
Sore harinya..
Dengan mengendarai Gr**ab Car, Arine dan Brian berangkat menuju ke rumah sakit Harapan. Gadis itu sudah menyiapkan dirinya, jika tanpa sengaja dirinya akan bertemu dengan nyonya Santa, mama tirinya, Bahkan Arine juga mempersiapkan mental Brian, jika tanpa sadar mama tirinya akan menyinggung keberadaan anak itu. Membawa buket bunga di tangan, keduanya turun dari mobil, karena pengemudi sudah menghentikan mobil di depan pintu lobby.,
"Brian... masih ingat pesan mommy.. Abaikan siapapun yang berbicara tidak baik tentang mommy, atau tentang asal usulmu. Kita abaikan, dan anggap mereka tidak ada. Kedatangan kita ke Jakarta, untuk mengunjungi opa, dan mengenalkanmu padanya.." Arine mengingatkan kembali putranya.
"Siap momm.... Brian akan menurut apa yang mommy harapkan.."
Arine segera menggandeng tangan putranya, kemudian berjalan menuju ke receptionis untuk mencari tahu kamar rawat inap papanya..
"Tunggu sebentar ya kak... akan kami lihatkan pada database,, Tuan Abraham ya.." petugas front line meminta Arine untuk menunggu sebentar. Tidak berapa lama...
"Tuan Abraham dari perusahaan Elpamas, dirawat di kamar VVIP Bougenville Ungu. Anda bisa mengunjunginya sekarang, kebetulan jam bezoek sudah dibuka.." petugas jaga memberikan informasi kamar papa Arine dirawat.
"Baik terima kasih kak... selamat sore.."
Arine mempercepat langkah kakinya, dan Brian mengikuti mommy nya. Untung saja, kamar tempat papanya dirawat ada di lantai satu, sehingga mereka tidak repot repot harus naik ke atas, untuk mencari kamar tersebut. Di depan pintu ruang dimaksud, Arine menghentikan langkah. Gadis itu terlihat menata hati, dan mengambil nafas panjang beberapa saat..
"Mommy... bukankah ini VVIP Room Bougenville Ungu. Opa mungkin ada di dalam momm..?" karena mommy nya berhenti, Brian menunjuk papan penunjuk nama ruangan,
"Benar sayang... ketuklah pintu dengan pelan, kita akan masuk ke dalam.." setelah bisa mengendalikan emosinya, Arine mengajak Brian untuk masuk ke dalam.
Anak itu mengikuti apa yang diutarakan mommy nya, dengan pelan Brian mengetuk pintu sebanyak tiga kali. Tidak ada jawaban maupun yang berjalan untuk membukakan pintu, bocah itu melihat ke arah mommy nya.
"Kita masuk sayang..., mungkin opa tidak memiliki teman, sehingga tidak ada yang membantu kita untuk membukakan pintu.." Arine segera memutar handle pintu dengan tangan kanannya, dan mereka kemudian bergegas masuk ke dalam.
Begitu mereka masuk, langkah kaki Arine terhenti. Di depannya, terbaring tubuh papanya yang tampak lemah tidak berdaya. Selang oksigen tampak terpasang di hidungnya. Tanpa disadari, air mata menggenang di pelupuk mata gadis itu, tapi untungnya Arine cepat tersadar. Gadis itu mengusap air mata dengan menggunakan tissue yang diambil dari atas meja. Setelah bisa mengendalikan emosinya, perlahan Arine mendekat dan berdiri di samping ranjang, untuk melihat papanya lebih dekat.
__ADS_1
"Papa... Arine dan Brian datang pa..." dengan tenggorokan tercekat, Arine berbisik lirih.
Gadis itu menurunkan wajahnya ke bawah, kemudian mengangkat telapak tangan papanya, dan menempelkan di atas pipinya. Brian melihat mommy nya tanpa berkedip, dan bocah kecil itu berjalan lebih dekat ke arah opa dan mommy nya.
"Brian... sampaikan salam pada opamu sayang..." dengan mata berlinang, Arine meminta Brian.
"Baik momm..." Brian melakukan hal yang sama, bocah kecil itu juga mengambil tangan tuan Abraham kemudian menempelkan di pipinya,
"Opa... Brian datang opa.. Oh iya, opa belum kenal dengan Brian ya... Brian ini putra dari mommy Arine opa, dan daddy Brian adalah daddy Elmar.." Arine terkejut dengan ucapan putranya.
