
Semua yang berada dalam ruangan itu menoleh ke sumber suara. Suasana dingin seperti mengintimidasi orang-orang di situ ketika melihat siapa yang datang. Wajah Arine terlihat pucat melihat laki-laki tampan itu, apalagi gadis itu tidak bisa mengendalikan putranya Brian. Melihat siapa yang datang, Brian langsung berlari dan menghambur dalam pelukan laki-laki itu. Tidak diduga, wajah dingin itu seketika menjadi lumer, dan bibirnya tersungging secercah senyuman ketika laki-laki itu memeluk tubuh kecil Brian,
"Kak Elmar... anak kecil itu dan mommy nya sudah berani menindasku kak. Bahkan mereka memfitnah kakak yang tidak tidak, aku dan mama hanya memberi mereka sedikit pelajaran saja," Stevia mendekat ke arah laki-laki muda itu. Namun seketika tatapan ramah ketika melihat kedatangan Brian, menjadi kembali dingin,
Stevia menghentikan langkah kakinya, dan hanya diam menatap Elmar dengan pandangan bingung. Sedangkan Arine hanya bisa diam, tidak berani bertindak dan mengeluarkan sepatah katapun,
"Tuan muda Elmar... silakan duduk dulu Tuan muda.. Untungnya tuan muda datang, kita akan segera mengakhiri kekacauan ini.." petugas polisi yang tadi menginterograsi Arine, tiba-tiba menjadi ramah saat itu juga. Laki-laki itu mencoba mencairkan suasana.
"Aku akan membuat perhitungan dengan kalian semua. Jika kalian tahu, suara kalian bisa didengar oleh semua orang yang berkunjung di kantor polisi ini. Bukannya kalian sebagai petugas kepolisian, aparat yang dibayar pemerintah memberikan perlindungan pada yang lemah, malah bertindak tidak adil pada masyarakat.." bukannya tersenyum menyambut sapaan petugas polisi, tetapi Elmar malah meluapkan kemarahannya.
"Maksud tuan Elmar... dalam hal ini, tuan Elmar berada dalam pihak siapa...?? Kami bertindak dengan mendasarkan pada pengaduan yang diajukan oleh Nona Stevie tuan muda... Dan perempuan ini yang bernama mbak Arine, dan juga putranya sudah membuat fitnah tentang tuan muda.." petugas polisi terkejut dengan respon yang diberikan oleh Tuan muda Elmar.
"Abidzar... urus semuanya...!" Elmar mengangkat tubuh Brian dan menggendong di sisi pinggangnya. Setelah memerintah asisten pribadinya, tatapan lembutnya seketika melihat ke arah Arine. Laki-laki muda itu berjalan menuju ke arah Arine, kemudian...
"Arine.. ikutlah denganku,. Kita pulang sekarang, tidak ada yang berani untuk menindasmu lagi. Abidzar akan membereskan semuanya.." kata kata lembut keluar dari bibir laki-laki muda itu, yang sangat mengejutkan semua yang ada dalam ruangan itu.
__ADS_1
Mendengar tuan muda Elmar mengajaknya pergi, Arine menjadi bingung. Namun karena ingin mendengar langsung, dan melihat akhir perkaranya, Arine menolak ajakan dari laki-laki muda itu,
"Maaf kak Elmar.. tidak bijak, dan nanti saya akan bisa mendapatkan pressure lagi dari pihak polisi, yang menunjukkan betapa lucunya hukum di Indonesia. Untuk itu kak, saya akan tetap berada di tempat ini untuk mendampingi proses. Jika kak Elmar berkenan, sementara saya titip putra saya Brian, dan antarkan ke tempat Opa nya di rumah sakit..." tidak mau jika Brian terlalu lama berada di tempat itu, dan bisa berdampak pada psikis putranya, Arine membuat permohonan pada Elmar.
"Pak Polisi... anda mendengar bukan bagaimana perkataan istriku. Nona Arine adalah istriku, dan Brian adalah putraku. Siapa yang berani untuk membuat masalah dengan mereka, maka kalian semua akan berurusan dengan saya. Mabes Polri akan menerima pelimpahan kasus ini, jika kalian tetap menindas keluargaku..." wajah Arine berubah merah menjadi malu, karena dengan terang terangan dan tanpa meminta persetujuan kepadanya, tuan muda Elmar malah memberikan pengumuman palsu.
