
Rumah Sakit...
Wajah nyonya Edward terlihat merah menahan marah. Perempuan itu marah karena panggilannya pada nyonya Clara di reject. Padahal sejak masuk ke dalam kamar perawatan, Stevia tanpa henti terus bertanya tentang Elmar. Tidak tega melihat keadaan putrinya, perempuan paruh baya itu sampai meminta pada dokter untuk memberikan obat penenang.
"Sialan Clara... kenapa perempuan itu mengabaikanku... Apakah dia tidak tahu, bagaimana penderitaan seorang ibu ketika putrinya terbaring di rumah sakit..?" dengan air mata bercucuran, perempuan itu berbicara pada dirinya sendiri.
ART yang ikut berada di dalam kamar putrinya tidak berani bersuara, hanya melihat perempuan itu dalam keadaan prihatin. Memang sejak dipindahkan ke kamar rawat inap, nona Stevia seperti seorang yang sedang mengalami kesurupan. Tanpa henti, gadis itu terus memanggil nama tuan muda Elmar.
"Tut... tut.. tut..." kembali kemarahan menghampiri nyonya Edward, karena nomor ponsel nyonya Clara tidak aktif.
"Prakkk..." dengan sekuat tenaga perempuan itu membanting ponselnya di atas sofa.
Dengan ketakutan ART meraih ponsel itu, kemudian meletakkan di atas meja...
"Nyonya... bukankah nyonya masih harus berkomunikasi dengan Tuan Edwar.. Jika ponsel nyonya rusak, bagaimana nanti tuan akan bertanya kabar tentang nona Stevia.." dengan hati-hati, ART berusaha mengingatkan perempuan yang menjadi majikannya itu,
"Aku jengkel Sumi... Tidak biasanya Clara mengabaikan panggilanku.., tapi sejak tadi aku tidak berhasil untuk melakukan panggilan dengannya. Bahkan terakhir, nomornya sedang tidak aktif..." perempuan itu meluapkan emosinya, dan dengan patuh Sumi mendengarnya.
"Sabar nyonya... mungkin Nyonya Clara sedang repot, atau sedang ada urusan. Tidak seharusnya nyonya malah menjadi terpancing emosi, kasihan non Stevia Nyonya.." kembali dengan hati-hati, Sumi memberi masukan pada perempuan paruh baya yang merupakan majikannya itu.
__ADS_1
Nyonya Edward terdiam sebentar, seperti memikirkan kata-kata asisten rumah tangganya. Beberapa saat kemudian...
"Setelah aku pikir-pikir Sumi, sepertinya kata-katamu benar. Untuk saat ini, kesembuhan non Stevie jauh lebih penting. Aku harus mengalihkan pembicaraan jika Stevie terus bertanya tentang Elmar. Keluargaku tidak jauh lebih rendah martabatnya dibandingkan dengan keluarga anak muda itu. Tidak mudah, hanya dengan hal ini keluarga William akan menindas, atau menghancurkan keluargaku.." seperti muncul semangat pada diri perempuan paruh baya itu.
Terlihat nyonya Edward kembali mengambil ponselnya, kemudian terlihat sedang menulis di chat. Ternyata perempuan itu mengirimkan chat pada Clara, hanya untuk memberi kabar, dan tidak terkesan memohon kedatangan Elmar untuk menjenguk putrinya.
"Sumi... sepertinya kamu harus memberi tahu ART di rumah, untuk bersiap-siap. Pengaruh tuan muda Elmar pada putriku sangat besar, dan tidak mudah aku akan membuat Stevie melupakannya. Untuk itu Sumi, kemungkinan besar aku akan membawa pergi putriku dari negara ini. Stevie membutuhkan recovery untuk memperbaiki mentalnya.." dengan ucapan pelan, nyonya Clara kembali berbicara pada Sumi.
"Baik nyonya... Sumi akan segera memberi tahu teman-teman yang lain, untuk menyiapkannya. Ijin Sumi untuk melakukan panggilan nyonya.." tanpa menunggu lagi, Sumi segera memberi tahu teman-teman ART di rumah, untuk menyiapkan perlengkapan Stevia.
Nyonya Edward mengambil nafas panjang, dan dengan penuh kasih perempuan itu berjalan mendekati ranjang tempat putrinya tidur. Ada keharuan pada tatapan mata perempuan itu, ketika melihat putrinya terbaring dengan pulas karena pengaruh obat. Perlahan... tangan perempuan paruh baya itu mengusap wajah Stevia, dan perlahan kembali turun dan memegang telapak tangan gadis itu.
