One Night Incident

One Night Incident
Bab 87 Berpikir ke Depan


__ADS_3

Setelah acara wedding berakhir, Arine dan Keiko tampak bicara berdua. Suami mereka sedang terlibat pembicaraan dengan mitra perusahaan, sehingga kedua perempuan muda itu punya waktu lebih untuk berbincang. Tampak Brian juga tidak sedang bersama dengan keduanya, sehingga mereka memiliki waktu luang untuk berbincang berdua,..


"Bagaimana rencanamu ke depan Arine...? Apakah mau kembali ke negara ini, atau masih tetap akan tinggal di Sapporo.." mengingat Arine dan Brian lama tinggal di Sapporo, Keiko bertanya pada perempuan muda itu. Keiko terlihat serius...


Arine terdiam beberapa saat, dan tampak pandangannya ke depan. Tidak berapa lama...


"Hempphh... aku juga masih bingung dengan masa depanku Keiko... Sebenarnya jujur Keiko, aku merasa jenuh tinggal di kota ini, Jakarta. Selain kebersihan udara yang sudah tidak sehat, banyak faktor yang mengingatkanku pada kelamnya masa laluku. Tapi... semua tergantung daddy nya Brian, secara khusus aku belum bicara tentang hal ini padanya.." Arine akhirnya memberikan tanggapan, Mommy Brian memang belum bicara apapun dengan suaminya, sehingga sesaat Ariner terdiam, tidak mau memberikan jawaban secara gegabah. Karena saat ini, dirinya dan Elmar sudah menjadi pasangan suami istri, sehingga hal apapun harus sepersetujuan mereka berdua.


"Rupanya apa yang ada dalam pikiranmu, sama dengan yang aku pikirkan Arine.. Mama Clara, beberapa kali mencoba memintaku untuk mau bertahan di kota ini, karena Bram maunya kembali ke Hokkaido. Kamu pasti juga tahu bukan, apa yang aku pikirkan. Karena tidak mudah untuk bertahan di tempat yang baru, apalagi kedatanganku di kota ini, kamu tahu sendiri bukan.. Aku sama sekali tidak punya pikiran, jika akhirnya aku akan menjadi Nyonya Bramantya.." Keiko tersenyum getir.


Meskipun dalam hati kecilnya, gadis itu tampak berbahagia dengan statusĀ  barunya. Namun gadis itu secara khusus, belum memberi tahu pada keluarganya, jika dirinya sudah menjalin keterikatan dengan Bramantya. Semua keputusan, dilakukan secara mendadak, dan tanpa pemikiran yang matang. Ketakutan akan kehilangan peluang untuk bersama dengan Bramantya, telah menguasainya, sehingga dalam waktu singkat keputusan menikah diputuskannya..


"Tapi Keiko... mungkin ada baiknya, kita harus bicarakan hal ini pada pasangan kita. Ada hak yang dimiliki seorang istri, untuk berdiskusi pada pasangan. Semua untuk menghindari tekanan yang terjadi pada pasangan.." Arine mengusulkan sesuatu.


"Maksudmu Arine... apakah kita akan bertengkar dengan pasangan kita..?" Keiko belum bisa memaknai perkataan Arine. Gadis itu tampak serius bertanya pada Arine..


Mommy Brian tersenyum, kemudian...


"Bukan bertengkar Keiko... tapi lebih tepatnya mengajak untuk berdiskusi. Kita perlu untuk menyuarakan, jika kita memang tidak suka. Jangan sampai kita menjadi tertekan, dan tidak bisa menyuarakan apa yang ada di dalam hati kita.." Arine menjelaskan apa yang dimaksudnya.


Keiko mengangguk anggukkan kepala, tanda jika perempuan itu sudah memahami maksud dari perkataan itu.

__ADS_1


"Baiklah... nanti malam aku akan mengajak Bram untuk bicara Arine. Kita saling mendoakan saja, semoga apa yang kita putuskan, memang untuk kebaikan kita bersama.. Aku juga akan menggunakan alasan keluargaku, yang belum mengetahui jika putrinya menikah tanpa ijin dan restu dari mereka..." Akhirnya Keiko memberikan tanggapan,


"Eits... tidak nanti malam juga Keiko.. Ingat, nanti malam adalah malam pertama kalian, jangan kecewakan Bram, dan juga jangan alihkan perhatian laki-laki itu padamu. Masih banyak waktu untuk membicarakannya Keiko, sukses untukmu.." sadar jika Keiko baru saja menikah dengan Bramantya, Arine mengingatkan gadis itu.


