
Jakarta...
Tuan muda Raymond sedang duduk berbincang dengan kedua orang tuanya di ruang tengah, mansion mewah miliknya. Tapi sejak tadi laki-laki itu merasa gelisah, seperti ada suara rintihan terdengar di telinganya. Namun ketika laki-laki muda itu mengedarkan pandangan ke sekitar, dan melihat ke layar televisi yang menyala, laki-laki hanya menghela nafas.
"Mungkin aku paranoid, suara layar televisi aku pikir suara orang.." laki-laki itu berpikir sendiri.
"Ray... bagaimana jika liburan tahun baru kamu menemani papa... kita pergi ke Jepang. Aku akan mencari kakakmu dan menariknya untuk kembali ke Indonesia, atau mengikutiku ke Canada, Laki-laki itu sudah seperti bayangan, datang dan pergi tanpa ada konfirmasi." tiba-tiba tuan William mengajak Raymond berbicara.
"Atur saja pa.. Raymond sedang tidak ada mood. Sejak tadi, tidak tahu kenapa jantung Raymond berdegup kencang ya pa.., seperti ada sesuatu yang mengejutkan.." tapi Raymond hanya menanggapi sambil lalu.
"Apa Ray.., jantungmu bermasalah. Kita lakukan tes treadmill jantung secepatnya, sebelum semua menjalar ke organ tubuh lainnya." tidak mendengar jelas kata-kata anaknya, Nyonya Clara mendadak panik. Perempuan itu segera menawarkan tindakan awal..
"Hempphh... mama., mama.., lebih tadi Raymond diam saja. Ini tidak ada apa-apa mam.., mungkin hanya mood swing saja. Mendadak Raymond merasa gelisah dan panik, padahal tidak tahu dan tidak ada penyebabnya. Masalah kantor juga flat, pemegang saham aman, tapi kenapa tubuh Raymond bereaksi cepat." anak muda itu menjelaskan pada mamanya.
"Iya nih mama... dengarkan dulu anaknya bicara, baru menyahut." tuan William ikut berkomentar atas kegugupan istrinya.
"He.. he.. he.. iya." ketiga anggota keluarga itu akhirnya kembali terdiam dengan aktivitasnya masing-masing.
Raymond masih mengusap usap dadanya, karena deg degan di jantung belum juga reda. Tiba-tiba...
"Prang..." pajangan kristal, koleksi yang dibawa Nyonya Clara dari Perancis tiba-tiba terjatuh ke bawah, dan langsung ambyar.
Semua saling berpandangan, dan Raymond serta tuan William segera berdiri dan melihat lebih dekat pecahan kristal tersebut.
"Atau mungkin penempatan vas itu miring, jadi karena menahan beban jadi terjatuh ke bawah.." untuk tidak mengaitkan dengan kesialan, Raymond memecah keheningan.
Tampak ART berlari dari arah dapur, kemudian membersihkan pecahan kristal tersebut.
__ADS_1
"Tapi pa... kenapa tiba-tiba jantung mama yang ganti berdegup. Coba papa hubungi Bram, kenapa tiba-tiba mama teringat anak itu.." Nyonya Clara tidak bisa menahan perasaan khawatirnya.
'Sudahlah ma.. tidak usah berpikir macam-macam. Bisa jadi, tadi ada cicak yang menyenggol atau mendorong, dan posisi vas kristal agak ke pinggir. Lain waktu kita bisa mendapatkannya lagi.." Raymond berusaha untuk menenangkan mamanya.
Tapi tuan William seperti termakan omongan istrinya, apalagi sejak tadi Raymond juga berkeluh kesah tentang jantung yang selalu deg degan. Laki-laki paruh baya itu segera menghubungi putranya. Dua kali panggilan dilewatkan oleh putranya, dan barulah pada panggilan ketiga, putranya mengangkat.
"Sedang dimana kamu Bram... apakah kamu baik baik saja.." tuan William langsung to the point.
"Di rumah sakit pa, kebetulan sedang menemani adik, eh.. teman yang sedang berjuang melahirkan, Kasihan pa... sudah dua jam lebih kesakitan, tapi bayinya belum mau lahir. Dokter sudah menyarankan untuk operasi caesar, tapi gadis ini menolaknya pa.." putra pertama keluarga itu, memberikan tanggapan.
"Ada hubungan apa kamu dengannya..." tuan William terus mengejar.
"Tenang pa... kita sesama dari Indonesia, dan gadis itu tidak pernah bercerita siapa ayah dari bayi yang dikandungnya. Bram menduga, mungkin gadis ini korban perkosaan pa.. jadi dengan sengaja gadis ini meninggalkan Indonesia.." laki-laki itu menceritakan semua pada papanya.
