One Night Incident

One Night Incident
Bab 40. Perubahan Sikap


__ADS_3

Jakarta...


Tuan Abraham merasa jengkel dengan sikap istrinya. Meskipun perempuan itu tahu jika dirinya masih hidup, tetapi Santa terus mengejar agar suaminya segera membagi harta warisan. Apalagi Claudia, gaya hidup gadis itu selalu bertindak boros, dan terus menggerogoti keuangan keluarga.


"Santa... apakah matamu itu buta.. Bukankah aku masih terlihat bugar dan sehat, bagaimana kamu bisa berpikir tentang warisan.." karena merasa sudah sangat jengkel dengan omongan istrinya, tuan Abraham akhirnya berteriak.


"Papa saja yang sudah salah sangka, bukan harta warisan yang mama tuntut pa... Tetapi pembagian kekayaan yang jelas, berapa untuk mama, untuk Claudia,.. dan juga untuk papa sendiri.." nyonya Santa berusaha mempertegas apa yang diinginkannya,


"Bull **** semuanya... Ingat Santa.., aku masih ada seorang putri, dan aku tidak akan menipu putri kandungku sendiri. Hanya karena ocehanmu dan Claudia, tanpa sadar akhirnya aku mencelakakan putriku sendiri... Aku tidak mau mengulang kesalahan yang sama, aku akan menunggu kepulangan Arine kembali di Jakarta.." tuan Abraham tetap bersikeras, tidak akan mau membagi kekayaan nya di saat sekarang.


"Papa memang selalu pilih kasih... tidak pernah menganggap keberadaan Claudia di rumah ini.. Tidak sama, ketika papa berusaha mendekatiku, dan berusaha untuk menikah denganku,. Tetapi ternyata semua hanyalah kata kata saja, tidak ada bukti kebenarannya.." nyonya Santa seperti dilanda kemarahan.


Merasa jengkel dengan respon dan perkataan istrinya, tuan Abraham berjalan ke arah kamar, untuk meninggalkan perempuan itu. Tapi tiba tiba...


"Prang..." sebuah vas bunga yang terbuat dari kristal pecah terhambur ke lantai.


Rupanya karena kesal dengan kata kata keras suaminya, nyonya Santa membanting vas bunga itu. Dari arah dapur, Bi Minah dan dua ART lainnya berlari untuk melihatnya. Namun melihat tatap kemarahan dari perempuan itu, ketiga ART itu menghentikan langkah kaki mereka, dan hanya melihat dari tempat mereka berdiri.


"Hancurkan saja semuanya Santa..., aku tidak akan pernah mengucurkan dana lagi kepadamu..." bukannya merasa lunak dengan sikap Santa, tetapi tuan Abraham malah berbicara dengan nada sarkasme.


Laki laki itu terus melangkahkan kaki untuk masuk menuju ke arah kamar. Tinggallah nyonya Santa sendiri dengan kemarahannya. Tiba tiba muncullah Claudia dari dalam kamar, kemudian berlari mendatangi mamanya...


"Mama... apa yang terjadi...? Kenapa vas bunga kesayangan mama, hancur berserakan seperti ini..?" tidak tahu apa yang terjadi, Claudia berteriak panik. Gadis itu menundukkan wajahnya ke bawah, melihat pecahan cristal itu dengan hati hati...

__ADS_1


"Biarkan Claudi... jangankan vas bunga hancur. Hati mama hancur saja, papamu sudah tidak peduli lagi..." mendengar jawaban emosi dari mamanya, Claudia berusaha untuk memahami situasi yang terjadi.


"Ikut Claudi ke kamar dulu ma... jika mama sedang marah dengan papa, sekarang mama ikut ke kamar Claudi saja, agar mama bisa lebih tenang.." gadis itu mencoba untuk menenangkan hati mamanya.


Akhirnya tanpa bicara, nyonya Santa mengikuti ajakan putrinya. Claudia memegangi tubuh mamanya, kemudian mengajak perempuan itu untuk masuk ke dalam kamarnya. Tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka berdua. dan Claudia hanya diam untuk berpikir bagaimana akan mendamaikan papa dan mamanya.


"Tenangkan dulu hati mama... tidak perlulah untuk menangisi keadaan. Saatnya kita harus berpikir mam... karena Claudi tahu apa yang mama inginkan dari papa. Besi itu jangan dilawan dengan besi ma... semua malah akan memantul berdentang kencang..." dengan suara lembut, Claudia mencoba menasehati mamanya.


