One Night Incident

One Night Incident
Bab 15. Aku akan Menjagamu


__ADS_3

Di dalam rumah...


Setelah mengetahui kehamilannya, Arine dengan cepat berusaha bangkit dari rasa putus asanya. Gadis itu bertekad ingin merawat kehamilannya, meskipun tidak ada suami di sampingnya. Berpikir tentang keadaan di depan yang akan dihadapinya, sedini mungkin Arine mempersiapkan semua sejak awal. Tidak ada kata putus asa dalam hidupnya.


"Aku tidak boleh terpuruk dengan keadaan ini. Mumpung aku masih kuat, aku harus mempersiapkan semuanya, sehingga ketika usia kehamilanku semakin bertambah, aku tidak akan kebingungan." sambil merapikan pakaian, dan memberi space kosong untuk perlengkapan buah hatinya nanti, Arine berbicara sendiri.


Tidak tahu mengapa, gadis itu merasa lebih bersemangat. Dan Bramantya sudah hampir satu bulan belum datang ke rumahnya. Laki-laki itu hanya memberi tahu, jika sedang melakukan perjalanan keluar kota. Karena merasa jika hubungan mereka hanya berteman saja, Arine juga tidak mengambil pusing atas kepergian laki-laki itu.


"Mmmmpphh... sepertinya sudah rapi, dan ada space untuk perlengkapan bayiku. Aku tinggal mengisinya nanti, jika di hari Minggu aku akan pergi ke pasar Nijoe untuk mendapatkan beberapa perlengkapan bayi.." kembali Arine berbicara sendiri.


Gadis itu tiba-tiba merasa jika tubuhnya lengket, dan Arine ingat jika dirinya belum mandi sejak pagi.


"Bau juga ya keringatku.. Mandi dulu saja, masak seorang mommy tubuhnya bau keringat.." menyadari dirinya hamil harus selalu menjaga kebersihan. Arine akhirnya memutuskan untuk pergi mandi.


Gadis itu segera menyiapkan pakaian ganti, dan kemudian dengan membawa handuk segera pergi ke kamar mandi. Ketika Arine melepas pakaian atasannya, gadis itu tersenyum sendiri melihat perutnya yang sudah mulai membuncit. Perlahan Arine mengusap perutnya perlahan..


"Bayiku... tetap kuat bersama mommy ya... Kita akan bersama terus..." seperti melakukan afirmasi, tidak bosan bosan Arine selalu mengajak bayinya berbicara.


Perlahan gadis itu mulai mengguyur tubuhnya dengan air hangat, dan perlahan shower cream yang aman untuk kehamilannya sudah menutup sekujur tubuhnya. Gadis itu terlihat sangat menikmati ritual mandinya, karena ada kesegaran dan kesejukan dari tetes air yang membasahi tubuhnya.


**********


Arine menatap layar laptop di depannya, Setelah membuat grafik histogram, dan juga hasil analisa data kuantitatif tentang data mentah Javanica group, perlahan gadis itu mengistirahatkan matanya. Tidak tahu apa sebabnya, setiap membuka data perusahaan itu, dan menganalisisnya, bayi di dalam perutnya selalu memberikan respon. Akhirnya Arine hanya bisa mengistirahatkan sejenak pikiran, dan beberapa saat kemudian akan melanjutkan lagi.

__ADS_1


"Tet.. tet... tet.." tiba-tiba bel pintu rumah berdering.


"Paling Bram... pasti anak itu sudah datang dari luar kota.." merasa tidak punya teman dekat di Sapporo, Arine berpikir jika Bramantya yang datang.


Gadis itu tidak mau beranjak dari tempat duduknya, karena merasa malas. Sambil menoleh ke belakang...


"Masuklah Bram.. pintu tidak dikunci kok.." teriakan Arine, mempersilakan orang yang menekan bel pintu untuk masuk ke dalam.


Perlahan pintu digeser dari luar, dan tidak lama kemudian muncullah Bramantya dengan banyak paper bag di tangannya. Laki-laki itu dengan senyum ceria menghampiri gadis itu...


"Kamu ini Arine... tetap saja belum hilang sembrononya. Jika tadi bukan aku yang datang bagaimana.., dengan keadaanmu apakah kamu bisa membela diri.." sambil membantu Arine berdiri, Bramantya memberikan ceramah.