"Hemppph... ya sudahlah, baik baik saja kamu disana. dan jaga kondisimu.." tuan William akhirnya mengakhiri panggilan.
"Tenanglah ma... putra pertama kita baik baik saja. Malah baru di rumah sakit, memberi bantuan pada gadis dari Indonesia, yang sepertinya korban perkosaan atau apalah... Sudahlah sudah malam, kita istirahat saja.." akhirnya laki-laki itu mengajak istrinya untuk istirahat.
Raymond masih berada di ruang tengah, duduk sendiri dan terus mengusap dadanya berulang kali.
**********
Keisukekai Sapporo Clinics
Setengah berlari, Raffi menyusuri koridor klinik dan berusaha menemukan tempat perawatan untuk pasien yang akan bersalin. Setelah mendapatkan informasi dari customer service, laki-laki itu segera berlari menuju ke tempat perawatan Arine. Untungnya di depan teras, Raffi melihat keberadaan Bramantya dan segera mendatangi laki-laki itu.
"Bram... ada dimana Arine.." laki-laki itu langsung bertanya keberadaan Arine.
__ADS_1
"Masuklah Raff... aku tidak tahan melihat gadis itu, sejak pagi terus berjuang untuk melahirkan bayinya." Bramantya menunjuk kamar yang ada di belakangnya. Sejak tadi, Bramantya ditemani Aiko yang ikut memberinya support untuk menenangkan laki-laki itu.
Raffi segera mendorong pintu itu, dan melihat Arine, perempuan yang disukainya sedang merintih kesakitan. Laki-laki itu segera mendekat...
"Arine.. are you okay girl..?? Tenanglah Arine, aku datang untuk memberimu dukungan.." dengan suara lirih, Raffi mengajak gadis itu bicara.
Arine terkejut dengan kedatangan laki-laki itu di sampingnya, namun keadaanya saat ini tidak bisa banyak berkomunikasi dengan Arine. Perlahan Raffi mengambil tissue, kemudian menyeka keringat yang banyak di kening gadis itu. Dari tempat duduk yang berada di tempat itu. Dokter Keiko menatap ke arah Raffi dengan penuh tanda tanya. Tapi mengingat keberadaan Bramantya di luar kamar perawatan, akhirnya dokter itu mendiamkannya.
"Papamu di Jakarta menitip salam untukmu Arine.., papamu sangat menyayangimu... Apakah kamu ingin berbicara dengan papamu, paman Abraham.." Raffi terus mengajak Arine berbicara.
"Mintalah doa pada papamu Arine.. semoga dengan doa beliau, akan membantumu memperlancar kelahiran putramu.." Arine melihat Raffi kali ini sangat tampan. Tidak ada kemarahan, maupun penasaran di wajah laki-laki itu. Akhirnya tanpa sadar, gadis itu menganggukkan kepala.
Mendapatkan ijin dari Arine, Raffi segera melakukan panggilan pada paman Abraham. Untung saja, laki-laki itu segera menerima panggilan tersebut.
"Paman .. ini Raffi paman, dan saat ini sedang berada di samping Arine. Jika paman berkenan, Arine ingin bicara pada paman, apakah paman mengijinkan.." dengan sopan, Raffi berhasil menyambung komunikasi dengan papa Arine.. Beberapa saat kemudian, anak muda itu menyerahkan ponselnya pada Arine, dengan meletakkan di samping telinga gadis itu.
"Pa.. papa, Arine minta maaf pa..," dengan terbata, Arine menyapa papanya.
"Putriku... ada dimana kamu nak..., kembalilah ke Jakarta, papa merindukanmu." tangis haru terdengar dari suara bergetar laki-laki paruh baya itu.
"Suatu saat pa.., Arine pasti akan kembali dengan membawa cucu papa.. Restui dan doakan Arine pa.." dengan tercekat, Arine meminta doa papanya.
Laki-laki paruh baya di seberang ponsel itu terdiam, hanya nafasnya yang terdengar. Tetapi isak tangis putrinya membuatnya terkejut, dan..
"Papa akan menunggumu dan juga cucu papa Rine.. kembalilah.." ketika jawaban tuan Abraham terdengar di telinga Arine, tiba-tiba saja perut gadis itu kontraksi.
Raffi terkejut dan langsung menarik ponselnya menjauh dari gadis itu. Dokter Keiko dan dua perawat segera mendekati Arine, dan mengusir laki-laki itu.
__ADS_1
***********