
Bramantya tampak berdiri di balkon kamar di lantai dua, dan dari bibirnya menghembus asap rokok. Laki-laki itu sudah selesai menemani Brian sampai tertidur, kemudian meninggalkannya di kamar sendirian. Bocah kecil itu tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya, karena mendapatkan kamar yang besar dengan furniture yang memang dirancang untuk anak seusianya. Ranjang tempat tidur Brian, dirancang menyerupai sebuah mobil, dan juga banyak mainan yang jarang dimilikinya sejak kecil, tersedia di dalam kamar tersebut.
"Bram... kamu harus ikhlas melepaskan Arine... Saat ini, Arine sudah akan menjadi adik iparmu, jadi kamu tidak bisa mengganggu kebahagiaan mereka, Ingat jika Brian sudah lama merindukan seorang papa, dan sekarang sudah bertemu dengan papa kandungnya.." Bramantya berbicara pada dirinya sendiri.
Laki-laki itu tersenyum kecut, dan terasa sulit untuk menghilangkan wajah Arine dari pikirannya. Tinggal lama, dan mendampingi kelahiran Brian di dunia ini, Bramantya sudah terbiasa melakukan aktivitas apapun dengan Arine. Bahkan selama dekat dengan Arine, Bramantya tidak pernah memberikan kesempatan untuk gadis lain mendekat kepadanya. Dan kini, laki-laki itu harus dihadapkan pada kenyataan, dimana Arine akan menjadi keluarga terdekatnya, dengan Elmar adik kandungnya.
"Putraku... apa yang sedang kamu pikirkan Bram...?" tiba-tiba sebuah telapak tangan tampak menepuk sisi bahunya, dan Bramantya tampak terkejut.
Perlahan laki-laki itu menoleh, dan melihat keberadaan mamanya sudah berdiri di belakangnya. Tampak terlihat dalam wajah perempuan paruh baya itu, ada kekhawatiran ketika menatap ke arahnya,
"Mama... sejak kapan mama disini..? Kenapa mama tidak memanggil Bram untuk masuk ke dalam saja.." Bramantya menyapa balik mamanya.
"Kita duduk dulu di sofa Bram..., mama tidak betah jika harus bicara lama sambil berdiri.." mengisyaratkan jika perempuan itu akan mengajaknya untuk bicara lama, nyonya Clara menunjuk ke sofa yang ada di balkon itu.
"Baik ma..." Bramantya tidak membantah, laki-laki itu kemudian merangkul pundak mamanya, kemudian mereka akhirnya duduk di sofa tersebut.
beberapa saat mereka duduk, belum ada pembicaraan di antara mereka, Namun nyonya Clara tampak terus menatap ke wajah putranya, dan hal itu membuat Bramantya merasa kurang nyaman.
"Kenapa mama melihat Bram seperti ini ma..?? Apakah ada yang salah..?" tidak mau lama memendam penasaran atas perilaku mamanya, Bramantya akhirnya bertanya pada perempuan itu.
Bukannya memberikan penjelasan, tetapi nyonya William malah merengkuh bahu putra pertamanya, kemudian memeluk erat putranya. Bramantya bingung, tetapi membiarkan mamanya seperti itu, dan menunggu sampai mamanya bisa kembali mengendalikan dirinya. Tidak lama kemudian, akhirnya pelukan dari perempuan paruh baya itu sudah mulai mengendor, dan Bramantya menatap ke mata mamanya yang masih berlinang air mata.
__ADS_1
"Apa yang mama rasakan, sampai mama menangis seperti ini.." Bramantya pura-pura tidak tahu tentang apa yang terjadi dengan mamanya,
"Putraku... sejak kecil putra pertama mama, memang seorang anak yang kuat, dan beberapa sifat Brian menurun darimu nak... Tapi kenyataan dan keadaan memang tidak sejalan dengan keinginan kita, dan mama tahu, kamu pasti kecewa dengan keadaan." akhirnya keluar juga kata-kata dari mulut mamanya.
Seorang ibu memang dimanapun tidak akan bisa dibohongi. Perempuan sudah melahirkan, memberinya ASI, dan membersamai putranya meskipun kemudian terpisah. Sehingga sepedih apapun yang dirasakan seorang anak, akan ada signal yang datang pada seorang ibu.