Tapi gadis itu tidak bisa marah, karena situasi mereka saat ini.
"Opa bangun ya... masa tidak menyapa cucu opa yang kata mommy menggemaskan ini.." Brian terus mengajak komunikasi pada laki laki yang terbaring lemah itu.
Tiba tiba Arine melihat ada gerakan di tangan papanya, dan perlahan mata tuan Abraham membuka. Arine terkejut, dengan tidak percaya gadis itu mendekat ke arah wajah papanya..
"Arine..." dengan terbata, tuan Abraham memanggil putrinya.
Gadis itu menganggukkan kepalanya, dan tiba tiba Brian menyibak wajah mommy nya. Bocah itu ingin memperlihatkan wajah pada opanya...
"Hey opa... kenalkan ini Brian.. putra mommy Arine.." dengan gaya polosnya, Brian kembali mengenalkan dirinya.
"Cucuku .. cucu opa.." air mata keluar tanpa kendali dari pelupuk mata tuan Abraham.
Arine bergegas mengambil tissue dan bergegas mengusap air mata itu.
"Jangan menangis pa... Brian dan Arine disini, akan menemani papa istirahat. Hentikan tangisannya pa... karena saat ini kita bahagia.." Arine berusaha menenangkan laki laki paruh baya itu.
__ADS_1
Dengan lucunya Brian mengusap air mata opanya jika kembali mengalir, dan tuan Abraham tersenyum bahagia melihat kelucuan itu.
************
Malam harinya...
Karena tuan Abraham sudah kembali tertidur, Arine dan Brian duduk menunggu laki laki itu sambil membaca majalah kesehatan. Mereka berencana akan menginap di rumah sakit untuk menjaga papanya, dan mereka sudah mempersiapkan, karena setelah tadi sampai di hotel mereka sudah tidur siang. Ketika dua orang itu sedang fokus pada aktivitas mereka masing masing, tiba tiba pintu kamar didorong dari luar.
Dua orang perempuan yang baru masuk itu merasa terkejut melihat keberadaan Arine di dalam. Tapi Arine dan Brian bersikap biasa saja, seakan mengabaikan dua perempuan itu. Terlihat nyonya Santa memberikan stop map pada Claudia, kemudian mendekati Arine..
"Hempphh.. rupanya ada anak durhaka yang datang ke rumah sakit ini.. Ada dimana kamu, ketika papamu membutuhkan bantuan..." kata kata pedas keluar dari mulut Nyonya Clara.
"Mungkin perempuan ini datang untuk mendapatkan warisan ma... Dipikirnya usia papa Abraham tidak akan lama lagi, sehingga dia datang untuk berebut denganku..." dengan culasnya, Claudia ikut menimpali.
Arine terdiam. tidak memberikan tanggapan. Tapi tiba tiba....
"Aawww..." Claudia menjerit, karena satu buah apel Granny Smith sukses mendarat di mulutnya.
Arine otomatis tersenyum sambil menutup mulut dengan telapak tangannya, ketika mengetahui ternyata Brian yang melakukannya.
"Bocah kurang ajar.. siapa kamu yang mengajari. Apakah ini anak haram, yang menyebabkan kamu pergi meninggalkan rumah Arine.." nyonya Santa berteriak dengan mata melotot.
"Hey... jangan berani menyebut Brian anak haram.. Brian punya mommy... dan juga punya daddy Elmar. Jika nenek tua terus menyebut Brian sebagai anak haram, Brian akan mengadukan pada daddy.. Dan lihat saja, daddy Elmar akan memberi hukuman pada kalian..." Arine terkejut dengan perkataan putranya. Sejak tadi, Brian selalu menyebut Elmar sebagai daddy nya...
"He.. he.. he..., dasar bocah kecil. Berhasil juga ya mamamu telah mendoktrinmu... Sampai kapanpun, kamu tidak akan bisa menemukan siapa papa kandungmu... Karena itu hanya ada di dalam khayalanmu.." Arine menenangkan dirinya, berusaha untuk melindungi psikis putranya. Namun...
"Mommy... pinjam ponselnya. Brian akan menelpon daddy, dan akan kita lihat, daddy pasti akan bergegas menuju ke Indonesia.., setelah Brian menelpon." Arine tambah terkejut dengan permintaan Brian. Tapi perlahan, gadis itu mengeluarkan ponsel, dan memberikan pada Brian..
__ADS_1
***********