One Night Incident

One Night Incident
Bab. 31 Siapa Papa Brian


__ADS_3

Saat Elmar baru berusaha mengendalikan dirinya, tiba tiba Bramantya menelpon anak muda itu. Dengan perasaan malas, anak muda itu kemudian menerima panggilan dari kakak kandungnya..


"Ada apa Bram.., apakah kamu mencari Brian. Jangan khawatir, putramu aman bersamaku. Saat ini Brian sedang memainkan game di kamarku.." seperti seorang paman yang baik, Elmar menjawab panggilan dari Bramantya,


"Syukurlah Elmar... aku baru mau katakan, Aku titip Brian dulu ya..., ternyata mama ada urusan penting, tetapi tidak mau aku temani. Mama sedang berbincang dengan kepala laboratorium, dan memintaku untuk menunggu di luar. Jadi.. aku belum bisa menemui Brian.." ternyata Bramantya memberi adik kandungnya itu pekerjaan.


Elmar terdiam, kemudian melihat ke arah Brian. Melihat wajah Brian yang menggemaskan, muncul rasa tidak nyaman dalam hati laki laki itu. Wajah anak itu mengingatkan Elmar dengan perempuan yang pernah menghabiskan satu malam dengannya.


"Gimana Elmar... please, tolong kakakmu ini. Jika kamu ada kesibukan di luar, tinggal dulu saja.. Lagian kamu membawa asisten Abidzar bersamamu kan.. Mama tidak mau aku tinggalkan sendiri.." tampak Bramantya membuat pengharapan yang besar pada adik kandungnya.


"Hemppphh... ya sudahlah Bram.. Aku akan menemani Brian bermain, padahal aku ada janji dengan Miss Abony, untuk bicara masalah pekerjaan di perusahaaan..." dengan agak malas, akhirnya Elmar bersedia untuk menjaga Brian.


Asisten menatap wajah lesu Elmar, kemudian laki laki itu mendekati tuan mudanya. Abidzar sudah mengatur janji dengan Miss Abony, untuk menemuinya dalam waktu kurang dari satu jam dari sekarang. Memperhitungkan waktu tempuh untuk menuju ke restaurant, mau tidak mau Abidzar harus mengingatkan.


"Tuan muda... satu jam lagi, kita janjian untuk bertemu dengan Miss Abony.. Apakah tuan Elmar.. betul betul tidak akan menemuinya.." sebelum asisten Abidzar berangkat menuju restaurant, laki laki itu memberi tahu pada tuan Elmar.


"Aku akan ikut denganmu ke restaurant Bidzar.. Tapi kamu sendiri yang akan bertemu dengan Miss Abony, aku akan membawa Brian untuk pergi ke tempat itu.." terlanjur berjanji dengan Bramantya untuk menjaga Brian, akhirnya Elmar mengajak anak itu.


"Baik tuan muda.., ada baiknya tuan dan Brian segera bersiap. Saya akan menunggu di lobby hotel.." Abidzar kemudian berjalan meninggalkan laki laki itu.


Elmar mengambil nafas panjang, kemudian melihat kembali ke arah Brian., Ada rasa nyeri dalam hati laki laki itu jika mengingat siapa anak itu, mommy nya, dan kakaknya Bramantya.


"Brian... Uncle ada urusan di restaurant. Apakah Brian akan mengikuti Uncle, ataukah mau tinggal di hotel. Tapi papa besar sedang keluar dengan oma.." tidak mengabaikan anak kecil itu, Elmar bertanya pada anak kecil itu.

__ADS_1


"Keluar dari hotel Uncle... Asyik Brian bisa jalan jalan, melihat lihat kota Tokyo.." melihat kepolosan bocah kecil itu, Elmar tersenyum. Ada kesejukan dalam hati laki laki itu, jika melihat senyuman polos Brian.


"Jika begitu, segera kenakan sepatumu.. Jangan lupa, bawa pakaian hangat ya.. Uncle akan menunggumu.." Elmar kemudian berdiri, mengambil coat dan mengenakannya. Melihat Brian yang segera turun dari atas ranjang, kemudian mengenakan sepatu, Elmar melihatnya dengan serius.


"Mmmppphh... kebiasaan kecil Brian, kenapa bisa sama persis dengan kebiasaanku ya.." ELmar berbicara pada dirinya sendiri.