"Ha.. ha.. ha..., kamulah yang paranoid Bram... Aku tidak ada teman dekat di Sapporo, hanya dirimulah yang sering datang ke rumah ini. Bahkan keluargaku di Jakarta, juga tidak ada akses, bahkan juga tidak tahu alamatku disini. Kamu terlalu banyak berpikir..." bukannya marah, tapi gadis itu malah tertawa terbahak.


"Aku bawakan sup ginseng untukmu, juga ada sup walet., Kamu tinggal memanaskan di microwave. dan langsung mengkonsumsinya.." tanpa diminta laki-laki itu segera menjelaskan oleh-olehnya.


Mendengar apa yang dibawakan oleh laki-laki itu, muncul tanda tanya di benak Arine. Semua makanan itu, untuk penguat stamina, dan juga penguat kandungannya. Ada tanda tanya besar di hati Arine..


"Beberapa suplemen juga aku bawakan langsung dari Tiongkok. Kebetulan aku sedang ada project di laboratorium besar negara tersebut. Karena mendadak, aku tidak sempat memberi tahumu Arine.." Bramantya tampak memberikan alasan ketidak munculannya di rumah Arine.


Tangan Arine mengambil box box yang dibawakan laki-laki itu, Tetapi keheranannya, semua yang dibawa itu untuk kebaikan tumbuh kembang janin di perutnya. Dengan gugup, Arine menjatuhkan box box itu, dan Bramantya dengan cepat mengambil dan merapikan kembali.


"Arine... jangan panik, akan berbahaya untuk kesehatan janinmu. " kata-kata yang diucapkan Bramantya kembali mengejutkan gadis itu.

__ADS_1


Gadis itu sontak menundukkan wajah ke bawah, merasa malu dengan laki-laki baik di depannya. Meskipun berkali kali Arine mencoba meyakinkan hatinya, namun sikap baik Bramantya membuat gadis itu gugup. Tiba-tiba laki-laki itu memegang telapak tangan, dan menengadahkan dagunya ke atas..


"Aku sudah mengetahuinya Arine.., bukankah kamu tahu jika aku bekerja di laboratorium di kota ini. Tapi jangan khawatir.., aku akan tetap menjaga dan melindungimu Arine. Kamu adalah adik mungilku, dan kakakmu ini akan memastikan untuk selalu menjaga dirimu." kata-kata lembut yang diucapkan Bramantya melembutkan hati Arine.


Gadis itu merasa dikasihi dan disayangi dengan tulus, hal yang sudah lama terasa hilang dari dalam dirinya. Di tatapan mata Bramantya yang bening, Arine tidak melihat ada sesuatu yang disembunyikan oleh laki-laki itu. Semuanya mengalir murni dari hati laki-laki itu.


"Terima kasih Bram... kamu telah memahami dan tidak melakukan justifikasi padaku.." dengan terisak, Arine mengatakan perasaannya.


"Hempphh... tidaklah. Kita dari negara yang sama, dan datang ke negara yang betul betul asing untuk kita. Untuk itu, kita harus kuat Arine.. aku akan menjagamu, dan akan memperlakukan putra atau putrimu seperti keponakanku sendiri." Bramantya berucap lirih untuk menenangkan hati Arine.


Tidak ada yang bisa dilakukan oleh gadis itu, selain hanya menangis haru, mensyukuri hal baik yang selalu menemaninya. Tiba-tiba, Bramantya kembali menengadahkan wajah gadis itu...


"Arine.. tidakkah kamu menjamu tamumu ini, yah... sekedar hanya green tea panas saja.." tiba-tiba laki-laki itu mengalihkan fokus perhatian.


"Oooppss maaf Bram... aku akan membuatkannya untukmu.." dengan sigap Arine segera menegakkan kembali punggungnya. Gadis itu segera berdiri, tapi...


"Nitip sekalian hangatkan sup walet ini Rine... aku ingin ikut menikmatinya. Kamu lihat bukan, tubuhku kurus, kekurangan nutrisi. Jadi.. aku juga ingin menambah nutrisi dan menikmati sup walet bersamamu." Bramantya mengulurkan box berisi sup walet pada Arine.


"Baik Bram... tunggulah sebentar."


Arine segera bergegas menuju ke arah dapur. Satu tangannya merebus air di atas kompor, kemudian membuka box sup walet. Tidak lama, sup walet itu sudah dipanaskan Arine di micro wave. Rasa hangat dan kebahagiaan kembali mengalir di hati gadis itu.


***********

__ADS_1


__ADS_2