**********
"Mommy... daddy..." melihat kedua orang tuanya sedang duduk membelakangi, dan tampak menghadap pada opanya, Brian berlari menghampiri mereka.
"Brian... dengan siapa Brian datang kemari nak..." Arine segera memeluk putranya, namun ketika melihat keberadaan mama Elmar, dan juga Bramantya di ruangan ini, gadis itu menjadi serba salah,
"Pak Abraham... perkenalkan pak.., saya ini mama mertuanya Arine, mama dari Elmar pak..." namun tidak terduga, dengan sopan nyonya Clara mendekat ke arah tuan Abraham, dan mengenalkan dirinya sebagai besan.
__ADS_1
"Benarkah ini apa yang aku lihat di depan mata.. Pengusaha terkenal di Indonesia, bahkan masuk golongan konglomerat telah menjadi besan saya.." papanya Arine tampak merendah,
Namun mamanya Elmar sudah mendekat, dan mengajak laki-laki paruh baya itu untuk berjabat tangan. Terlihat kebahagiaan di mata laki-laki itu, dan wajah pucat perlahan mulai menghilang darinya.
"Pak Abraham ini terlalu merendah. Keluarga kamilah yang sangat beruntung pak... bisa mendapatkan menantu secantik Arine, dan juga baik hati. Bahkan sudah bisa memberikan seorang cucu yang sangat tampan dan cerdas, seperti brian..," Nyonya Clara tampak merendah.
Perempuan itu tanpa henti terus tersenyum, wajahnya bersinar karena bahagia bisa bertemu dengan besannya. Meskipun perempuan itu tahu, jika antara putranya dengan Arine belum terikat adanya sebuah pernikahan. tetapi di depan calon besan yang sedang terbaring sakit, nyonya Clara berpura-pura jika keduanya sudah menikah.
"Putriku memang betul-betul sangat beruntung nyonya.. Bisa mendapatkan suami yang sangat memahami perasaan orang tua. Baru saja, nak Elmar meskipun sudah menikah dengan putriku dan memiliki Brian, tapi dengan gentle nya melamar dan memohon restuku untuk bisa memiliki putriku Arine.." dengan air mata tergenang di kelopak mata, tuan Abraham menanggapi perkataan besan.
"Memang seharusnya seperti itu pak Abraham.. Putraku belum meminta restumu, untuk bisa memiliki Arine. Aku dan kakaknya Elmar, Bramantya ikut meminta Arine untuk menjadi menantu dalam keluarga kami pak Abraham. Semua persyaratan yang pak Abraham minta, pasti akan kami kabulkan.." seperti gayung bersambut, nyonya Clara menimpali pembicaraan.
Arine seperti tercekat tenggorokannya, gadis itu merasa malu karena sudah membuat kebohongan pada papanya. Tetapi semua itu dilakukan untuk kebaikan papanya, apalagi papanya mengidap penyakit jantung. Elmar beberapa kali melihat ke arah Arine yang menundukkan wajahnya ke bawah, dan laki-laki itu menguatkan dengan menggenggam tangan perempuan muda itu. Brian yang sudah berada dalam pangkuan daddy nya, hanya menatap kebingungan.
"Mama... sepertinya pak Abraham membutuhkan waktu untuk istirahat ma... Secepatnya begitu pak Abraham keluar dari rumah sakit, kita harus melakukan pernikahan ulang antara Arine dan Elmar. Bram akan membantu mama untuk menyiapkan semuanya.." dari belakang, karena tidak tega melihat keadaan Arine yang seperti tersiksa, laki-laki itu menengahi.
"Benar katamu Bram... mama malah terlena. Seperti berbicara dengan orang yang sedang tidak berada di rumah sakit saja. Baiklah... kita biarkan pak Abraham untuk istirahat dulu saja.. Dan kamu Arine, Elmar.., tidak baik juga jika kalian berdua mengganggu papa kalian istirahat. Kalian juga harus segera kembali pulang.." nyonya Clara menanggapi perkataan putra pertamanya.
"Mmmmpphh... baik ma, Arine dan kak Elmar segera pulang.." meskipun dengan tercekat, tetapi nyonya Clara sangat senang dengan panggilan Arine kepadanya.
__ADS_1
Elmar tersenyum juga ketika mendengarnya, begitu juga dengan Bramantya serta Brian. Ternyata keadaan sakit papa gadis itu, mempermudah skenario mereka untuk menyatukan Arine dan Elmar.
************