan sesuatu yang buruk pada Brian.." Bram kembali berusaha untuk meyakinkan mamanya.


"Baiklah Bram... antarkan mama kembali ke hotel. Setelah itu, susul adikmu dimana dia pergi membawa Brian. Mama tidak mau terjadi apa apa dengan anak itu, Brian terlalu menggemaskan.." akhirnya Nyonya Clara bisa mengendalikan kegundahannya.


Mama dan putra pertamanya itu, akhirnya berdiri dan keluar dari ruangan tersebut. Sambil berjalan, Bramantya mengamankan hasil pengujian laboratorium, dengan melipat dan memasukkan ke dalam saku kantong celananya.


*************

__ADS_1


 Beberapa saat setelah diambil sampel darahnya, Elmar mengajak Brian untuk menikmati minuman untuk menyegarkan pikirannya. Sebenarnya dokter yang melakukan pengujian, meminta Elmar untuk pulang, nanti hasil pengujian akan dikirimkan secara paperless, melalui email. Namun... anak muda itu menolaknya, dan mengatakan akan menunggu hasil dengan tetap berada di lingkungan rumah sakit. Akhirnya dokter dan tim laboratorium mengijinkannya.


"Uncle... sebenarnya apa yang dilakukan Uncle dengan menyamakan darah kita Uncle.." dengan kecerdasan rata rata anak seusianya, Brian menanyakan pada laki laki dewasa itu.


Elmar menghentikan aktivitas yang sedang mengaduk gula di cangkir minumannya. Laki laki dewasa itu menatap wajah Brian dengan penuh harapan..


"Brian... Uncle menganggap jika kamu sudah mulai besar anakku. Uncle ingin melakukan pengujian, dan mencari bukti jika Brian adalah putra dari Uncle, putra kandung anakku. Karena kesalahan mommy dan Uncle di masa lalu, maka kita terpisahkan selama ini.." dengan mata berlinang, Elmar memiliki harapan penuh dengan keberhasilan dari hasil test DNA.


Brian menjadi bingung, dan hanya menatap balik ke mata laki laki dewasa yang duduk di sampingnya itu. Brian memang merasa lebih aman ketika berada di dekat Elmar, dan ada rasa yang tidak didapatkannya ketika Brian berada di dekat Raffi maupun Bramantya.


"Maksud Uncle..., apakah Uncle ini papa kandung Brian, yang nanti akan terus bersama dengan Brian Uncle. Beda dengan papa besar dan papa kecil.." kembali anak kecil itu mengulang pertanyaan yang tadi sempat ditanyakan.


Tiba tiba Brian memeluk Elmar dengan erat, dan laki laki dewasa itu juga memeluk putranya. Ada keharuan di antara keduanya.. Tiba tiba...


"Tuan Elmar William... silakan masuk ke ruang konsultasi dokter...!" tiba tiba ada petugas kesehatan memanggil nama laki laki dewasa itu.


"Baik..." Elmar segera berdiri dan menggendong Brian di pinggangnya.


Laki laki itu segera berjalan cepat mengikuti petugas kesehatan yang memanggilnya, dan tidak lama akhirnya mereka masuk ke ruang konsultasi. Dokter Kochigawa tersenyum dan meminta Elmar untuk duduk di kursi. Dengan tetap menggendong Brian, laki laki itu kemudian duduk dan menempatkan Brian dalam pangkuannya. Beberapa saat kemudian....


"Tuan Elmar... sebelumnya saya ucapkan selamat. Saya tidak mau tahu, ada cerita apa di balik semua ini, tapi dari hasil pengujian DNA, hasil kromosom anda dan Brian memiliki kemiripan 99,68%, yang membuktikan jika Brian adalah anak kandung anda,.." perkataan dokter Kochigawa sangat mengejutkan Elmar.

__ADS_1


Air mata tanpa sadar berkumpul, dan membuat pelupuk mata anak muda itu menjadi tergenang. Dengan polosnya, Brian menatap ke atas, kemudian tangan mungilnya mengusap air mata di kelopak mata laki laki itu.


"Terima kasih Brian putraku... mommy mu telah mengasuh, dan merawatmu dengan baik. Daddy sengat berhutang budi pada mommy mu..." Elmar kembali memeluk erat Brian, dan menangis di pundak kecil bocah itu.


Dokter Kochigawa dan perawat yang ikut berada di dalam ruangan itu., ikur merasa terharu dengan interaksi antara Brian dan Elmar. Setelah beberapa saat, akhirnya Elmar sudah mulai bisa mengendalikan dirinya.


"Dokter Kochigawa... sekiranya sudah cukup perjalanan saya untuk menemukan kepastian langkah saya ke depan. Dengan hasil pengujian dari laboratorium ini, akan menjadi petunjuk untul kegelapan yang selama ini dirasakan putra saya. Ke depan, saya tidak akan pernah membiarkan hal ini akan terjadi lagi Dokter. Terima kasih untuk semuanya.., dan saya akan segera kembali ke hotel." Elmar kemudian menjabat tangan dokter Kochigawa dan perawat dalam ruangan itu.


Tidak lama kemudian, Elmar segera meninggalkan ruang konsultasi dengan tetap menggendong Brian di  depan dadanya..


"Uncle..." tiba tiba Brian dengan takut memanggil Elmar.


"Buang panggilan Uncle... Brian..., call me Daddy okay.." Elmar membetulkan panggilan Brian padanya.


"Mmmpphh... baik Daddy. Turunkan Brian sekarang dadd... Brian bisa berjalan cepat mengikuti langkah daddy, karena Brian sudah besar.." ternyata Brian ingin turun dari gendongan Elmar.


"Tidak untuk saat ini Brian..., ijinkan daddy mendekapmu. Sudah banyak kesempatan daddy yang hilang, dan semua dengan rela dilakukan mommy mu sendirian. Daddy love you... Brian.." sambil berjalan menuju ke tempat parkir, Elmar terus memberikan ciuman pada anak itu.


Melihat emosi laki laki yang belum lama disebutnya sebagai daddy, Brian mendiamkan, Anak kecil itu malah dengan santai menyandarkan kepalanya di pundak Elmar.


************

__ADS_1


__ADS_2