
Arine yang masih mengamati setiap detail ruang kerja suaminya terpaku beberapa saat. Tiba-tiba gadis itu melihat ada handle kecil di belakang meja kerja suaminya. Merasa penasaran, tanpa sadar Arine mengusap beberapa kali, kemudian menekan handle tersebut.
"Blak..." Arine terkejut dengan apa yang dia lihat di depannya.
Tiba-tiba sebuah pintu terbuka, dan mata gadis itu terbelalak ketika melihat ke dalam. Sebuah kamar lengkap dengan king size bed terdapat di dalamnya. Mata Arine mengerjap, ketika tanpa dia tahu, di dinding kamar tidur tersebut, sudah terpajang foto acara perayaan pernikahannya bersama dengan Brian juga.
"Mmmpphh... kak Elmar tidak pernah menceritakan padaku, jika ternyata ada kamar istirahat di dalam ruang kerjanya. Tapi... sebenarnya bukan kamar istirahat sih, lebih layak seperti kamar hotel kelas Suite.." Arine berbicara pada dirinya sendiri..
Tanpa dirinya sadari, tiba-tiba kaki Arine sudah melangkah masuk. Sesampainya di dalam ruangan, lagi-lagi sorot kekaguman terlihat di matanya. Bukan hanya king size bed, di kamar itu juga terlihat memiliki kulkas, dan berbagai peralatan lengkap untuk hidup di dalam ruangan itu,
"Sepertinya kamar ini, bukan hanya untuk tempat istirahat jika kak Elmar lelah. Bahkan kamar ini juga bisa digunakan untuk tempat tinggal.." melihat ada wardrobe yang berisi pakaian suaminya, Arine kembali bergumam.
Tetapi tiba-tiba tatapannya melihat ke sudut wardrobe, terlihat ada beberapa gaun tergantung disana. Kening Arine berkerut, dan tanpa disadari jantungnya mulai berdetak kencang. Arine merasa, saat ini tanpa sengaja telah melihat rahasia suaminya..., yang mungkin sudah sengaja ditutupi oleh laki-laki itu, Seketika saat ini Arine merasa berada di dalam ruangan yang gelap.
"Pakaian siapa itu... juga ada tas dan lengkap sepatunya. Apakah selama ini kak Elmar berbohong kepadaku.., dan aku hanya sebagai pelarian saja.." berbagai pertanyaan memenuhi otak Arine. Bibir gadis itu sampai bergetar..
"Ternyata semua laki-laki dimanapun sama saja.., dan ternyata aku juga menjadi pelakor, dengan mengambil kak Elmar dari wanita itu. Apa yang harus aku lakukan Tuhan..?" dada Arine merasa sesak, pandangan matanya mulai berkabut, seakan tidak kuat melihat kenyataan di depannya.
"Siapapun kamu..., aku mengaku salah, dan aku berani untuk mengalah. Maafkan akan ketidak tahuanku, dan sudah melakukan pernikahan dengan kak Elmar.. Meskipun sudah ada Brian di antara kita, tetapi aku bersedia untuk mengalah, demi kebahagiaan kalian.." dengan bibir bergetar, Arine bicara sendiri.
Kedua telapak tangannya ditangkupkan menutupi wajahnya. Lantai tempatnya berpijak saat ini seperti goyah, tidak kuat dengan kenyataan yang terjadi di depan matanya.
__ADS_1
"Aku tidak boleh tetap berada dalam ruangan ini, aku harus segera bertindak. Daripada aku menunggu kak Elmar mencampakkanku, lebih baik aku menjauh darinya. Aku akan memanggil Bram, untuk mengantarkan Brian kepadaku. Lebih baik aku segera meninggalkan kota ini, kota yang sejak dulu tidak mau membiarkanku bahagia.." tiba-tiba Arine menghapus air matanya, dengan tissue yang diambilnya dari atas meja,
Gadis itu seperti memiliki semangat baru, untuk meyakinkan langkah yang harus ditempuh di depan. Perlahan Arine kembali membersihkan air mata dengan menggunakan tissue, kemudian melangkahkan kaki akan pergi dari kamar itu. Isak tangis ditahan oleh gadis itu, karena gadis itu tidak mau bertemu dengan Elmar.
