One Night Incident

One Night Incident
Bab 26. Generasi Penerus Ketiga


__ADS_3

Setelah melakukan panggilan video dengan putra dan juga sahabatnya Bramantya, Arine masih terhenyak. Sejak tadi, jantung gadis itu berdegup kencang, ketika tanpa sadar melihat ke arah kamera video, wajah putranya ternyata sangat mirip dengan wajah Bramantya. Jika orang tidak tahu, pastilah akan mengira jika antara keduanya memiliki hubungan papa dan anak.


"Apakah memang bisa terjadi di dunia ini, karena Bram ikut merawat Brian sejak anak itu masih berada dalam kandunganku, wajah Brian hampir sama persis dengan wajah Bram.. Oh Tuhan.. ataukah jangan jangan.." pikiran buruk malam one night stop kembali terbayang dalam memori otak Arine.


"Tapi tidak mungkin.., karena ketika aku terjerumus malam itu, Bram masih ikut misi kemanusiaan di Afrika. Jadi tidak akan mungkin, jika Bramantya adalah laki-laki itu. Tapi kenapa juga, ketika aku bersama dengan Bram, aku merasa aman, dan terlindungi, seperti seorang kakak yang dengan tulus melindungi adiknya." Arine masih terjebak dalam pikirannya sendiri.


Gadis itu kembali diam, dan teringat dengan ucapan Bramantya tadi malam. Dimana sambil bergurau, Bram mengatakan pada dirinya, apakah Arine mau menikah dengannya. Tiba tiba saja, pipi Arine bersemburat merah. rasa malu menjalar sampai ke pipi gadis itu.


"Oh my God.. kenapa aku jadi memikirkan kegilaan itu. Padahal, tadi malam Bram hanya bercanda, berusaha menggodaku. Tetapi kenapa aku malah yang menganggapnya menjadi serius.." Arine berusaha menepis dan melupakan kata kata yang diucapkan Bramantya.


Merasa hatinya sudah terjebak dalam kebingungan, karena stimulus yang diberikan Brian putranya, akhirnya Arine berusaha mencari kesibukan. Gadis itu kembali menghampiri laptop, dan menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sempat tertunda. Hanya dengan melampiaskan diri dengan kerja, kerja, dan kerja akan menghilangkan semua pikiran buruk darinya.


*********


Tokyo Bay Shiomi Prince Hotel


Mata nyonya Clara membesar ketika melihat putranya berjalan dengan bergandengan tangan dengan seorang anak kecil, Jantung perempuan itu berdegup kencang, dan tanpa sadar tangan nyonya Clara mencengkeram tangan suaminya, tuan William. Menyadari ada keanehan yang terjadi, laki-laki paruh baya itu menoleh dan memperhatikan istrinya.


"Ada apa denganmu mah... kamu seperti ketakutan melihat sesuatu.." tuan William mengajukan pertanyaan pada istrinya.

__ADS_1


"Itu pa... Elmar kecil pa.. Lihatlah anak yang sedang bergandeng tangan dengan Bram. Bukankah itu sama persis dengan Elamr ketika putra kedua kita masih seumuran itu.." dengan nada suara bergetar, jari telunjuk nyonya Clara terarah ke depan.


Tuan William mengikuti arah jari telunjuk istrinya. Dan ketika melihat putra tertuanya tersenyum lebar, laki-laki paruh baya itu malah menutup mulut dengan menggunakan tangannya. Laki laki itu juga merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, bahkan ketika Bram sudah berdiri di depan mereka, tuan William masih belum bisa menguasai dirinya. Tiba tiba..


"Plak..." sebuah tamparan bersarang di rahang sebelah kanan Bramantya, dan cukup membuat laki laki itu terkejut.


"Siapa anda ini, berani beraninya menyakiti papa besar.. Jika berani, kenapa kita tidak berkelahi saja, Brian yang akan melindungi papa besar.." mendengar ucapan dengan nada berteriak dari Brian, nyonya Clara malah merasa gemas.


Tanpa sadar air mata perempuan itu menggenang di pelupuk matanya. Nyonya Clara menurunkan tubuhnya kemudian berjongkok, dan tanpa peringatan segera memeluk erat anak kecil itu. Merasa tidak kenal dengan orang yang memeluknya, Brian berusaha melepaskan diri.


