
Elmar menggendong Brian di satu sisi pinggangnya, dan satu tangannya merengkuh bahu Arine. Mereka berjalan keluar meninggalkan kamar tempat tuan Abraham beristirahat. Melihat tuan mudanya keluar dari dalam kamar perawatan, dua pengawal yang ditugaskan Elmar dengan sigap masuk ke kamar perawatan, untuk melakukan penjagaan.
"Kak Elmar..., lepaskan tangan kakak. Tidak etis jika di luar kamar perawatan papa kita melakukan hal seperti ini." merasa risih dan tidak nyaman dengan perlakuan dari laki-laki muda itu, Arine memberikan teguran pelan.
Elmar tidak marah, laki-laki itu malah tersenyum dan menatap ke wajah gadis muda yang berjalan di sampingnya. Namun untungnya laki-laki muda itu tidak ingin membuat mereka menjadi pusat perhatian, dan segera melepaskan rangkulannya di bahu gadis itu,. Arine segera mempercepat langkahnya menuju ke arah pintu keluar rumah sakit. Begitu sampai di depan lobby, dengan cekatan Arine membuka ponsel untuk mencari taksi online..
"Hey Arine... apa yang akan kamu lakukan. Jangan membuatku marah, dengan adanya aku disini, dan kamu melakukan pemesanan taksi online, sama saja kamu mengabaikanku.." namun seketika Arine menghentikan tindakannya, ketika suara Elmar dengan nada agak tinggi mengejutkannya.
Dengan tatapan polos, gadis itu menatap ke arah laki-laki itu. Terlihat ada semburat kemarahan di mata Elmar..
"Maaf kak Elmar... Arine dan Brian tidak mau terus merepotkan kak Elmar. Sudah sejak siang, kak Elmar berada di kantor polisi, dan ke tempat ini. Kami berdua tidak mau terlalu banyak berhutang budi pada kak Elmar..." mendengar jawaban yang keluar dari bibir Arine, tatapan Elmar terus memindai wajah gadis itu.
"Hempphh... rupanya perasaan kamu tidak bisa bermain Arine.. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat malam ini, dan aku tidak mau ada penolakan darimu. Jangan khawatir dengan Brian, keluargaku akan menjaga Brian dengan baik, melebihi bagaimana mereka akan memperlakukanku.." tatapan laki-laki muda itu terus menatap ke arah manik mata Arine, sampai gadis itu tidak berani untuk beradu pandang.
Getaran aneh muncul di dada Arine, dan gadis itu berusaha untuk menghilangkan getaran itu. Tiba-tiba sebuah mobil mewah sudah berhenti di depan mereka...
"Masuklah lebih dulu Arine... jangan membuatku marah. Anggap saja, ajakanku malam ini sebagai balas jasa, atas pertolonganku kepadamu dari tadi siang.." mendengar kata kata terakhir yang diucapkan oleh Elmar, Arine tidak memiliki pilihan lain.
Melihat Elmar menidurkan Brian di kursi depan, di samping sopir, Arine segera masuk ke kursi tengah. Tidak lama kemudian, Elmar mengikuti Arine dan duduk di samping gadis itu. Begitu mereka duduk, dan driver menjalankan mobil, terlihat Elmar tampak sedang melakukan panggilan telpon. Tidak lama kemudian, panggilan itu tersambung, kemudian..
"Bram... jemput Brian di depan hotel The Ritz-Carlton sekarang. Tidak ada waktu untuk penjelasan.." mendengar nama putranya disebut, Arine melihat ke arah Elmar.
__ADS_1
Namun laki-laki itu masih berbicara.., tetapi ketika mendengar jika Bramantya yang sedang dimintainya pertolongan, Arine menjadi sedikit lega. Arine sangat tahu, jika Bramantya juga sangat menyayangi putranya, dan laki-laki itu menemaninya sejak Brian masih ada dalam kandungan. Tetapi begitu mendengar nama hotel yang disebut Elmar, hati Arine menjadi sangat kacau. Beberapa saat setelah Elmar menyelesaikan panggilan...
"Kenapa kak Elmar mau menitipkan Brian tanpa meminta persetujuan padaku. Meskipun kak Bram yang kakak mintai bantuan.." merasa dirinya yang memiliki hak sepenuhnya atas Brian, Arine melakukan protes pada laki-laki yang duduk disampingnya itu.
"Kali ini mengalahlah untukku Arine.. Trust me.., aku tidak akan melakukan sesuatu yang mengecewakan untukmu..!" tatapan Elmar penuh harap meminta agar gadis itu mengerti.