"Mmmmpphh... kamu membuatku malu Arine.." Keiko tersenyum malu, dan gadis itu kembali menundukkan wajah menghindar dari tatapan Arine, yang seperti mengejeknya..


"Ha.. ha.. ha.." tanpa sadar, Arine tertawa keras melihat Keiko menunduk malu. Tapi akhirnya gadis itu merangkul punggung Keiko, dan turut merasa senang ketika tahu Bramantya mendapatkan jodoh yang baik. Meskipun bukan sebagai pasangan, namun kedekatannya dengan Bramantya selama ini, menimbulkan ikatan erat dalam hati masing-masing.


**************


Beberapa hari sesudahnya...


"Apakah sudah memiliki acara untuk hari ini honey...? Kepergianku ke perusahaan bisa sampai sore, karena harus meng entertaint Dewan Komisaris juga.." sambil melihat wajah istrinya yang serius mengalungkan dasi dan mengaturnya, Elmar bertanya pada Arine.


"Tidak ada acara kak.., paling ke roof top, bekerja online disana.. Lagian Brian juga ada acara mau jalan-jalan ke Dufan, dengan Bram dan Keiko.." tanpa beban diperlihatkan, Arine memberikan tanggapan.


Elmar terdiam, dan dengan teliti akhirnya Arine selesai memasangkan dasi pada leher suaminya. Gadis itu juga merapikan krah baju suaminya..,


"Mau kemana honey... beri aku kiss morning dulu. Jangan langsung meninggalkanku.." melihat istrinya membalikkan badan, dengan cepat tangan Elmar merangkul pinggang istrinya.


Hanya dalam beberapa saat, tubuh Arine sudah jatuh dalam pelukan suaminya. Tidak mau menunggu, bibir Elmar sudah ******* bibir Arine, dan keduanya berciuman dalam waktu yang lama.. Tapi karena pentingnya acara yang harus didatangi Elmar, dengan wajah kurang puas akhirnya Elmar melepaskan pelukannya pada tubuh Arine.

__ADS_1


"Seperti biasa honey... ketika kulit kita bersentuhan, ha**sratku padamu akan naik.. Tapi apa daya.." dengan nada serak, Elmar berbisik di telinga Arine.


Terpaan uap hangat dari bibir suaminya, membuat tubuh Arine merinding. Tapi perempuan muda itu sadar posisi, dan kepentingan suaminya, jadi menahan apa yang juga dirasakan dalam tubuhnya.


"Sudahlah kak... masih ada waktu yang lain.. Sekarang kak Elmar bersiaplah.., dan harus segera berangkat ke perusahaan.." tidak mau kata-kata lembut suaminya malah memancingnya untuk berbuat lebih, Arine menggunakan kedua tangannya untuk mendorong dada suaminya sedikit menjauh darinya,


"He... he.. he..., aku pikir cuman aku yang terpancing untuk membuat penyatuan denganmu honey... Insting dan bahasa tubuh istriku ternyata juga lancar sonarnya.." melihat respon istrinya yang juga mulai menahan nafas berat, Elmar tertawa menggoda.


Wajah Arine menjadi malu, merasa merah padam, dan gadis itu menutup kedua wajahnya dengan menggunakan kedua tangan. Kemudian gadis itu berlari dan duduk di kursi di depan meja rias dalam kamar mereka.. Namun Elmar malah usil mengejar perempuan itu. dan memeluk tubuh Arine dari belakang.


"Sesekali datanglah ke perusahaan honey..., aku tunggu nanti siang.." Elmar berbisik kembali di telinga istrinya, dengan masih memeluknya dari belakang.


Arine tidak menjawab, hanya mengangkat wajah ke atas dan beradu pandang dengan suaminya...Laki-laki itu malah tersenyum smirk...


"Jangan banyak berpikir, kamu juga bisa mengerjakan pekerjaan sebagai data analyst di ruang kerjaku honey..." kembali kata-kata suaminya terdengar lembut pada telinga Arine, dan membuat pikiran dan perasaannya menjadi bergelenyar aneh.


"Ya kak..." akhirnya bibir Arine menyetujui permintaan suaminya.


Dari atas kepala istrinya, laki-laki itu kembali memberikan ciuman lembut di bibir Arine, di kening, dan akhirnya dengan langkah berat meninggalkan kamar itu.


*************

__ADS_1


__ADS_2