"Laki-laki itu misterius.., kenapa aku bisa terkena bujuk rayu lagi.. Aku harus segera pergi dari tempat ini.." setelah mengambil tas tangan yang tadi diletakkan di meja kerja Elmar, Arine bergegas menuju ke pintu keluar dari ruang kerja.
***********
Dunia Fantasi Ancol
Bramantya menghampiri Keiko yang tengah duduk dengan Brian di dalam gazebo. Wajah putih perempuan muda itu terlihat merah, karena terkena sinar matahari yang cukup terik di siang itu. Brian berdiri dan menerima soft drink dari tangan papa besarnya..
"Terima kasih Brian..., auntie merasa tersanjung.." Keiko segera menerima minuman dari tangan Brian, dan tangan gadis itu mengusap pucuk kepala anak itu.
"Kalian berdua ini seperti mama dan putranya saja... Aku jadi membayangkan, jika akan memiliki anak seganteng Brian." Bramantya tersenyum, dan berkomentar melihat kedekatan istri dan keponakannya.
Keiko merasa malu mendengar ucapan suaminya, apalagi ada Brian di tempat itu. Gadis itu mencubit pinggang Bramantya, untuk mengingatkan laki-laki itu. Bukannya marah, Bramantya malah tertawa lebar.
"Tidak perlulah malu sayang... Brian ini juga putraku. Kamu tahu bukan, karena pada waktu Brian lahir, kamu jugalah yang telah membantunya.." Bramantya kemudian duduk di kursi yang ada di samping Brian,
"Benar auntie.. Brian ingin segera memiliki adik, jadi Brian ada teman untuk bermain. Jadi.. nanti adiknya Brian ada dua, satu dari papa besar, dan satunya lagi adik dari mommy and daddy.." Brian seperti menjadi pendukung papa besarnya.
__ADS_1
"He.. he.. he.., masih lama Brian sayang.. Auntie harus kembali ke Sapporo dulu.., dan program memiliki anak di kota itu.." mengucapkan kota Sapporo, Keiko melihat ke arah suaminya, ingin mengetahui bagaimana respon dari laki-laki itu.
Tapi sepertinya Bramantya memahami maksud istrinya. Laki-laki itu menundukkan wajahnya, kemudian tanpa sepengetahuan istrinya, laki-laki itu memberikan ciuman di kening istrinya.
"Sayang... tidak perlu menyindirku dengan kota Sapporo. Bukan hanya kamu sayang, aku suamimu juga ingin segera kembali ke kota itu.. Tenanglah, meskipun papa dan mama menahanku untuk kembali ke Jakarta, tapi Sapporo sudah memberi warna dalam perjalanan karirku. Kita akan kembali ke kota itu.. I.m promise.." Bramantya tersenyum dan menganggukkan kepala.
Keiko seperti tidak mempercayai pendengarannya, gadis itu menengadahkan wajah melihat ke arah suaminya. Lagi-lagi Bramantya tersenyum, dan menganggukkan kepala melihat ke arahnya.
"Sapporo... wah auntie dan papa besar bicara tentang Sapporo, tiba-tiba Brian jadi kangen kembali ke kota kecil itu. Maukah papa besar dan auntie membawa Brian turut serta, jika kembali ke kota itu.."tidak diduga, ternyata pembicaraan pasangan suami istri itu menarik perhatian Brian.
Anak kecil itu ternyata juga tengah merindukan tempat kelahirannya, meskipun tahu jika keluarga daddy nya ada di Jakarta.
"Boleh Brian... nanti papa besar yang akan minta ijin pada daddy, papa besar dan auntie Keiko akan membawamu kembali ke Hokaido.." sambil mengusap kepala Brian, Bramantya mengucap janji.
"Benar Brian... nanti Brian bisa tinggal bersama auntie dan papa besar.." Keiko ikut menyahut.
"Asyik... asyik... Brian akan kembali ke kota kecil itu. Udaranya bersih, pemandangannya bagus.. Tidak seperti di kota ini, panas dan udaranya kotor.." Bramantya dan Keiko tersenyum mendengar keluhan Brian tentang Jakarta.
Bramantya dan Keiko memeluk tubuh kecil Brian. Siapapun yang melihat kedekatan mereka bertiga, pasti mengira jika mereka adalah satu keluarga.
**********
__ADS_1