Namun di saat seperti itu, Arine juga tidak bisa berbuat banyak. Karena jika dirinya menyangkal, maka sama saja dengan mempermalukan tuan muda Elmar. Stevia dan mamanya lebih terkejut lagi, dan mereka sampai membelalakkan mata, karena mereka tidak pernah sedikitpun mendengar kabar tentang pernikahan dari tuan muda Elmar.
"Baik tuan muda... saya akan kondisikan jika pemeriksaan terhadap nona muda Arine sudah selesai. Dan untuk non Stevia, mohon maaf jika pengaduan tuntutan anda pada Nona Arine ditolak. Saya mohon, anda dan pengacara untuk membawa kembali berkas permohonan..." dengan nada tegas, akhirnya petugas polisi menyampaikan kata-kata.
***********
Di dalam mobil...
Arine menahan nafas, dan mencoba mengatur pernafasan serta hatinya. Setelah bisa mengendalikannya, gadis muda itu melihat ke arah laki-laki muda yang duduk di sampingnya. Brian tampak bekerja sama, setelah masuk mobil, bocah kecil itu duduk diam, dan malah saat ini sedang tertidur di sandaran kursi. Sedangkan Elmar hanya diam, seperti menahan rasa kesal.
__ADS_1
"Mmmpphh... maaf ya kak Elmar.., karena Brian telah merepotkan kakak... Maklum, Brian masih kecil, dan ketika mengetahui nomor ponsel kakak, Brian meminta bantuan pada kak Elmar.." dengan sedikit gugup, akhirnya Arine memberanikan diri untuk mengajukan permintaan maaf.
Elmar menoleh dan melihat ke arah gadis yang duduk di sebelahnya itu. Mereka beradu pandang beberapa saat, namun Arine yang lebih dulu mengalihkan pandangan, karena merasa tidak kuat dengan tatapan tajam itu. Namun.., tidak ada sepatah kata yang diberikan oleh Elmar sebagai tanggapan.
"Dan aku berharap kak Elmar bisa memaklumi tindakan Brian. Biasanya ada kak Bram, yang selalu dipanggil Brian dengan panggilan papa besar. Tapi kali ini, kak Bram masih berada di negara Jepang, jadi mungkin Brian kehilangan figur seorang papa, kemudian secara random memperlakukan kak Elmar selayaknya papa.." lanjut Arine lirih.
Berbicara dengan orang yang terus menatapnya, dan dalam keadaan salah, membuat Arine menjadi serba salah. Gadis itu bingung, bagaimana harus menebus kesalahan putranya, yang sudah menyebarkan ke orang-orang, jika laki-laki muda dan tampan itu adalah papanya.
"Apakah sudah Arine..., semua yang kamu katakan...?" tiba-tiba suara lembut Elmar terdengar.
Arine terkejut, dan gadis itu menengadahkan wajahnya. Tanpa bicara lagi, Elmar malah menarik punggung Arine untuk mendekat kepadanya. Belum sampai pikiran Arine sampai, tubuhnya sudah berada dalam pelukan laki-laki muda itu. Elmar tampak memeluk erat tubuh perempuan muda itu, dan sopir hanya mengulum senyum ketika melihat dari cermin cembung di depannya. Tidak lama kemudian, tirai penyekat antara kursi tengah dan kursi depan diturunkan olehnya.
"Jangan tinggalkan aku lagi Arine.., kalian berdua sudah membuatku panik. Berhari hari aku tidak bisa tidur karena memikirkanmu..." kata kata permohonan keluar dari bibir Elmar, dan suara itu tampak parau.
Hal yang membuat Arine menjadi terkejut lagi, tiba-tiba perempuan muda itu ini merasa jika pundaknya terasa basah. Ternyata tuan muda Elmar menangis dalam pelukannya, dan seketika hati Arine merasa mencelos. Perempuan itu merasa kebingungan, apa yang terjadi dengan tuan muda itu.
__ADS_1
***********