"Tapi kak... Brian adalah putraku. Tidak bijak, jika kak Elmar membuat pengaturan untuk putraku..." Arine tetap mengotot, dan mengatakan bagaimana posisi Brian untuknya.
"Tenanglah Arine.., aku tidak ingin berdebat malam ini. Aku hanya ingin menunjukkan sebuah bukti padamu Arine.., dan kita akan menyadarinya bersama.." tetapi Elmar juga tidak mau mengalah, laki-laki itu dengan penuh ketegasan meminta gadis itu untuk menurut padanya.
Arine terdiam, dan dengan jantung yang semakin berdetak kencang, gadis itu memilih untuk mengikuti apa yang akan dilakukan oleh laki-laki itu.
**********
Baru saja mobil berhenti di lobby hotel, Arine melihat ada laki-laki yang tidak asing baginya mendekat ke arah pintu mobil. Kebetulan juga, dalam keadaan ini Brian terbangun. tidak lama kemudian, pintu depan mobil dibuka...
"Papa besar... bagaimana papa besar bisa ada disini..?" Brian terkejut melihat kedatangan Bramantya, dan bocah itu langsung meloncat turun, dan dengan sigap Bramantya menerimanya dalam gendongan.
Arine menjadi tertegun, apalagi menyadari dimana dirinya saat ini. Gadis itu tidak bisa melupakan kejadian kelam, yang menyebabkan dirinya harus bermigrasi ke negara Jepang. Di hotel ini, beberapa tahun yang lalu sudah terjadi kecelakaan yang dirasa telah menghancurkan hidupnya.
"Arine.. keluarlah sebentar Arine.. Aku akan menunjukkan sesuatu padamu.., tidak akan lama.." suara lembut Elmar terdengar di telinga gadis itu.
__ADS_1
Namun Arine masih belumĀ bisa menguasai perasaannya. Tiba-tiba malam ini, berada di tempat yang sama dengan keadaan beberapa tahun lalu, kaki Arine tidak bisa digerakkan. Gadis itu hanya duduk diam saja di dalam mobil, sedangkan Brian sudah dibawa Bramantya, dan mereka sudah berpindah mobil.
"Apakah kamu teringat sesuatu Arine.. ayolah..?" kembali bisikan lembut dari Elmar terdengar di telinga Arine.
Tiba-tiba saja mata Arine berkaca kaca.., tubuhnya menjadi semakin lemas, dan mengabaikan pertanyaan Elmar yang kembali terdengar.
"Hempphh... baiklah Arine, jika kamu masih membisu. Jangan marah padaku, karena dengan terpaksa aku akan membawamu ke dalam..." selesai berbicara, Elmar membuka pintu mobil duluan, dan laki-laki muda itu keluar dari dalam mobil.
Tidak lama kemudian, Elmar sudah berada di sisi pintu tempat duduk Arine. Tanpa banyak bicara, laki-laki muda itu membuka pintu di samping Arine, dan dengan tangannya yang kuat, Elmar mengangkat tubuh Arine dengan kedua tangannya. Arine seperti kehilangan kesadaran, dan tidak menyadari apa yang dilakukan Elmar kepadanya. Dada Arine terus bergemuruh, dan kejadian tahunan yang lalu itu seperti kembali muncul di memorinya. Kejadian yang ingin selalu dilupakannya.
"Tuan muda... kamarnya sudah kami siapkan. tuan muda bisa langsung ke kamar tersebut..." seorang laki-laki dengan sikap hormat memberikan laporan pada Elmar.
"Yap..." sahut Elmar.
Dengan bridal style, Elmar terus menggendong Arine di pelukannya. Sesaat mereka memasuki lift, dan di dalam lift tersebut gadis itu baru tersadar dengan apa yang terjadi.
"Kak Elmar... kenapa kakak memaksaku datang ke hotel ini. Turunkan aku kak.. please.." dengan mata berlinang, Arine membuat permohonan. Tetapi Elmar malah tersenyum tanpa bicara, dan terus menatap mata gadis itu.
"Turunkan aku kak, aku ada rasa traumatik di hotel ini, please..." dengan tatap memohon, Arine membuat permintaan.
"Aku akan membantumu untuk menghilangkan trauma itu Arine.." Elmar berbisik di telinga Arine.
__ADS_1
Sesaat kemudian, bibir hangat Elmar sudah menutupi bibir Arine. Di dalam lift, satu pasang anak muda itu berpadu dalam ciuman panas yang memabukkan.
**************