Hanya isak tangis yang terdengar dari Nyonya Santa, dan Claudia terus berusaha untuk menghentikan tangisan mamanya...


************


Keesokan paginya....


"Ada apa Bi Minah... apa yang kamu bawa untukku..." untung tuan Abraham melihat apa yang ada di tangan Bi Minah..


"Teh manis panas dengan gula batu tuan..., dan di lunch box ini ada beberapa pancake yang Bibi buatkan. Maafkan kelancangan saya tuan Abraham, tapi saya melakukannya karena keinginan dari Non Arine. Meskipun Arine tidak bersama dengan kita di Jakarta, tapi putri tuan Abraham betul betul berbakti Tuan,." Tuan Abraham tercekat mendengar apa yang disampaikan oleh perempuan paruh baya itu.


Laki laki itu terdiam, dan kembali teringat dengan wajah putrinya yang terlihat seperti tersenyum melihatnya. Tapi secepatnya laki laki paruh baya itu kembali tersadar..


"Baik Bi... akan saya bawa makanan dan minuman yang sudah Bi Minah siapkan. Jika Arine menghubungimu lagi... sampaikan padanya, jika papanya selalu menginginkannya Arine kembali ke Jakarta.." sebelum masuk mobil, tuan Abraham berpesan pada ART di rumahnya itu,


"Baik tuan... akan Bibi sampaikan.."

__ADS_1


Bi Minah tersenyum ketika melihat sendiri, jika majikannya sudah mulai membuka diri untuk putrinya. Beberapa waktu selalu dicekoki istri dan putri tirinya, terkadang Tuan Abraham memang seperti bersikap acuh pada nona Arine. Namun seiring jalannya waktu, mungkin laki laki itu juga berpikir dengan serius, sehingga sudah mulai kembali memikirkan putrinya...


Tidak berapa lama, sopir keluarga sudah menjalankan mobil keluar dari halaman rumah.


*************


Claudia membangunkan mamanya, dan memberi tahu jika papa tirinya sudah berangkat ke perusahaan. Tampak Nyonya Santa terlihat kesal, karena sedikitpun sejak tadi malam, tuan Abraham sudah mengabaikannya.


"Mama juga... kayak anak kecil pura pura marah.. Begitu papa Abraham pergi, barulah mama mencari laki laki itu.." melihat reaksi mamanya, Claudia juga terlihat sebal.


"Kamu tuh makanya cari pacar, atau segera menikah. Mama ingin menguji apakah benar Abraham itu benar benar mencintai mama.. Ternyata malah meragukan, bukannya berusaha membujuk mamah agar marahnya hilang, tetapi malah pergi ke perusahaan tanpa berpamitan pada mama." nyonya Santa melampiaskan kekesalannya.


"Trus.. jadinya gimana dong ma... Mama dong, harusnya gentle minta maaf sama papa, jadinya Claudi ikut terkena getahnya kan. Papa pergi duluan , tanpa sedikitpun meninggalkan uang pada Claudi.." bukannya prihatin dengan keadaan mamanya, Claudia malah menyalahkan sikap mamanya.


"Kamu kenapa malah ikut marah pada papa... Mama harus gimana dong Claud... agar amarah papamu cepetan reda. Siang ini, mama juga ada acara kumpul kumpul dengan circle mama.." Khawatir tidak ada uang untuk konkow dengan gerombolannya, perempuan paruh baya itu baru tersadarkan.


"Halah mam... bawain masakan saja untuk papa makan siang... Atau ajak keluar, ajak makan siang bareng. Tapi jangan lupa ya mam... nanti contact Claudi, agar bisa nyusul. Karena kali ini, Claudi juga butuh papa banget mam... butuh uang maksudnya.." dengan celelekan, Claudia tanpa malu mengatakan kemauannya.


Nyonya Santa terdiam... mencoba berpikir apa yang disarankan oleh putrinya..


"Ayolah mam... mengalah sedikit kenapa sih.. Mancing kakap, dengan menggunakan ikan asin lah.. " Claudia terus memberikan provokasi.


"Hempphh... baiklah.." akhirnya perempuan paruh baya itu menyetujui usulan yang disampaikan Claudia.

__ADS_1


***********


__ADS_2