"Tidak mau..., pasti anda berdua akan menculikku.. Lepaskan.." Bramantya diam saja, laki laki itu hanya tersenyum dan seakan mengerti apa yang ada dalam pikiran mama dan papanya.


"Papa jangan salah paham pa... karena alasan yang sama dengan yang saat ini papa dan mama rasakan, Bram menganggap anak ini sebagai anak Bram sendiri, Bahkan hubungan kami sangat dekat, dan Brian memanggil Bram dengan panggilan papa besar.." agar kesalah pahaman tidak berlanjut, Bramantya menjelaskan duduk perkara dengan papanya


Tuan William terkejut sampai memundurkan kaki ke belakang, dan berpikir apakah di dunia ini  bisa ditemukan wajah sama persis dengan wajah orang yang lain, meskipun tidak ada hubungan darah. meskipun ada, kesamaan itu sepertinya hanya terjadi satu di antara penduduk di seluruh dunia.


"Brian... tenangkan dirimu nak... ini mama papa besar, dan ini papanya papa besar. Jadi Brian coba panggil, oma dan opa.." perlahan Bram mencoba memberikan pengertian pada Brian.


Anak kecil itu merasa bingung, kemudian menengadahkan wajah ke atas, menatap wajah Bramantya. Setelah itu bergantian, anak kecil itu menatap tuan William dan nyonya Clara.

__ADS_1


"Mommy Arine mengatakan pada Brian jika opa ada di Jakarta, dan mommy janji suatu saat akan mempertemukan Brian dengan opa. Apakah opa ini yang dijanjikan oleh mommy...?" dengan kecerdasan yang dimilikinya, anak kecil itu mengaitkan percakapan dengan mommy nya dan kenyataan yang ada di hadapannya.


"Opa Brian ada dua sayang, dan ini opa dari pihak papa besar. Sedangkan yang disampaikan mommy, itu opa dari mommy. Ayo.. beri salam pada opa dan oma sayang.." sambil tersenyum dan menganggukkan kepala, dengan tenang Bramantya memberi tahu Brian.


"Selamat siang opa... oma.., mohon dimaafkan karena Brian tidak mengenali oma dan opa.." dengan gemasnya, Brian menyapa pasangan oma dan opanya itu.


Nyonya Clara tidak menjawab, melainkan kembali memeluk Brian dengan erat. Tidak tahu mengapa, seperti ada keterkaitan erat antara dirinya dengan Brian. Tidak lama kemudian, tuan William juga melakukan hal yang sama. Beberapa saat kemudian..


"Sebaiknya kita duduk dulu pa.., ma.., tidak baik. Saat ini kita menjadi tontonan banyak orang.." melihat pandangan para pengunjung hotel, Bramantya merasa kurang nyaman,


"Kita ke atas dulu saja, asisten Elmar sudah menyediakan Pant House kita di roof top. Sambil menunggu kedatangan Elmar, aku akan bermain dengan cucuku.." Bramantya tersenyum, ketika melihat papanya menyebut Brian dengan panggilan cucu. Laki-laki paruh baya itu segera mengangkat tubuh Brian, dan untungnya anak kecil itu tidak menolak perlakuan dari opanya.,


Mungkin karena keinginan untuk segera mendapatkan generasi penerus ketiga dalam keluarga William, papanya sampai bersikap seperti itu. Dan Bramantya juga merasa tidak ada masalah, meskipun belum diketahui sebenarnya siapa papa Brian..


"Kita gunakan lift yang di sebelah kanan, karena kita tidak akan bercampur dengan pengunjung hotel yang lain. Lift itu hanya untuk akses menuju ke Pant House.." tuan William yang menggendong Brian menunjukkan arah menuju ke atas. Nyonya Clara dan Bramantya mengikuti di belakang mereka.


Ketiga orang itu, dengan satu anak kecil di antara mereka, segera berjalan menuju ke arah pintu lift dimaksud. Tampak petugas hotel dengan sigap menekan tombol arah naik, dan keluarga itu segera masuk ke dalamnya.


***********

__ADS_1


__ADS_2