"Brian sudah siap Uncle... ayo kita berangkat..." tidak lama kemudian, Brian berteriak.


Ternyata anak kecil itu sudah siap, dan berjalan menghampiri Elmar.


"Baiklah jagoan.. kita berangkat sekarang.." Elmar kemudian menggandeng tangan anak kecil itu dengan tangan kanannya. Sedangkan di tangan kiri laki laki itu menenteng tas laptop. Keduanya segera bergegas keluar menuju ke arah pintu lift.


***********


Elmar menepati janjinya dengan Bramantya, meskipun mendengar perkataan Brian jika mommy nya merupakan istri dari laki laki itu. Darah lebih kental dari pada air, sehingga apapun yang terjadi dalam kehidupan kakaknya, Elmar berusaha untuk menerimanya.


"Jika memang gadis itu benar benar istri Bram, bukan salah kakakku, tapi nasiblah yang mempermainkan kita." dengan wajah putus asa, Elmar berbicara dalam hati.


"Uncle... kita langsung ke restaurant yah.. Apakah tidak pamit dulu dengan papa besar dan juga oma..?" dengan polos, Brian bertanya pada Elmar ketika mereka sudah keluar dari dalam lift.


"Papa besar dan oma sedang ada urusan Brian.., mereka sudah keluar hotel sejak pagi. Papa besar menitipkanmu pada Uncle, dan nanti Uncle akan mengantarkanmu pada Mommy.. Uncle akan membawamu ke hotel tempat mommy menginap.." ada harapan untuk bertemu dengan gadis yang pernah tidur dengannya, ELmar berniat akan mengantar Brian sendiri.


"Terima kasih Uncle.."

__ADS_1


Dua orang itu segera menuju ke pintu keluar. Dan terlihat Abidzar sudah menunggu keduanya di luar mobil yang diparkir di depan pintu lobby. Elmar dan Brian berjalan bergandeng tangan...


"Brian... kenapa Brian ada di Tokyo..., dimana mommy mu nak.." tiba-tiba ada suara laki laki berteriak memanggil Brian.


Elmar dan Brian menoleh ke arah sumber suara, dan terlihat laki laki tinggi berjalan menghampiri mereka,


"Papa kecil..." Brian melepaskan tangan dari Elmar, dan berlari memeluk Raffi.


Kedua orang itu saling berpelukan, dan Elmar memandang mereka sambil mengerutkan kening. Asisten Abidzar juga ikut melihat komunikasi.


"Sejak kapan Brian di hotel ini.." seperti seorang papa bertanya pada putranya, Raffi dan Brian secara intens berinteraksi.


"Papa besar yang membawa Brian kemari papa kecil... sejak kemarin pagi. Nanti malam Brian akan menyusul ke hotel tempat mommy menginap..." karena hubungan Raffi dan Brian juga akrab, tanpa rasa segan, Brian bercerita,


Elmar hanya terpaku melihat komunikasi keduanya, dan seperti ada tanda tanya besar di benak laki laki itu. Namun tidak ada yang dilakukan olehnya, selain hanya berdiri mematung menunggu Brian berkomunikasi dengan laki laki asing.


"Berarti mommy Arine juga ada di Tokyo, kasih tahu ya di hotel mana mommy Arine menginap. Nanti malam, jika papa kecil sempat, papa kecil juga akan bertemu dengan mommy.." mendengar ucapan laki laki itu, pikiran Elmar jadi berkembang kemana mana.


"Bram papa besar, dan laki laki ini papa kecil. Lalu... sebenarnya bagaimana hubungan dua orang ini dengan Brian dan mommy nya, yang tadi disebut sebut memiliki nama Arine.." muncul beberapa pertanyaan dalam benak Elmar.


"Aku akan menyelidikinya sendiri secara diam diam. Bisa saja masih ada harapan, Brian sebenarnya bukan putra Bram, ataupun bukan putra laki laki ini. Lalu putra siapa... " Elmar terdiam sebentar. Tapi... tiba tiba..


"Jangan jangan Brian terlahir karena hubungan malam itu, antara aku dengan mommy anak ini. Berarti bisa jadi.. Brian adalah putraku.." pikiran cerdas Brian tidakĀ  mau berhenti. Laki laki itu mengaitkan segala kemungkinan, yang pada intinya tidak ada kerelaan melepaskan mommy Brian, baik untuk Raffi maupun untuk Bramantya.

__ADS_1


*********


__ADS_2