"Mama... tidak perlu mama mengkhawatirkan hal itu. Sejak dari Jepang, Bram sudah menguatkan diri ma... Arine dan Brian sudah lama menanggung penderitaan sendiri, dan mereka memiliki hak untuk bahagia.. Sudahlah ma... Bram yakin, Bram juga akan menemukan perempuan pengganti.." tidak sampai hati melihat kesedihan mamanya, Bramantya mencoba menghibur mamanya.
"Kamu laki-laki hebat Bram... memiliki ketulusan, kesediaan berkorban, tanpa melihat pada keadaanmu sendiri..." nyonya Clara tidak sampai hati, perempuan itu meletakkan kedua tangannya di bahu Bramantya,
"Semua ini karena didikan papa dan mama..., Elmar kuat, bukan laki-laki lemah. Bukan saatnya kali ini kita harus bersedih mama... secepatnya Bram akan kembali ke Sapporo, setelah urusan Elmar dan Arine beres..." kembali Bramantya berusaha meyakinkan mamanya,
"Kita masuk ke dalam sekarang ma..., malam sudah semakin larut. tidak baik angin malam untuk kesehatan mama.." dengan perkataan perlahan Bramantya mengajak mamanya untuk masuk ke dalam kamar.
Nyonya Clara mengangguk, dan perlahan keduanya segera masuk kembali ke dalam rumah.
************
Di kamar hotel...
Pagi sudah menjelang, tetapi Arine masih tertidur pulas. Di sebelah gadis itu, Elmar yang sudah terjaga terus memandangi wajah istrinya sambil tersenyum. Laki-laki itu sama sekali tidak mengira, akan dipertemukan kembali dan sampai bisa menikah dengan gadis yang sudah lama dicarinya. Pengalaman pertama dengan Arine, meskipun itu sebuah kesalahan, tidak pernah dilupakan oleh laki-laki itu. Dan sejak semalam, mereka telah kembali mengulangi masa masa manis itu.
__ADS_1
"Arine... aku tidak akan pernah membiarkanmu lepas dariku honey... Kamu adalah pelengkap hidupku, dan penerang jalan di depanku..." perlahan jari tangan Elmar mengusap lembut wajah istrinya.
Jari jari itu diusapkan di kedua alis Arine, kemudian turun ke hidung dan membingkai bibir mungil gadis itu. Tampak terlihat penghargaan laki-laki itu melihat istrinya, dan seakah terucap janji bahwa Elmar tidak akan pernah sedikitpun melepaskannya. Tiba-tiba tanpa Elmar sadari, mata Arine perlahan membuka, dan ketika beradu pandang dengan mata suaminya, gadis itu sesaat masih bingung, Tangan Arine tiba-tiba membuat gerakan akan mendorong dada laki-laki itu, tetapi dengan sigap Elmar memegang dan memberi ciuman pada genggaman tangan laki-laki itu.
"Kenapa kak Elmar bisa berada dalam satu ranjang dengan Arine...? Apa yang kakak lakukan padaku..." merasa tidak bisa melepaskan genggaman tangannya, Arine berusaha memundurkan tubuhnya ke belakang.
Gadis itu baru tersadar, ketika di dalam selimut, dirinya ternyata tidak mengenakan selembar benangpun. Sontak gadis itu menjerit...
"Aaawww... apa yang telah terjadi kak..."
Elmar tersenyum kemudian memeluk tubuh istrinya dengan erat, dan menyandarkan wajah Arine di dadanya..
"Tenanglah honey... apakah kamu melupakannya. Kita sudah menikah tadi malam, dan saat ini kita masih berada di hotel. Kita saat ini, dari tadi malam sedang honey moon sayang..." mendengar kata-kata yang diucapkan Elmar, Arine menjadi kaget.
Semburat merah kembali terlihat di pipinya, dan gadis itu mendadak menjadi malu, karena teringat kembali dengan apa yang telah mereka lakukan semalam.
"Mmmpphh .. maaf kak, Arine melupakannya.." belum sampai gadis itu selesai dengan kata-katanya, dengan secepat kilat Elmar menyambar bibir gadis itu.
Arine sudah tidak bisa lagi berpikir dengan jernih, karena dengan penuh kepemilikan, Elmar sudah menguasai dan menjajah setiap centimeter dari wajah serta tubuhnya.
************
__ADS_1